Banner 1

Parah! Pedestrian Belum Bersih dari PKL

BOGOR – Pemkot Bogor terus berbenah menjelang akan diresmikannya fasilitas pedestrian (pejalan kaki) Kebun Raya Bogor (KRB). Sejumlah SKPD dikumpulkan dalam rapat di Paseban Surawisesa Balaikota, Kamis (05/01/2017). Salah satu masalah yang menjadi sorotan Walikota Bogor Bima Arya adalah jalur pedestrian yang belum steril......

Menang di #WeLoveCities, Bogor Dinobatkan Sebagai Kota Paling Dicintai di Seluruh Dunia

BOGOR- BOGOR - Setelah melewati proses panjang, akhirnya Kota Bogor meraih kemenangan di ajang #WeLoveCities dan dinobatkan sebagai kota paling dicintai di seluruh dunia dalam ajang yang digelar World Wide Fund for Nature....

PSB Bogor Sukses Gulung Persima Majalengka

BOGOR - PSB Bogor berhasil meraih poin penuh dalam lanjutan Liga Nusantara 2016. Tidak tanggung-tanggung anak-anak Laskar Pakuan menggulung tim asal Jawa Barat lainnya, Persima Majalengka enam gol tanpa balas....

Hadapi Liga Nusantara, PSB Matangkan Persiapan

BOGOR–Skuat PSB terus mengasah kemampuannya dalam rangka persiapan menghadapi Liga Nusantara (Linus) di Depok pada 8-11 Agustus nanti. Bertempat di Stadion Padjajaran, kemarin tim kebanggaan warga Kota Bogor ini melakoni uji tanding melawan kesebelasan Ciomas....

Mantap! Atasi Pemotor Nekat, Walikota Instruksikan Patroli di Jalur Sepeda Otista

BOGOR – Aksi Mahesa Jenar (13) dan Wildan Pratama Putra (13) yang nekat memalang sepedanya di jalur sepeda Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista) yang dilewati pengguna sepeda motor jelas menampar telak Pemkot Bogor.Walikota Bima Arya bahkan mengaku greget jika melewati Jalan Otista. Jalur yang dibangun khusus untuk sepeda seringkali dikuasai sepeda motor, berbeda dengan.......

Showing posts with label metropolis. Show all posts
Showing posts with label metropolis. Show all posts

Monday, 30 April 2018

Obat Keras Masih Dijual Bebas di Gunungsindur


Obat-obatan berkategori G atau obat keras masih beredar bebas di Gunungsindur, Kabupat­en Bogor. Padahal, obat jenis ini dilarang dijual bebas dan peng­gunaannya harus ber­da­sar­­­kan resep dokter. Fakta itu terung­kap dalam razia miras yang dila­kukan Polsek Gunungsin­dur bersama Satpol PP Ke­camatan Gunungsindur, belum lama ini.

”Selain miras, kami juga m­e­ne­mukan obat-obatan jenis Tra­madol sebanyak 45 butir, Eximer 200 butir, Tryhexy­phenidyil 139 butir, dan uang hasil transaksi sekitar Rp350.000,” ujar Kapolsek Gu­nung­sin­dur Kom­pol Hariyanto.

Hariyanto menuturkan, obat-obatan yang didapat dari ra­zia untuk menutup peredaran mi­ras oplosan serta menyam­but bulan Ramadan tersebut, berasalah dari salah satu wa­rung ponsel di wilayah Kam­pung Kebonkopi RT 03/ 07, De­sa Pengasinan. Penjualnya berinisial S (26).

Sementara, razia ini menyasar wilayah yang masuk zona merah miras dan obat-obatan terlarang

”Pelaku akan kami sangkakan dengan Pasal 197 UU RI No­mor 36 Tahun 2009 tentang Kese­hatan dengan ancaman pidana lima tahun. Kami juga mengim­bau kepada masya­rakat untuk tidak menjual miras jenis apa pun, apalagi obat-obat yang ter­larang,” pungkasnya.


Sumber : radarbogor.id

Kota Bogor belum Terapkan “Door to Door”


Bagi warga penunggak pajak kendaraan bermotor, kini harus bersiap jika didatangi petugas Badan Pendapatan Daerah. Pasalnya, bagi yang menunggak dalam kurun waktu lama, akan ditagih dalam bentuk kiriman surat tunggakan pajak ke rumah-rumah. Tapi tenang dulu, di Kota Bogor hal itu belum diberlakukan. Berbeda dengan di Kabupaten Bogor.

“Sementara belum ada perintah. Karena selama ini pajak kendaraan itu pajak provinsi bukan pajak kota dan kabupaten,” ujar Sekretaris Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Bogor, An An Andri Hikmat kepada Radar Bogor, kemarin.

Menurutnya, Kota Bogor akan meninjau ulang kabar adanya instruksi penarikan pajak kendaraan melalui “door to door” dari Badan Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Barat. Namun, sampai saat ini belum ada instruksi jelas.

