Banner 1

Parah! Pedestrian Belum Bersih dari PKL

BOGOR – Pemkot Bogor terus berbenah menjelang akan diresmikannya fasilitas pedestrian (pejalan kaki) Kebun Raya Bogor (KRB). Sejumlah SKPD dikumpulkan dalam rapat di Paseban Surawisesa Balaikota, Kamis (05/01/2017). Salah satu masalah yang menjadi sorotan Walikota Bogor Bima Arya adalah jalur pedestrian yang belum steril......

Menang di #WeLoveCities, Bogor Dinobatkan Sebagai Kota Paling Dicintai di Seluruh Dunia

BOGOR- BOGOR - Setelah melewati proses panjang, akhirnya Kota Bogor meraih kemenangan di ajang #WeLoveCities dan dinobatkan sebagai kota paling dicintai di seluruh dunia dalam ajang yang digelar World Wide Fund for Nature....

PSB Bogor Sukses Gulung Persima Majalengka

BOGOR - PSB Bogor berhasil meraih poin penuh dalam lanjutan Liga Nusantara 2016. Tidak tanggung-tanggung anak-anak Laskar Pakuan menggulung tim asal Jawa Barat lainnya, Persima Majalengka enam gol tanpa balas....

Hadapi Liga Nusantara, PSB Matangkan Persiapan

BOGOR–Skuat PSB terus mengasah kemampuannya dalam rangka persiapan menghadapi Liga Nusantara (Linus) di Depok pada 8-11 Agustus nanti. Bertempat di Stadion Padjajaran, kemarin tim kebanggaan warga Kota Bogor ini melakoni uji tanding melawan kesebelasan Ciomas....

Mantap! Atasi Pemotor Nekat, Walikota Instruksikan Patroli di Jalur Sepeda Otista

BOGOR – Aksi Mahesa Jenar (13) dan Wildan Pratama Putra (13) yang nekat memalang sepedanya di jalur sepeda Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista) yang dilewati pengguna sepeda motor jelas menampar telak Pemkot Bogor.Walikota Bima Arya bahkan mengaku greget jika melewati Jalan Otista. Jalur yang dibangun khusus untuk sepeda seringkali dikuasai sepeda motor, berbeda dengan.......

Showing posts with label peristiwa. Show all posts
Showing posts with label peristiwa. Show all posts

Friday, 16 June 2017

Warga Depok Digegerkan dengan Penemuan Mayat tanpa Identitas Ditemukan


DEPOKWarga Kp. Lio tepatnya di Jalan Wijaya Kusuma, RT07/06, Kelurahan Depok Jaya, Kecamatan Pancoranmas, digegerkan dengan penemuan sesosok jasad pria paruh baya tanpa identitas ditumpukan sampah, Rabu (14/6) pagi.

Warga pun segera menutupi jenazah dengan kain dan melaporkan temuan jenazah ke polisi.
Kapolsek Pancoranmas, Kompol Hamonangan Nadapdap mengatakan jenasah ditemukan warga pejalan kaki sekitar pukul 07:00 WIB. Dimana, warga menemukan jasad korban berada ditumpukan sampah.

Dari hasil pemeriksaan dan identifikasi sementara petugas, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. Diduga korban meninggal dunia karena sakit.

Berdasarkan keterangan saksi-saksi, sebelumnya korban pada Selasa (13/6) sekitar pukul 15:00 WIB, terlihat sedang buang air besar di pinggir rawa.

“Namun diketahui pagi ini (kemarin) korban ditemukan sudah meninggal di lokasi dekat pembuangan sampah. Tidak ada identitas saat petugas melakukan identifikasi pada tubuh korban,” ujarnya.

Nadapdap menambahkan, adapun ciri-ciri jenasah tersebut berbadan kurus, berkulit sawo matang dan mengenakan kemeja hitam. Perkiraan usia sekitar 40 tahun, dan ditemukan dalam posisi terlentang.

“Jenasah kita bawa ke RS Polri Kramat Jati untuk divisum. Saksi yang sudah kita periksa dua orang,”, pungkasnya.


Sumber : POJOKJABAR.com

Penderita Kanker di Bogor Ini Hanya Bisa Pasrah


BOGORKebiajakan tegas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, menonaktifkan kepesertaan bagi warga yang menunggak iuran bulanan, cukup dirasakan dampaknya oleh peserta.

Seperti dialami Ati Sumiyati (57), warga Kampung Babakan, Desa Dayeuh. Lantaran Kartu BPJS-nya sudah dinonaktifkan, kini ia tidak bisa berobat secara gratis di rumah sakit.
Kini, Ati hanya pasrah dengan kangker payudara yang sudah semakin parah dideritanya.

