BANDUNG – Bersamaan dengan aksi mogok masal angkutan umum perkotaan dan taksi konvensional kemarin, Sejumlah titik simpul kemacetan seperti daerah Leuwipanjang, Tegalega maupun Kebon Kalapa justeru lancar. Namun di sejumlah titik kumpul penumpang, terlihat banyak warga yang tak bisa pulang.
Seorang pengendara, Vivi Novianti (29) mengaku, waktu tempuh yang dilalui dari kediamannya di daerah Katapang, Kabupaten Bandung menuju tempat kerja di sekitar Jalan Asia Afrika, Kota Bandung menjadi lebih cepat sekitar 45 menit dari biasanya.
Namun, kelegaan yang dialami Vivi yang biasa menggunakan kendaraan pribadi untuk beraktivitas tidak dirasakan oleh Fitri Latifa (30). Sebagai salah satu pemakai jasa trasnportasi umum, ia harus terkena imbas dengan aksi mogok sopir angkot.
Perempuan berambut pendek yang bekerja di sebuah perusahaan swasta di Bandung itu terpaksa harus berjalan kaki dari daerah Cibaduyut menuju kostannya di daerah Buahbatu saat pulang kerja.
“Sebenarnya tadi ada ojek pangkalan, tapi ketika ditanya ongkosnya, mahal banget. Dia minta uang Rp 100 ribu. Ya sudah mending pulang jalan kaki saja,” katanya.
Di tempat lain, tepatnya di Alun-alun Kota Bandung, salah seorang warga, Yuli Yulianti (27) berpendapat apa yang dilakukan para supir angkutan umum yang melakukan mogok beroperasi tidak salah jika dilihat dari sisi kebebasan menyampaikan pendapat. Namun, yang disayangkan adalah efek yang ditimbulkan adalah mengganggu aktivitas warga secara luas.
Warga lainnya mengaku tidak terima dengan aksi tersebut. Reyhan (35) warga Banceuy Kota Bandung meminta para penyedia jasa transportasi apapun jenisnya tidak egois dan memilih mengorbankan masyarakat.
Seorang pengendara, Vivi Novianti (29) mengaku, waktu tempuh yang dilalui dari kediamannya di daerah Katapang, Kabupaten Bandung menuju tempat kerja di sekitar Jalan Asia Afrika, Kota Bandung menjadi lebih cepat sekitar 45 menit dari biasanya.
Namun, kelegaan yang dialami Vivi yang biasa menggunakan kendaraan pribadi untuk beraktivitas tidak dirasakan oleh Fitri Latifa (30). Sebagai salah satu pemakai jasa trasnportasi umum, ia harus terkena imbas dengan aksi mogok sopir angkot.
Perempuan berambut pendek yang bekerja di sebuah perusahaan swasta di Bandung itu terpaksa harus berjalan kaki dari daerah Cibaduyut menuju kostannya di daerah Buahbatu saat pulang kerja.
“Sebenarnya tadi ada ojek pangkalan, tapi ketika ditanya ongkosnya, mahal banget. Dia minta uang Rp 100 ribu. Ya sudah mending pulang jalan kaki saja,” katanya.
Di tempat lain, tepatnya di Alun-alun Kota Bandung, salah seorang warga, Yuli Yulianti (27) berpendapat apa yang dilakukan para supir angkutan umum yang melakukan mogok beroperasi tidak salah jika dilihat dari sisi kebebasan menyampaikan pendapat. Namun, yang disayangkan adalah efek yang ditimbulkan adalah mengganggu aktivitas warga secara luas.
Warga lainnya mengaku tidak terima dengan aksi tersebut. Reyhan (35) warga Banceuy Kota Bandung meminta para penyedia jasa transportasi apapun jenisnya tidak egois dan memilih mengorbankan masyarakat.
(ant) sumber:pojok jabar







0 komentar:
Post a Comment