Meskipun ada instruksi “door too door” bagi wajib pajak (WP), kata An An, Bapenda Kota Bogor akan lebih dulu melihat kebija­kan tersebut. “Nanti kami lihat seperti apa kebijakannya,” katanya.

Meski begitu, An An menje­laskan, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Gubernur No 33 Tahun 2013 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perda dan Pergub No 13 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah untuk Jenis Pungutan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), pasal 18 ayat 1, pembayaran PKB dapat dilakukan di Kantor Bersama Samsat, samsat outlet, samsat drive thru, samsat keliling, samsat elektronik (e-Samsat) dan/atau tempat lainnya yang ditentukan dinas.

Saat ini sistem pembayaran pun sudah menggunakan e-Samsat yang diakomodir Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2015 tentang Penyele­nggaraan Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap Kendaraan Bermotor. Di dalam pasal 22 ayat 1 disebutkan, peningkatan kualitas pelayanan Kantor Bersama Samsat dapat dilakukan dengan membentuk unit pembantu.

Door to door atau Samsat delivery order merupakan satu dari enam pelayanan yang dilakukan Samsat. Selain itu, ada samsat pembantu, samsat corner, samsat drive thru, dan pengembangan samsat lain sesuai dengan kemajuan teknologi dan harapan masyarakat.


Sumber : radarbogor.id

Friday, 27 April 2018

Tegas Awasi Proses Balling Pohon


Pemerintah Kota Bogor diminta tegas mengawasi proses balling transplanting pohon, yang ditebang di depan proyek Transmart, Jalan KH Abdullah Bin Nuh. Pasalnya, para pengembang kerap abai setelah memindahkan pohon dari lokasi semula.

Pemerhati pohon lingkungan dan lanskap pada Institut Pertanian Bogor, Prof Hadi Susilo Arifin menjelaskan, Kota Bogor memiliki Perda RTRW turunan dari Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Perencaaan Tata Ruang. Selama pembangunan berlangsung di zona yang benar, maka tidak jadi permasalahan jika bukan area terbuka hijau.

“Jika di sana ada tanaman, etisnya tanaman itu tidak dibunuh tetapi dipindahkan. Dengan menggunakan transplanting, salah satu metodenya dengan balling. Akar dibentuk bola dan dipindahkan,” paparnya.

Lebih lanjut Hadi menjelaskan, penebangan dan transplanting pohon memiliki kriteria dari mulai usia dan jenis pohon. Pohon juga tidak boleh ditebang. Misalnya, pohon itu sudah dewasa, tidak bisa diganti dengan satu pohon atau dengan berapa pohon. “Konsekuensinya adalah memindahkan dengan trans­planting untuk mengamankan pohon agar tidak mati,” jelasnya.

Kedua, tutur Hadi, pohon memiliki nilai sejarah oleh siapa ditanam, dan hasil gotong royong masyarakat. Jika sangat berarti maka tidak boleh ditebang. Terakhir, yakni pohon harus dari jenis yang berusia panjang. Pohon ini lebih baik dipindahkan daripada ditebang.

Namun di perkotaan, ada pohon yang tumbuh cepat dan berusia pendek. Misalnya, 10 tahun sudah mati, saat delapan tahun dipindahkan hanya bertahan selama dua tahun. Pohon jenis ini, kata Hadi, dari segi keilmuan, jika diterapkan transplanting akan memakan biaya mahal. Sementara persentase hidupnya berisiko saat baru dipindah akan mati.

“Ini menjadi boros, jadi harus cermat dan tidak boleh gegabah. Ada metode lain, misalnya satu batang diganti dengan jumlah lebih banyak. Misal diganti 1.000 pohon. Menanamnya pun tidak asal jadi,” ucapnya.

Dalam konsekuensi ini, pengembang perlu diawasi. Artinya tidak sekadar meng­ganti, tapi juga merawat dan memilih lokasi tanaman serta harus tumbuh dengan benar. Sehingga ada kontrak persetu­juan antara pengem­bang dan pemerintah.

“Jadi, tidak semata-mata menebang pohon memberi dampak apa. Jika merusak harus diberi masukan. Jika tidak setuju ditebang, maka diberi solusi transplanting,” jelasnya.

Ketua Yayasan Hutan Lestari Indonesia (YHLI) Ardedi Tanjung, menilai pemerintah harus mengawasi proses balling yang dilakukan pengembang. Artinya, jika ada 10 pohon ditumbangkan maka harus ada 10 pohon yang dipindahkan.

“Biasanya, pengusaha itu setelah balling diabaikan. Kan sayang, harusnya diawasi,” ujarnya kepada Radar Bogor, kemarin.

Lanjut Ardedi, perilaku tersebut menjadi pembicaraan di komunitas peduli lingku­ngan. Dalam pembahasannya, kata dia, solusinya adalah mem-balling lebih dulu sebelum ditebang.

“Banyak komunitas mempertanyakan, kenapa banyak pohon ditebang untuk pembangunan? Seperti LRT, di tol, dan mal,” katanya.