Saat Kartu BPJS-nya masih aktif, janda anak satu ini bisa mendapat perawatan di rumah sakit. “BPJS kelas tiga saya nunggak satu tahun. Jadi tidak dapat lanjut berobat,” ujarnya kepada Radar Bogor (Pojoksatu.id Group), Rabu (14/06/2017).

Hanya karena tagihan Rp2,8 juta, Ati kini hilang kesempatan untuk sembuh. Sebab, tak ada rumah sakit yang mau membantunya. “Saya pasrah. Kalaupun harus mati, saya sudah siap,” lirihnya.


Sumber : POJOKJABAR.com

Wednesday, 14 June 2017

Catherine Bocah Warga Depok yang Hanyut Diciliwung, Berhasil Ditemukan Tak Bernyawa di Jaksel


DEPOK – Setelah melakukan pencarian dengan menyusuri Sungai Ciliwung selama tiga hari. Akhirnya tim rescue gabungan berhasil menemukan korban hanyut, Catherine Mikha Mainake (4) pukul 16.32 WIB di wilayah Kampung Sawah Jakarta Selatan, DKI Jakarta, Senin (12/6).

Sayangnya bocah perempuan berusia 4 tahun tersebut ditemukan tim rescue gabungan dalam kondisi tidak bernyawa dengan posisi terlentang di tepi sungai Ciliwung.

“Alhamdulilah jasad korban sudah ditemukan pukul 16.32 WIB di wilayah Kampung Sawah,” tutur OSC Hidayat kepada Radar Depok (Pojoksatu.id Group), Senin (12/06/2017).

Setelah dievakuasi dari Sungai Ciliwung, akhirnya jasad korban dibawa tim rescue ke Rumah Sakit Pasar Rebo, Jakarta Timur. “Pihak keluarga meminta agar dibawa ke RS Pasar Rebo,” tuturnya.

Ia menjelaskan, Chaterine yang beralamat di Jalan Bakti RT02/02 Kelurahan Depok, Pancoranmas dilaporkan hilang terseret arus Sungai Ciliwung sejak Sabtu (10/6). Saat itu, korban memakai kaos singlet dan celana pendek berwarna kuning dengan ciri-ciri berambut ikal.

Sumber : POJOKJABAR.com

Inalilahi… Penderita Gizi Buruk di Bogogr Ini Wafat, Korban Idap TB Paru Juga


BOGOR – Rosidi (9), penderita gizi buruk yang tinggal di Kampung Pasir Bereum RT 03/04, Desa Jagabaya, Kecamatan Parungpanjang menghembuskan nafas terakhir, Kamis (8/6) malam.  Musababnya, korban juga menderita penyakit tuber (TB) paru.

Ibu tiri korban Intan Susanti (32) mengatakan,  sejak usia tiga tahun Rosidi diurus olehnya hingga ajal menjemput. Saat  divonis menderita gizi buruk, ia secara rutin melakukan pengobatan untuk almarhum.
Bahkan saat dibawa ke puskesmas, ternyata  memiliki penyakit TB paru.

Ia mengaku sangat kehilangan Rosidi, karena sudah hampir empat tahun mengurusnya. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, almarhum tidak dalam kondisi sakit.

Pada malam harinya dia menangis tanpa sebab. Sekitar pukul 11.00 WIB, korban bangun lalu disuapkan makanan olehnya. “Saya cek ternyata dia panas. Setelah saya kasih obat demamnya turun,” tuturnya.

Kemudian, lanjutnya, sekitar pukul 15.00 WIB, almarhum menangis dan tidak mau makan. Itu terjadi karena panas suhu tubuhnya kembali naik.

Sumber : POJOKJABAR.com

Tuesday, 13 June 2017

Hijrah Ramadan di Depok, Pengaruh Lingkungan, Tenang Kala Dengar Azan


DEPOKAgama merupakan keyakinan yang dimiliki seseorang. Dari keyakinan ini, di dukung dengan melakukan ibadah, untuk menjalin hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Banyak proses bagi seseorang dalam menemukan keyakinannya. Ada yang turunan keluarga, dan ada pula yang berhasil menemukan sendiri.


Di Indonesia terdapat enam agama. Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu. Dari ke enam agama tersebut, setiap agama mempunyai cara beribadah yang berbeda. Sehingga jelas, aturan dan sistem kepercayaannya juga berbeda.