YHLI meminta pemerintah berkomitmen tegas dalam mengawasi lingkungan.

Aktivis Forest Watch Indonesia (FWI), Anggi Putra Yoga menilai, seharusnya Bogor memberi sumbangsih peng­galakkan hutan. Dalam hal ini, menghutankan kembali wilayah yang kritis.

Menuru­tnya, perlu ada penataan di perkotaan yang terinternalisasi dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD). Jika sudah terinter­nalisasi, kata dia, seharusnya tidak ada sikap pemerintah yang merusak pohon.

Terpisah, Kasi Pemeliharaan Taman pada Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperum­kim) Kota Bogor, Erwin Gunawan menjelaskan bahwa membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat pekan untuk bisa menanam kembali 18 pohon yang kini dikarantina. “Karantina untuk jenis pohon kenari lebih lama dari pohon lainnya, kurang lebih tiga minggu sampai empat minggu. Treatment-nya disimpan di tempat teduh. Disiram dan diberi obat perangsang akar, agar dapat segera ditanam,” jelasnya.

Erwin mengaku belum tahu pohon-pohon tersebut akan ditanam di mana nantinya. Namun, sudah ada beberapa opsi yang disiapkan pihak Pertamanan. “Itu bisa di sekitar kanan-kiri BORR yang sudah dibangun, sebelum lampu merah perempatan Lotte. Bisa kalau akarnya sudah tumbuh kembali dan sudah adaptasi,” papar Erwin.

Ia menjelaskan, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi pemilik proyek sebelum menghilangkan pohon-pohon di jalur hijau. Persyaratan tersebut, antara lain, melampirkan dokumen-dokumen perizinan seperti fotokopi KTP, siteplan, Izin Mendirikan Bangunan (IMB), sartek lalin, dan lain-lain. “Mengacu kepada nilai ekologi atau lingkungan dari manfaat keberadaan pohon tersebut. Berdasarkan referensi dari daerah-daerah lain dan hasil kajian,” tukasnya.

Saat wartawan koran ini melihat langsung pohon-pohon yang dikarantika ke lokasi pembibitan pohon di Ciremai Ujung, Kecamatan Bogor Utara, ke-18 pohon masih dibiarkan menumpuk. Masing-masing akar dari pohon dibungkus karung agar setelah dikarantina bisa kembali ditanam.

Seperti diungkapkan Koordinator Pembibitan Kota Bogor, Hendra Irawan. Dia mengaku baru mengetahui keesokan harinya, setelah 18 batang pohon itu diletakkan pada Senin (23/4) sore. “Yang karantina masih belum tahu, karena baru Senin sore adanya. Enggak ada kabar dulu sebelumnya,” jelasnya saat ditemui Radar Bogor, kemarin.

Ia bersama petugas lainnya diminta merawat batang-batang pohon hasil balling dari tepian Jalan KH Abdullah Bin Nuh itu. Meski baru pertama kali, ia optimis bisa merawat pohon-pohon yang dianggap­nya tidak mati itu, sampai bisa ditanam kembali. “Disuruh merawat. Dikasih obat supaya tidak mati, disemprot di bagian akar. Walaupun keadaan seperti ini tapi dia akarnya hidup,” terangnya.


Sumber : radarbogor.id

Disdik Perketat Aturan PPDB 2018


Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor mulai menyosialisasikan aturan penerimaan peserta didik baru (PPDB) untuk tingkat PAUD hingga SMP se-Kota Bogor.

Kasubag Perencanaan dan Penataan Disdik Kota Bogor, Jajang Koswara menegaskan, mengacu pada Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017, PPDB tahun ini akan lebih ketat. Khususnya terkait kuota dan zonasi.

“Poinnya, saat ini ada konsep penerimaan siswa baru yang mengacu berdasarkan Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017, tahun lalu belum tercatat sistem zonasi,” katanya kepada Radar Bogor.

Untuk PPDB 2018, semua jalur, baik akademik maupun non-akademik itu sama, ditambah dengan zonasi. Manfaat zonasi ini, kata Jajang, salah satunya adalah untuk menghilangkan sekolah eksklusif, atau sifatnya pemerataan. Nantinya, sistem zonasi itu akan mengacu kepada alamat anak yang tertera di kartu keluarga.

Makanya, kata Jajang, Disdik Kota Bogor sendiri melakukan rapat dengan stakehokder lainnya, seperti Disdukcapil, Disbudpar, KONI, PMI, dan Dewan Pendidikan.

“Pada prinsipnya konsep ini sangat diapresiasi,” tambah Jajang.

Selama ini, Jajang membenarkan bahwa keberadaan SMP belum merata di setiap kelurahan.


Sumber : radarbogor.id

Thursday, 26 April 2018

Warga Sempur Ngadu ke DPRD


Perwakilan warga yang menolak apartemen di kawasan Sempur mendatangi DPRD Kota Bogor, kemarin. Kedatangan mereka untuk melaporkan petisi yang sudah dibuat dan dibagi-bagikan pada pengunjung Taman Sempur, Minggu (22/4).

“Aspirasi kami sampaikan karena ada beberapa hal yang sudah jelas dalam petisi,” ujar juru bicara warga Sempur, Tonny Saritua Purba di ruang Wakil Ketua DPRD Kota Bogor Heri Cahyono, kemarin (24/4).

Kondisi Sempur sejatinya memang indah dan nyaman setelah disulap menjadi salah satu pusat ikon Kota Bogor. Namun, kata Tonny, di sisi lain justru menimbulkan masalah baru. Salah satunya, kemacetan dan tidak tersedianya lahan parkir. Solusi dari mulai stiker kendaraan warga Sempur pun hanya berjalan satu bulan. Dengan alasan kuat, warga meminta wakil rakyat bisa menghentikan megaproyek PT Dubai Indonesia Investindo.

“Ada dasarnya kami menolak. Masalah kesemrawutan parkir Sempur belum ada solusi. Ditambah lagi kehadiran apartemen tiga tower berisi 406 ruangan,” katanya. Sementara parkir yang disediakan apartemen, hanya cukup 200 kendaraan.

Kondisi lain, misalnya ketersediaan air. Di lokasi ini akan dibuat sumber air lokal dan pemangkasan hutan kota dari lahan yang disewakan pemkot. Kondisi ini dikhawatirkan warga akan mendatangkan bencana.

“Tanah pengembang 3.000 ditambah 2.000 meter apa cukup membangun tiga tower. Topografi ada sungai pepohonan, ini kalau ada hujan bisa longsor karena pertebingan,” cetusnya.

Dalam pertemuan itu, lanjut Tonny, warga tidak pernah menyetujui. Bahkan diduga ada unsur manipulasi. Pasalnya, saat rapat, daftar hadir warga disulap pengembang menjadi daftar persetujuan. Oleh karena itu, warga menuntut agar dewan mengevaluasi pemerintah. “Warga sama sekali belum menyetujui adanya amdal. Kami memberikan petisi ini agar ditindaklanjuti,” cetusnya.

Menanggapi laporan tersebut, Heri Cahyono menyampaikan, akan segera mendisposisi ke Komisi I dan Komisi III. Permasalahan ini, nantinya dibahas secara detail. Termasuk audiensi perihal izin pembangunan apartemen ke Pemkot Bogor bersama warga.

“Nah, beberapa aspirasi dari warga Sempur tadi sudah dicatat semua, bahkan kami sudah menerima satu bundel petisi berisi penolakan pembangunan tersebut yang ditandatangani 900 warga Sempur,” kata Heri.

Dalam pertemuan tersebut, Heri berjanji akan menindak serius laporan warga.

“Diprediksi juga akan terjadi kerusakan lingkungan yang hebat di sana. Penebangan pohon juga kerusakan lingkungan lainnya,” cetus politisi dari Fraksi Golkar ini.

Nantinya, kata Heri, untuk memenuhi tututan warga, akan ada audiensi dan dijawab pihak pengembang. Penolakan ini, menurutnya, kembali pada nilai pembangunan. Yakni harus punya dampak manfaat bagi warga Kota Bogor.Maka, perizinan warga pada pembangunan bernilai penting.

Menurut Heri, pemerintah bertugas mengatur dampak pembangunan bagi masyarakat. Termasuk, pemahaman pembangunan kepada warga. Tujuannya, agar persepsi dan perbedaan pendapat antara warga dan investor tidak berbeda tafsir dalam perencanaan pembangunan.

“Nah, di situlah makanya peraturan daerah terkait izin bangunan itu disertakan izin warga,” tegasnya.

Pada berita sebelumnya, Finance Direktur PT Dubai Indonesia Investindo, Gusti Ngurahsaputra mengungkapkan jika pihaknya sejak awal sudah mendapatkan izin warga.

Dia mengatakan bahwa sejak awal pihaknya melihat potensi yang ada di kawasan Sempur dengan penampilan Hotel Sempur yang lama.

“Melihat potensi yang ada, ada masukan ke kami bahwa hotel lama di Sempur Park seperti itu, sehingga tidak mencerminkan Bogor yang indah,” jelasnya kepada Radar Bogor.

Dengan mempertimbangkan berbagai sisi, serta adanya jaminan investasi yang bagus dan perizinan mudah, pihaknya pun memutuskan untuk membangun apartemen tersebut.

“Tentu kami datang tidak tiba-tiba dan maunya ada perilaku spesial. Kami juga masuk dengan melihat dan mengikuti aturan-aturan yang berlaku,” tambah Gusti.

Pihak PT Dubai pun akhirnya maju untuk mengurus berbagai keperluan awal. Mulai dari akuisisi hotel dengan jaminan Wali Kota Bima Arya waktu itu, mereka lantas bertransaksi jual-beli di notaris. Untuk mengurus balik nama, yang tentunya memerlukan izin pemanfaatan penggunaan tanah (IPPT). “IPPT itu juga sudah kami ajukan dan selesai. Sekarang tanah tersebut sah milik kami,” tegasnya.