Orang yang sudah menganut satu keyakinan, bisa saja berubah karena beberapa hal. Tergantung dari lingkungan kehidupannya. Ada beberapam faktor yang menyebabkan seseorang memeluk suatu agama. Dari keluarga, atau pengaruh lingkungan sekitar. Tergantung bagaimana cara orang tersebut bersosialisasi.

Dalam Islam, seseorang yang pindah (memeluk Islam) disebut mualaf. Artinya, bukan seorang muslim sejak lahir. Radar Depok (Pojoksatu.id Group), punya secarik cerita tentang seorang mualaf.


Sumber : POJOKJABAR.com

Monday, 12 June 2017

Limbah Pabrik Kembali Cemari Sungai di Bogor


BOGORPencemaran air Sungai Cileungsi, kembali terjadi. Kali ini, dugaan pembuangan limbah disinyalir dilakukan PT SKR di Kampung Kedepannya, Desa Tlanjungudik, Kecamatan Gunungputri.

Salah satu warga Kampung Kedepannya, Akbar (33) menerangkan, warga sekitar kali Cileungsi merasakan gejala aneh melihat warna dan bau dari air Sungai. Selain itu, warga yang terkena air berwarna putih kerap kali merasakan gatal-gatal.


“Dulu tidak berwarna dan bau seperti ini. Sekarang sudah tercemar limbah pabrik,” tuturnya kepada Radar Bogor (Pojoksatu.id Group), Kamis (08/06/2017). Namun, mereka tidak mengetahui pasti pabrik mana yang membuang limbahnya ke sungai. “Banyak yang bilang limbah pabrik keramik,” tuturnya.

Saat dikonfirmasi, Kepala Personalia PT SKR, Abuza membenarkan, jika limbah pabrik mereka mirip dengan yang ditemukan warga di Sungai Cileungsi. “Kalau limbah hasil produksi pabrik kami memang berwarna putih,” ujarnya kepada Radar Bogor (Pojoksatu.id Group), Kamis (08/06/2017).

Dia mengaku, kaitan pembuangan sisa produksi dari perusahaan mereka yang memproduksi gelas keramik dan mangkok itu tidak benar. Sebab, mereka tidak membuang langsung limbah ke sungai.

“Saya bekerja sejak 2000 dan tidak pernah ada keluhan dari masyarakat Tlajungudik. Kalau ada warga yang merasa dirugikan, silahkan mengirim surat keluhan kepada perusahaan kami,” terangnya.

Terlebih, perusahaan telah sesuai protap produksi yang umumnya dilakukan pabrik manapun. Selain itu, mereka juga telah mengantongi izin analisis dampak lingkungan (Amdal) dan semua perizinan lainnya.

“Kami lengkap kok perizinan dan Amdal UKL/UPL-nya, jadi apa lagi yang mesti dipersoalkan. Lagian setiap kami buang limbah warna putih itu, sebelum dibuang tak pernah lupa melakukan penyaringan,” tandasnya.


Sumber : POJOKJABAR.com

Friday, 9 June 2017

Dinkes Kota Bogor: Hamil Usia Muda Bahayakan Ibu


BOGOR – Dinas Kesehatan Kota Bogor  meminta kepada orang tua untuk tidak menikahkan anaknya yang masih dini. Sudah banyak kasus bahwa pernikahan dini banyak menimbulkan dampak negatif ketimbang positif.

Data terakhir dinkes, ada15 ibu muda meninggal dunia karena usia yang tidak matang dan penanganan yang kehamilan yang buruk.

Kabid Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Erna Nuraena, mengatakan menikah dini sangat meningkatnya risiko keguguran. Apalagi pengguguran kandungan pada kehamilan yang tidak diinginkan.

“Kurangnya perawatan kehamilan karena kurangnya pengetahuan tentang kehamilan. Terlebih, jika kehamilan mereka tidak mendapatkan dukungan dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

Hal ini bisa sebabkan kurangnya nutrisi yang akhirnya berakibat pada defisiensi zat gizi seperti kurang zat besi (anemia), kalsium, zink,” bebernya.

Selain itu, resiko lainnya, calon ibu besar kemungkinan akan mengalami tekanan darah tinggi. Wanita yang hamil pada masa remaja atau usia yang sangat muda, lebih beresiko mempunyai tekanan darah tinggi dibanding wanita yang hamil pada usia di atas 20-an.

Sumber : POJOKJABAR.com

Thursday, 8 June 2017

Mereka yang Memutuskan Menjadi Mualaf, Terharu Melihat Musola di Bogor Selamat dari Longsor


BOGOR – Hidayah datang melalui berbagai cara pada mereka yang sudah dikehendaki Allah SWT. Seperti yang dialami Ishia Rijadhi, yang memutuskan menjadi mualaf pada 2012 saat usianya menginjak 18 tahun.