Sumber : radarbogor.id

Pasokan Gas Bertambah hingga 50 Persen


Jelang Ramadan, Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) berencana menambah pasokan gas hingga 50 persen. Hal itu disampaikan Ketua DPC Bogor Hiswana Migas, Asep Erry Junaedi, saat bakti sosial di posko pengungsian korban kebakaran di Ponpes Daarul Ulum, Kecamatan Bogor Timur, kemarin (24/4).

Asep menjelaskan, total gas yang dipasok sekitar 27 ribu tabung per bulan, pada bulan Ramadan akan ditingkatkan sekitar 50 persennya, yakni menjadi sekitar 40.500 tabung.

“Mei ini kita ditambah alokasi 50 persen, baik kota maupun kabupaten. Biasanya kalau kota sekitar 27 ribu, kabupaten 4 juta,” jelasnya kepada Radar Bogor usai membagikan sembako.

Permintaan tersebut dilayangkan pada Pertamina guna mengantisipasi adanya masalah kelangkaan gas di bulan Ramadan. ”Insyaallah tidak ada kelangkaan. Kalau ada yang menimbun akan berurusan dengan pihak kepolisian. Jadi, polisi juga harus gerak cepat,” terangnya.

Untuk itu, ia berharap harga tabung gas elpiji 3 kg di pangkalan tetap sama, yaitu Rp16 ribu per tabung.

Dalam kesempatan itu, ia menyalurkan bantuan dari rekan-rekan DPC Bogor Hiswana Migas. Asep mengatakan bahwa teman-temannya terketuk untuk menyalurkan bantuan bagi korban kebakaran di Kelurahan Baranangsiang Kecamatan Bogor Timur pada awal April lalu.

“Mudah-mudahan ban­tuan ini dapat meringankan beban saudara-saudara kita di sini. Tetap bersabar dan tawakal menghadapi cobaan ini,” kata Asep.

Ia mengatakan bahwa dana yang terkumpul dari hasil patungan rekan-rekannya disalurkan dalam bentuk bantuan dan uang tunai.


Sumber : radarbogor.id

Hati-hati, Perampokan Bermodus Ban Kempes


Kewaspadaan terhadap aksi kejahatan harus ditingkatkan warga Bogor. Pasalnya, jelang puasa, aksi perampokan dengan kekerasan kembali terjadi.

Aksi perampokan dengan berbagai modus tersebut, tidak hanya dilakukan di malam hari dan di jalanan sepi. Salah satunya, modus ban kempes di Jalan Sholeh Iskandar (Sholis) depan Ramayana Bogor Square, Senin (23/4) pukul 19.00 WIB. Pelaku menodongkan celurit, setelah korban turun memeriksa ban kendaraannya yang kempes.

Lalu, pelaku juga meminta sejumlah barang berharga. Peristiwa yang dialami korban tersebut, sempat viral di grup-grup WhatsApp kemarin (24/4).

Sebelumnya, aksi curat dengan modus ban kempes dan berkedok ojek online (ojol) juga sempat menimpa salah satu warga yang melintas di Jalan Darul Quran, Kecamatan Bogor Selatan. Beruntung, warga yang berprofesi sebagai dokter gigi ini tidak serta-merta mengiyakan sang informan terkait ban mobilnya yang kempes.

“Saat itu saya masih berpikir, kok bisa ada empat motor dengan jaket ojol bersamaan ada di situ. Sungguh mencu­rigakan. Ditambah tingkah si ibu yang terlalu lebay, yang membuat saya waspada,” ungkap drg Iik Yani Hidayati.

Sementara itu, Kabag Humas Polresta Bogor Kota AKP Yuni Astuti membenarkam kejadian di Jalan Sholis tersebut. Saat ini Satuan Reserse Kriminal tengah berada di lokasi. “Kejadiannya kemarin malam. orangnya baru laporan tadi pagi, dan sekarang reskrim lagi di TKP,” katanya saat dikonfirmasi.

Terpisah, Kasat Resrim Polresta Bogor Kota, Kompol Didik Purwanto mengatakan, petugas masih menghimpun laporan saat kejadian. Termasuk kronologi secara utuhnya, yang masih belum diketahui.

“Kronologinya seperti apa, belum jelas. Kobannya pun belum kami mintai keterangan dari semalam. Nanti kalau sudah lengkap akan kami rilis,” katanya kepada Radar Bogor.

Kompol Didik juga menjelaskan bahwa modus ban kempes atau ojol belum ditemukan sebelumnya di wilayah Kota Bogor. Ia meminta masyarakat lebih meningkat­kan kewaspadaan saat berkendara, terlebih ketika malam hari.

“Bisa jadi modus baru. Kami akan telusuri, sehingga jangan sampai kejadian serupa terulang kembali,” ujarnya.