Lahir sebagai penganut agama nasrani, sang ayah merupakan seorang pendeta muda. Setelah ayahnya meninggal, Jeje, sapaan akrab Ishia, menjalani hidup sebagai umat kristiani yang taat beribadah didampingi sang Ibu beserta kaka dan adiknya.

Sebelum menjadi mualaf, dulu Jeje merupakan aktivis gereja juga menjadi guru sekolah minggu dan aktif di unit kegiatan mahasiswa Kristen Ouikimene Universitas Pakuan.

“Saat itu saya bertugas mendidik, menyajikan aktivitas yang dapat dilakukan setiap anak di kategori kelasnya masing-masing hingga membuat dan menyiapkan alat peraga untuk menyampaikan firman Tuhan,” ujar perempuan yang akrab disapa Jeje kepada Radar Bogor (Pojoksatu.id Group).

Hidayah didapatkan Jeje (23) saat tergabung dalam kegiatan mahasiswa di Unpak yaitu Korps Sukarela (KSR) yang berada di bawah naungan PMI. Saat itu terjadi bencana longsor di Ciwaringin, ketika itu Jeje mendapat tugas untuk datang ke lokasi bencana.

Sumber : POJOKJABAR.com

Wednesday, 7 June 2017

Keberadaan Gepeng di Bekasi Sulit Dilacak


CIKARANG PUSATKabupaten Bekasi diprediksi akan diserbu gelandangan dan pengemis (gepeng) selama Ramadan. Fenomena ini dianggap sudah menjadi kebiasaan, khususnya saat Ramadan hingga menjelang Idul Fitri.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bekasi, Edi Rochyadi, memperkirakan jumlah gepeng yang akan berdatangan ke Kabupaten Bekasi tidak akan banyak. Menurutnya, jumlahnya hanya lebih dari puluhan orang.
“Tidak sampai ribuan, paling di atas puluhan orang,” katanya.

Pada tahun lalu, Kabupaten Bekasi juga diserbu oleh gepeng. Dan, hasil pendataan Dinsos kebanyakan gepeng tersebut berasal dari daerah tetangga seperti Kabupaten Karawang. Itu dibuktikan dengan identitas yang dikantongi gepeng saat dirazia.

Diperkirakan gepeng yang akan berdatangan ke Kabupaten Bekasi tahun ini juga berasal dari daerah tetangga. Meski demikian, juga ada gelandangan dan pengemis yang merupakan asli Kabupaten Bekasi.

“Kalau warga Kabupaten Bekasi hampir tidak ada ya, tapi kalau dari daerah jauh dia kos di sini, belum tahu juga tapi bisa saja terjadi,” katanya.

Soal jumlahnya, Edi belum bisa menyebut. Karena kata dia, kebanyakan gepeng tersebut bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya dan sulit dilacak. Namun mereka sering berkumpul saat sore hingga malam hari.

“Kalau di pasar itu biasanya adanya pagi di atas jam 10 sudah tidak ada lagi, atau hari Jumat berkumpul di masjid-masjid besar, tapi kalau untuk di lampu merah jarang ya, karena memang di kita lampu merah jarang tidak seperti di Kota Bekasi,” ungkapnya.

“Memang ada di Cifest Cikarang Selatan banyak anak kecil ngamen ke ruko-ruko dan itu biasanya orang tuanya juga, kebanyakan kerjaannya tidak jelas seperti pemulung atau pekerja serabutan,” sambungnya.

Edi rencananya akan berkoordinasi dengan Satpol PP, polisi dan TNI untuk menyisir dan menertibkan gepeng. Lokasi yang bakal disasar seperti SPBU dan pusat perbelanjaan.

“Rencananya minggu-minggu ini kita akan tertibkan, supaya masyarakat menjalankan ibadah puasa dan Idul Fitri bisa berjalan dengan baik,” ucapnya seraya mengatakan gepeng yang terjaring razia nantinya akan dikembalikan ke keluarganya atau dibina.


Sumber : POJOKJABAR.com

Sepekan Hilang Deni Warga Depok Ditemukan Tewas Mengambang di Kali Baru


DEPOKKeluarga Suganda benar-benar terpukul dengan kabar mengejutkan saat sahur, senin (5/6). Mayat berkaos dan celana hitam yang mengambang di  aliran Kali Baru RT1/5 Gang Asem, Kelurahan Ratu Jaya, Cilodong ternyata anaknya Deni Antama yang hilang selama sepekan.

Kuat dugaan, Deni meniinggal karena dilatarbelakangi penyakit epilepsi dan gangguan jiwa.
Kabag Humas Polresta Depok, AKP Firdaus mengatakan, pada Senin (5/6) sekitar pukul 03.00, pihaknya mendapatkan laporan masyarakat ditemukan mayat di aliran Kali Baru RT01/05 Gang Asem Kelurahan Ratu Jaya, Cilodong.

Mendapatkan laporan tersebut, pihaknya langsung mendatangi lokasi, guna melaksanakan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

“Mayat itu mengambang didalam kali menggunakan kaos dan celana panjang hitam,” ujar Fidaus kepada Radar Depok (Pojoksatu.id Group), Senin (05/06/2017).

Setelah dilaksanakan pemeriksaan, sambung Firdaus diketahui mayat tersebut bernama Deni Antama (33) warga RT04/04 Kampung Kebon Duren Kelurahan Kalimulya Kecamatan Cilodong.


Sumber : POJOKJABAR.com

Tuesday, 6 June 2017

Kericuhan di Stadion Patriot, Pemkot Bekasi Minta Panpel Bertanggung Jawab


BEKASIPemerintah Kota (Pemkot) Bekasi menyesalkan terjadinya kericuhan antar suporter dan ulah oknum bobotoh saat laga Bhayangkara FC kontra Persib Bandung Minggu (5/6/2017).

Pemkot juga meminta Panitia Pelaksana (Panpel) bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi di Stadion kebanggaan masyarakat Kota Bekasi tersebut.
“Ini bukan menyayangkan lagi, tapi menyesalkan,” ujar Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bekasi, Muhammad Ridwan kepada Radar Bekasi, Senin (5/6) kemarin.

Akibat ulah suporter, beberapa sudut stadion berkapasitas 35 ribu penonton sedikit ternodai. Beberapa bentuk vandalisme juga terjadi di dinding stadion.

Dia mengatakan, Persib Bandung merupakan tim kebanggaan masyarakat Jawa Barat (Jabar). Kota Bekasi yang masuk dalam teritori Jabar juga secara tidak langsung memiliki hubungan emosional dengan Persib Bandung. Sebab itu, tidak sepantasnya bobotoh membuat kegaduhan di wilayah Jabar.

Kendati demikian, ia juga menilai kericuhan tersebut tidak sepenuhnya dilakukan oleh bobotoh. “Karena kita belum tahu apakah dia benar-benar bobotoh. Kalau benar bobotoh ya sangat merusak citra Persib,” jelas dia.

Ridwan menambahkan, panitia penyelenggara (panpel) pertandingan harus bertanggung jawab dengan peristiwa kericuhan tersebut. Sebab, kata dia, berkaitan dengan keamanan merupakan wilayah koordinasi yang dibangun antara panpel pertandingan dengan petugas keamanan.

“Itu kembali juga kepada penyelenggara. Penyelenggara berarti tidak sigap, malah lebih tepatnya tidak prepare terhadap keamanan,” papar Ridwan.

Sementara, Walikota Bekasi, Rahmat Effendi juga meminta panpel pertandingan bertanggungjawab untuk mengembalikan semua fungsi stadion yang mengalami kerusakan. Menurutnya, Stadion Patriot siapapun boleh menggunakan asalkan harus ada pertanggung jawaban.

“Harusnya jadi penonton yang santun, penonton yang tertib. Ada stadion yang mewah itu yang bagus itu, apalagi didepan ada taman, hindari menginjak taman, hindari merusak estetika, hindari kerusakan aset yang ada di sana,” jelas dia.

Sekedar diketahui, kericuhan sempat mewarnai laga lanjutan Liga 1 antara tuan rumah Bhayangkara FC dan Persib Bandung yang berakhir dengan skor 2-0 untuk Bhayangkara, Minggu (4/6/2017) malam.

Kericuhan terjadi setelah oknum bobotoh yang tak terima tim kesayangannya kalah, merangsek masuk ke lapangan pertandingan. Kondisi itu menyulut suporter lain yang berada di Tribun Barat sehingga pertandingan sempat terhenti beberapa menit.


Sumber : POJOKJABAR.com

Naas… Bocah di Bogor Terbakar Gara-gara Petasan


BOGORPetasan memakan korban pada awal Ramadan. Sabtu (3/6) akhir pekan lalu, Albi (2)  warga Kampung Cipatat RT 01/06, Desa Kiarapandak, Kecamatan Sukajaya mengalami luka bakar pada paha kanannya.