Sumber : radarbogor.id

Wednesday, 25 April 2018

Hadirkan Keluarga Tokoh Berpengaruh di Bogor


Memperingati milad ke-57, Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor mengundang keluarga para tokoh berpengaruh di Bogor. Terlebih, mereka memiliki kontribusi besar terhadap UIKA. Mereka dihadirkan dalam kegiatan bertajuk ‘Silaturahmi dan Tasyakur UIKA Bogor ke-57’ di aula UIKA, kemarin (23/4).

Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan UIKA Bogor, Didi Hilmam mengatakan, sengaja menghadirkan para tokoh pendiri UIKA ini untuk diperke­nalkan pada generasi UIKA terkini.

“Selain milad ke-57, juga untuk mengikat tali silaturahmi dengan keluarga-keluarga para pendiri yang dulu tokoh-tokoh Bogor semua,” jelasnya kepada Radar Bogor, kemarin.

Di tengah-tengah acara, ia menceritakan mulai awal berdirinya UIKA pada 23 April 1961 dengan menumpang di bangunan SD Papandayan, hingga sekarang memiliki gedung cukup besar di tepian Jalan Sholeh Iskandar.

“Kita paparkan dari awal sampai akhir, supaya yang muda-muda ini memahami dan bersyukur bahwa UIKA berawal menumpang di SD, sampai sekarang kita punya kampus sendiri,” terangnya.

Menurut Didi, UIKA perlu mempersiapkan kader-kader unggulan untuk meneruskan cita-cita para pendiri UIKA. Sehingga, regenerasi terus terjadi tanpa hambatan.

“Sekarang tantangan pendi­dikan semakin kompleks, maka perlu disiapkan kader-kader untuk di masa yang akan datang,” kata Didi.

Keluarga yang dihadirkan antara lain merupakan tokoh-tokoh seperti Marzoeki Mahdi, Sholeh Iskandar, Kartadjumena, Prijono Hardjosentono, serta Ali Audah.


Sumber : radarbogor.id

11.871 KTP-El Siap Cetak


Warga Kota Bogor yang sudah lama menunggu KTP elektronik (KTP-el), kini bisa bernapas lega. Setelah terkendala blangko dan tinta cetak, awal Mei ini Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Bogor segera mencetak 11.871 KTP-el.

Berdasarkan data, dari 740.678 jiwa warga yang wajib memiliki KTP-el, sebanyak 711.051 jiwa telah melakukan proses perekaman data KTP-el. Di mana sebanyak 11.871 merupa­kan data yang siap cetak atau print ready record (PRR).

“Bila merujuk Data Konsolidasi Bersih (DKB) 2017 Semester II proses perekaman mengalami peningkatan,” kata Kepala Bidang (Kabid) Penyajian Informasi Administrasi Kependudukan dan Pemanfaatan Data Disdukcapil Kota Bogor, Christina Ari Setyaningsih, kemarin (23/4).

Christina merinci, sebelumnya di semester II 2017 warga yang merekam data berjumlah 704.304, sedangkan yang belum merekam data sebanyak 32.697, dan data PRR (siap cetak) sebanyak 2.085. Hingga saat ini, warga Kota Bogor yang sudah merekam jumlahnya bertambah 6.747 dan data yang siap cetak berjumlah 9.786.

”Bagi warga yang sudah merekam tetapi belum menerima KTP-el, dapat menya­lurkan hak suaranya pada Pilkada serentak Juni 2018 nanti, dengan membawa dan memperlihatkan surat kete­rangan (suket) sebagai salah satu persyaratan,” sebutnya.

Saat ini, kata Christina, pihaknya mengalami kendala karena kehabisan tinta untuk proses pencetakan KTP-el. Berdasarkan koordinasi terakhir Disdukcapil Kota Bogor dengan pemerintah pusat, pencairan anggaran untuk pengadaan tinta pencetakan KTP akan dilaksanakan akhir April.

“Jadi, diusahakan awal Mei 2018 sudah mulai pencetakan dan kita prioritaskan data PRR atau yang siap cetak,” jelasnya.

Anggaran pengadaan tinta tersebut, sambungnya, menggunakan dana alokasi khusus (DAK) untuk administrasi kependudukan (adminduk) dari Ditjen Dukcapil Kemendagri melalui Kementerian Keuangan.

“Penganggaran untuk OPD yang menggunakan DAK di 2017, baru cair di April 2018,” katanya.



Sumber : radarbogor.id

Kesetaraan Gender belum Terwujud


Peringatan Hari Kartini manjadi momen refleksi bagi seluruh wanita di bumi pertiwi. Tak terkecuali bagi Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Pakuan, Agnes Setyowati. Meski sudah memasuki emansipasi, tapi menurutnya, kesetaraan gender belum sepenuhnya terwujud di permukaan.

Agnes mengatakan bahwa berbagai bentuk diskriminasi masih banyak dirasakan dalam berbagai sektor kehidupan. Misalnya, meski banyak perempuan yang bekerja, namun pendapatan yang mereka dapatkan umumnya tidak lebih besar daripada laki-laki.

Kemudian, perbedaan juga masih terlihat di lingkungan pemerintahan. Meski banyak yang bekerja sebagai pegawai pemerintahan, tak banyak dari mereka yang masuk dalam kategori pengambil keputusan.