Saat bermain di samping halaman rumah, tiba-tiba dari arah sebelah kanan korban ada petasan yang dinyalakan tetangganya ST (5), mengenai dan masuk ke dalam celana Albi.
Selang beberapa detik kemudian, petasan pun meledak. Korban yang mengalami luka bakar, segera dilarikan ke klinik terdekat untuk menjalani pengobatan.

Orang tua korban Agus (37) menyesalkan adanya peristiwa tersebut. Ia berharap petugas kepolisian segera melakukan tindakan berupa razia petasan di Kampung Cipatat.

“Saya minta lebih maksimal dalam melakukan pengawasan di lapangan terhadap peredaran petasan maupun penggunaanya. Terutama di wilayah pelosok Sukajaya yang dinilai cukup meresahkan masyarakat,” ujarnya kepada Radar Bogor (Pojoksatu.id Group).


Sumber : POJOKJABAR.com

Friday, 2 June 2017

Tidak Bisa Makan, Begini Kondisi Raka Bocah Malang Asal Bogor


BOGORMalang, begitulah nasib seorang bocah laki-laki berusia 16 bulan ini. Namanya Raka Putra Pratama, warga Curug Induk No. 33 RT 003 RW 001, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.

Raka terlahir dari keluarga yang kurang mampu. Bahkan rumahnya pun tidak layak untuk ditempati. Malangnya, kini bocah tersebut tidak bisa makan nasi ataupun bubur.
“Raka tidak bisa mencerna makanan,” kata salah satu tetangganya, Ristha Maulida.


Keadaannya tersebut membuat keluarganya khawatir. Apalagi, setiap makanan yang masuk dalam tubuhnya selalu keluar kembali. Tubuhnya seperti menolak makanan yang masuk. Menurut Ristha, Raka kerap menangis setiap hari karena hal yang dideritanya tersebut.

Ia mengatakan, pihak keluarga telah membawa Raka ke Puskesmas dan menyatakan bahwa Raka harus dilakukan CT SCAN. Sayang, orang tua Raka tak memiliki cukup uang untuk melakukan hal tersebut.

“Orang tuanya tidak mampu untuk pengobatan Raka. Berat badannya saja hanya 7,6 kilogram,” terangnya.

Sebagai tetangga, ia berharap Raka dapat kembali sehat dan tumbuh seperti anak pada umumnya.
“Mohon doanya buat Raka. Kasihan dia, semoga bisa segera ditangani,” pungkasnya.


Sumber : POJOKJABAR.com

Tuesday, 30 May 2017

Penderita Tumor Otak di Desa Citeureup Bogor Terabaikan


BOGOR – Nasib memprihatinkan dialami Salmini (52), istri Daud Dumyati (53). Warga Kampung Kamurung, Desa Citeureup, ini mengidap tumor otak.

Penyakit yang sejak setahun diidapnya membuatnya tak mampu bergerak dan hanya terbaring lemas di tempat tidur.
Kondisi ini awalmya diketahui Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM).

Kini, Salmini tengah didampingi untuk mendapatkan perawatan. Sekretaris IPSM Kecamatan Citeureup, Henovalina menerangkan, sebelumnya mereka dapat laporan Kader IPSM Citeureup.

Menurutnya, kondisi memprihatinkan ini sebelumnya tak diketahui pemerintah desa maupun kecamatan. “Saya tak habis pikir kondisi ini tidak diketahui pemerintah desa. Saya yakin ini terjadi keterlambatan penanganan,” ujarnya kepada Radar Bogor (Pojoksatu.id Group), Senin (29/05/2017).

Tak hanya keterbatasan dana, pasutri ini juga hidup di rumah tidak layak huni (RTLH). “Kami prihatin melihat kondisi keluarga Daud. Selain istrinya sakit, rumahnya sangat memprihatinkan dan sudah tidak layak huni,” terangnya.

Sumber : POJOKJABAR.com

Peluru Jenis FN Nyasar Kerumah Warga Depok


DEPOK – Warga Depok dikejutkan dengan proyektil peluru menyasar ke permukiman warga. Entah dari mana asalnya, proyektil berjenis FN mengenai kendaraan mobil dan atap rumah milik Iswara Nugraha yang berada di Jalan Danau Batur VI No201 Kelurahan Abadijaya, Sukmajaya Minggu (28/5).

Iswara Nugraha mengatakan, Kamis (25/5), dia menemukan proyektil peluru yang belum diketahui asalnya berada didalam mobil Toyota Vios yang berada di garasi rumah.
Dia memperkirakan, asal peluru tersebut dari atas hal itu diperkuat dari bolongnya atas plafon dan asbes yang rusak terkena proyektil peluru tersebut.

“Saat saya buka pintu mobil dan masuk kedalam, saya dikejutkan dengan adanya proyektil peluru didalam mobil,” ujar Iswara.

Iswara menjelaskan, melihat keberadaan peluru tersebut dia mencoba mengecek seluruh bagian mobil. Hasilnya, bagian atas mobil ditemukan bolongan akibat tertembus peluru berjenis FN.

Masih penasaran, Iswara mencoba mengecek atap rumahnya dan menemukan hal yang sama. Yakni, plafon dan asbes rumah ditemukan bolongan akibat jalur peluru.

Sumber : POJOKJABAR.com

Geger! Mayat Pria Ditemukan di Bogor, Ini Lokasinya


BOGORSesosok mayat ditemukan di Kampung Peuteuy RT 05/03, Desa Kalong Sawah, Jasinga, Kabupaten Bogor Senin (29/5/2017) pagi. Penemuan tersebut sontak menggemparkan warga yang ada.

Mengetahui adanya mayat, kepala Desa Kalong Sawah, Engkus Kosasih melaporkan ke Polsek Jasinga. Saat awal ditemukan, mayat diketahui tidak mengantongi identitas. Sehingga polisi berusaha untuk melakukan penyelidikan terhadap identitas mayat tersebut.


Dari hasil penelusuran diketahui korban merupakan keluarga dari Nana Supriatna, warga Kampung Garisul RT 05/07, Desa Kalong Sawah, Jasinga.

“Polisi mengevakuasi mayat ke Puskesmas Jasinga untuk divisum,” kata Kasubag Humas Polres Bogor, AKP Ita Puspita Lena.

Dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan kekerasan baik dari benda tajam maupun benda tumpul. Tidak ditemukan juga luka di tubuh korban. Diduga korban meninggala akibat penyakit yang dideritanya.

Sementara itu, pihak keluarga mengikhlaskan kepergian korban dan menyatakan untuk tidak menuntut siapapun atas meninggalnya korban.
“Jenazah kami kembalikan kepada keluarga untuk dikebumikan,” pungkasnya.


Sumber : POJOKJABAR.com

Tuesday, 16 May 2017

Perjuangan Seorang Ibu Miskin yang Ingin Melahirkan, Diminta Uang oleh Puskesmas


SUKATANISeorang ibu bernama Rani Damayanti harus berjuang keras agar bisa selamat melahirkan. Bukan hanya nyawa taruhannya, tapi juga seluruh materi yang ia miliki.

Usia kandungan Rani sudah sembilan bulan. Pada April 2017 kemarin, ia pun melahirkan seorang anak laki-laki dengan selamat. Namun di balik persalinannya itu ada kisah yang menyedihkan.


Ketika Rani mulai merasakan mulas, ia bergegas ke puskesmas setempat ditemani ibunya. Sementara suaminya, sudah tidak ada kabar sejak beberapa bulan lalu dan tidak tahu kalau istrinya akan melahirkan.

Bermodalkan KTP ia mendaftar ke puskesmas. Sebagai warga miskin, ia berharap proses persalinannya gratis alias tidak dipungut biaya.

Namun ternyata api jauh dari panggang. Pihak puskesmas tetap minta biaya persalinan sebesar Rp600 ribu. Karena saat itu Rani akan melahirkan, ia pun terpaksa menyanggupi permintaan puskesmas soal biaya persalinan.

Yang ada di pikiran benaknya saat itu ialah anaknya dan ia selamat setelah persalinan. Sedangkan untuk membayar biaya persalinan akan diusahakan setelahnya.

“Saya tidak punya uang, jadi harus bayar Rp600 ribu,” katanya, beberapa waktu lalu.

“Saya tidak paham, maklum saja orang tidak punya,” tambahnya.


Sumber :  POJOKJABAR.com

Warga Depok Temukan Mayat Bayi di Ciliwung


DEPOKMaksud hati ingin mendapatkan ikan. Wandi dan kawan-kawan malah menemukan mayat bayi berjenis kelamin perempuan yang mengambangkan di Sungai Ciliwung, Sabtu (13/5).  Mayat bayi dibungkus karung itu ditemukan, di RT3//11 Kelurahan Ratu Jaya Kecamatan Cipayung.

Seorang saksi mata, Wardi (40) mengatakan, mayat bayi berjenis kelamin perempuan dia temukan saat tengah mencari ikan di Sungai Ciliwung. Saat mencari ikan, dia tidak menduga akan menemukan mayat bayi yang mengambang di aliran sungai yang menjadi tempat dia mencari ikan.


“Kejadiannya menjelang sore, sekitar pukul 15:00 WIB saya melihat mayat bayi,” ujar Wardi kepada Harian Radar Depok (Pojoksatu.id Group), Minggu (14/05/2017).