“Dengan kata lain, saya akan mengatakan bahwa kesetaraan gender belum disertai dengan keadilan gender. Bahwa masih banyak ketimpangan atau diskriminasi berbasis gender,” jelasnya kepada Radar Bogor, Jumat (20/4).

Maka, ia berharap, demi melanjutkan cita-cita Kartini ke depan, kaum perempuan harus lebih semangat mencetak perempuan-perempuan yang cemerlang, kritis, serta humanis. Sehingga, dianggap bisa menghapus segala bentuk diskriminasi berbasis gender dan ideologi patriarki yang membelenggu kebebasan berpikir.

“Bagi saya pribadi apa yang telah dilakukan oleh Kartini, khususnya memajukan kaum perempuan dalam bidang pendidikan, merupakan hal yang sangat inspiratif sekaligus membanggakan,” kata Agnes.

Menurutnya, sosok Kartini merupakan perjuangan di masa lalu. Oleh karena itu, sumbangan pemikiran-pemikiran Kartini masih memiliki relevansi dengan kondisi masa sekarang, di mana kebanyakan kaum perempuan masih terkungkung oleh norma-norma yang meghambat mereka untuk mengembangkan diri.

Akan tetapi, di sisi lain, meskipun kaum perempuan telah mendapatkan haknya dalam bidang pendidikan, kesetaraan gender di negeri ini belum sepenuhnya terwujud.


Sumber : radarbogor.id

Tuesday, 24 April 2018

Siswa SD Bagi-bagi Kantong Kain


Sekolah tidak hanya tempat belajar teori, tapi juga mempraktikkan terkait pembelajaran di kelas kepada masyarakat.

Seperti yang dilakukan SD Cipta Cendikia, yang membagikan kantong atau tas kain kepada pengunjung Kebun Raya Bogor (KRB), Sabtu (21/4).

Memperingati Hari Bumi pada April ini, sekolah ini mengajak seluruh siswa peduli lingkungan dengan langsung melibatkan mereka dalam membagi-bagikan tas kain.

Setelah mendapatkan teori atau pembelajaran di kelas, siswa bisa menerapkan ilmu yang mereka dapatkan. Pengunjung KRB yang membawa kantong plastik dapat menukarkannya dengan tas kain yang sudah disiapkan.

Ada 300 tas kain yang dibagikan siswa. Ketua pelaksana yang juga guru SD Cendikia, Khairil Hanafi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk peringatan dari Hari Bumi.

Hanya, untuk tahun ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. “Tahun ini kami sengaja memilih di luar sekolah, di Kebun Raya Bogor. Supaya anak-anak mengenal lingku­ngan sekitarnya di luar sekolah dan keluarga,” terang Khairil.

Tidak hanya melibatkan siswa, tiap kegiatan selalu melibatkan orang tua. Dengan kegiatan itu, salah satu cara untuk memberi edukasi siswa dalam menjaga lingkungan dan alam. Serta dipastikan untuk lebih memberikan pemahaman kepada siswa terkait penggunaaan produk plastik.

Hanafi berharap, siswa SD Cendikia bisa menjadi pelopor lingkungan bersih.

Di akhir acara, siswa juga menampilkan berbagai bentuk seni dan budaya di panggung. Tnetunya masih dengan tema lingkungan. Tahun ini, kegiatan yang dilakukan mengusung tema live go green, love go green, think go green.


Sumber : radarbogor.id

Waspada Penipuan Cek Miliaran


Siapa yang tak tergiur melihat cek bernilai miliaran rupiah di pinggir jalan. Lembaran yang hanya bisa dicairkan sang pemilik dana itu, justru menjadi salah satu modus penipuan. Ya, penipuan dengan iming-iming cek palsu ini kembali ditemukan di Kota Bogor.

Seperti yang dilaporkan seorang warga ke Polsek Bogor Tengah. Lagi-lagi, cek senilai Rp4,5 miliar atas nama Drs H Sutoro, Presiden Direktur PT Surya Wira Agrah, Kabupaten Bontang, Kalimatan Timur, ini ter­simpan dalam sebuah amplop di pinggir jalan.

Kapolsek Bogor Tengah Kompol Syaifudin Gayo mengatakan, cek tersebut dila­por­kan seorang war­ga. Petugas lang­sung menda­tangi dan mengamankan temuan tersebut. Cek itu, lanjut Gayo, dipastikan adalah penipuan.

“Ini jelas penipuan. Karena sudah sering mengatasnamakan seseorang dan sudah diselidiki oleh kepolisian,” kata Gayo, kemarin (22/4).

Modusnya, kata dia, pelaku menjatuhkan amplop cokelat di jalanan, agar warga tertarik. Setelah itu, di dalam surat tersebut dilampirkan keterangan sebagai surat penting. Nantinya, warga diiming-imingi uang namun dengan meminta tolong pinjaman sejumlah uang.