Wardi menjelaskan, ditengah asik mencari ikan, dia melihat bungkusan karung yang didalammnya seperti boneka. Dikarenakan curiga dan ingin memastikan isi karung tersebut, Wardi berusaha mengambil karung tersebut yang menyangkut diantara tumpukan sampah.

Saat dibuka isinya, bayi. “Saat melihat isinya mayat bayi, saya memberitahukan warga sekitar dan pihak kepolisian,” terang Wardi.

Kabag Humas Polresta Depok, AKP Firdaus menuturkan, pada Sabtu (13/5) salah seorang pencari ikan menemukan mayat bayi perempuan di aliran Sungai Ciliwung.

Setelah mendapatkan laporan dari masyarakat, pihak Polsek Pancoranmas dan Polresta Depok mendatangi lokasi guna mengindentifikasi mayat bayi perempuan tersebut.

“Mayat bayi ditemukan masih terbungkus karung beras yang tersangkut antara tumpukan sampah,” ucap Firdaus.

Firdaus mengatakan, bayi perempuan diperkirakan baru satu hari dibuang dari orang tua yang tidak bertanggung jawab. Hal itu terlihat, dalam tubuh bayi perempuan masih menempel tali pusar.

Guna menindaklanjuti penemuan tersebut, pihaknya telah meminta keterangan sejumlah saksi. “Saksi sudah kami mintai keterangan, kami akan menyelidiki pelaku pembuang bayi perempuan yang tak berdosa,” tutup Firdaus.


Sumber : POJOKJABAR.com

Friday, 12 May 2017

KGP Tersangka Penyebar Kebencian Rasisme, Kediaman KGP di Bogor Sepi


BOGORPolisi terus meringkus para penyebar ujaran kebencian berbau SARA di media sosial. Selasa (9/5), giliran paranormal Ki Gendeng Pamungkas yang menjadi sasaran.

Warga Jalan Tanah Merdeka Perumahan Bogor Baru, Blok D IV No. 45 Kelurahan Tegal Lega, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, itu digelandang petugas ke Mapolda Metro Jaya, dengan status tersangka.


SEPANJANG hari Kamis (11/05/2017), kediaman pria bernama asli Isan Massardi itu tampak sepi. Pintu pagar dan jendela rumah tertutup rapat. Tak ada jawaban, meski Radar Bogor berulang menggoyang lonceng rumah sembari mengucap salam.

“Nggak ada orangnya. Memang mobilnya di simpan di sini, tapi tadi ada yang keluar naik ojek online,” tutur salah seorang sekuriti perumahan yang enggan dikorankan.

Menurut lelaki bertato itu, sejak penangkapan Selasa (9/5) lalu, tidak ada aktivitas menonjol di kediaman Ki Gendeng Pamungkas (KGP). Di rumah itu, kata dia, KGP tinggal bersama keluarga. “Mungkin nanti malam baru pada pulang. Tadi sejak pagi kosong,” ujar pria bertato tersebut.


Sumber : POJOKJABAR.com

Himbau Laka di Jalur Puncak Bogor dengan Spanduk Kocak


BOGOR – Berbagai cara dilakukan untuk menekan angka kecelakan di jalur Puncak.  Salah satunya memasang spanduk bernada himbauan kocak.

Tak sedikit para pengendara berhenti mengabadikan di sepanjang Tanjakan Selarong. Ada enam spanduk himbauan lalu lintas dengan kata-kata tak biasa.
Salah satunya berbunyi “Jatuh di aspal tidak seindah jatuh cinta. Yakiiin itu…!”.

“Ini lucu. Banyak spanduk kirain iklan apa. Pas dibaca ternyata himbauan lalu lintas,”ujar Sherli Ayunda (21) warga RT 01/03, Desa Cipayung Girang, Kecamatan Megamendung kepada Radar Bogor (Pojoksatu.id Group), Selasa (09/05/2017).

Sementara itu, Kanit Laka Polres Bogor Iptu Asep Saepudin mengatakan, spanduk-spanduk tersebut sudah menyebar di sepanjang jalur puncak. “Kami pasang di lokasi-lokasi rawan kecelakaan.

Termasuk Tanjakan selarong, Kecamatan Megamendung ini,”tukasnya.

Sebelumnya, papan rambu peringatan juga dipasang di jalur Puncak. Seperti larangan melintas bagi kendaraan dengan roda enam atau lebih. Hingga truk yang membawa muatan seperti sembako dan BBM.

Sumber : POJOKJABAR.com