“Saya pinjam dulu 10 juta, nanti saya ganti. Karena saya masih ada urusan, uang saya sudah ada di cek itu,” kata Gayo mempratikkan cara sang penipu menggaet korbannya. Atas kasus ini, kata Gayo, pelaku yang masih buron akan dikenakan pasal 378 KUHP.

Gayo juga mengimbau agar masya­ra­kat waspada bila menemukan cek bernilai miliaran rupiah. Jika menemukan, segeralah melapor ke kantor polisi terdekat.


Sumber : radarbogor.id

Kepedulian Himpunan Alumni Kesatuan di Hari Kartini,, Donor Darah ke-58, Kumpulkan 93 Kantong


Berbagai aksi sosial diselenggarakan Himpunan Alumni Kesatuan (HAK), tepat di Hari Kartini, Sabtu (21/4). Salah satunya yang rutin digelar, yakni donor darah.

Ketua HAK Wanto Chandra mengatakan, untuk donor darah yang ke-58 tidak hanya dilakukan tiap tiga bulan sekali, tapi juga pada waktu-waktu tertentu di tempat lain.

Pelaksanaan donor darah di April ini sekaligus bentuk perayaan Himpunan Alumni Kesatuan (HAK) untuk Hari Kartini, di lingkungan Kesatuan, Jalan Pulo Armed.

Tidak hanya rutin, alumni juga melibatkan peserta dari luar. ”Terbuka untuk siapa saja bagi yang mau. Bukan cuma alumni Kesatuan. Lebih ramai dan kantong darah yang dikumpulkan lebih banyak,” ungkap Wanto.

Mereka yang terlibat dalam kegiatan sosial tersebut, di antaranya dari kalangan TNI dan Polri, komunitas, dan masih banyak lagi.

Kata Wanto, dalam donor darah yang ke-58 ini berhasil mengumpulkan 93 kantong darah dari 134 peserta yang mendaftar. Jumlah yang mendaftar sedikit meningkat, tapi perolehan kantong darah menurun.

Mereka yang mendaftar tetapi tidak dapat mendonorkan darahnya, disebabkan berapa hal. Pertama, tensi atau tekanan darah yang tidak normal, berat badan kurang, dan hal lainnya. Dari kantong darah tersebut, berbagai golongan darah yang didapat mayoritas golongan O, disusul golongan A, B, dan AB.

”Umumnya, dari usia kisaran 25–50 tahun,” imbuhnya. Semakin hari, jumlah peserta dan kantong darah yang dikumpulkan semakin banyak. Dari jumlah tersebut, beberapa orang merupakan pendonor baru dan pertama menjadi pendonor. Tak jarang dari alumni Kesatuan yang rutin mengikuti donor darah adalah yang lebih dari 10 kali.

Bahkan, yang donor di periode ke-58 ini, ada peserta yang sudah mendonor ke-75 kali, yakni Arifin Himawan. Kegiatan donor darah dan aksi sosial lain yang dilakukan HAK merupakan wujud berbagi dengan sesama. Sejak dilakukan pada 2004, sudah 3.000 kantong darah yang diberikan melalui PMI.

”Selain alumni, juga melibatkan beberapa perusahaan. Disiapkan sarapan, kopi dan minuman panas, dan kue. Setelah donor, dapat goody bag dari PMI dan panitia. Berisi vitamin, sereal dan biskuit,” jelas Chandra.

Sampai saat ini, donor darah yang dilakukan tidak hanya menggandeng PMI Kota Bogor, tak jarang juga dengan PMI dari daerah lain seperti dari Kabupaten Bogor, Sukabumi. Donor darah HAK akan kembali digelar pada Juli 2018 mendatang.


Sumber : radarbogor.id

Monday, 23 April 2018

Mengenang Sosok Mayor Jendral Purn H Pochman


Kamis malam (19/4), lantunan doa dipanjatkan kerabat, sanak saudara serta tetangga pada tahlil pertama almarhum Mayor Jendral (Mayjen) Purn H Pochman di rumah duka, Pangkalan Batu RT02/04, Kelurahan Semplak, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Tokoh Bogor yang kerap disapa Aki Pochman ini meninggal dunia karena sakit.

Laporan: Rany Puspitasari

Pria kelahiran Tasik, 15 Maret 1926 tersebut disemayamkan di TPU Pangkalan Batu RT 02/03 Kamis (19/4) siang pukul 10.00 WIB. Almarhum Aki Pochman dikenal sebagai sosok yang komitmen menjaga dan melestarikan budaya Sunda.

Hal itu disampaikan sahabat sekaligus Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor, Shahlan Rasyidi kepada Radar Bogor. Ia menceritakan bahwa almarhum sangat konsisten dalam disiplin.

“Perjuangan dalam menegakkan kebersamaan melalui KWB. Almarhum juga sosok atau tokoh yang patut dicontoh generasi muda. Selama kenal dan dekat sejak 2000, saya banyak belajar dari beliau,” bebernya.

Saat ini, hanya doa yang bisa ia berikan kepada almarhum.

Semoga almarhum di alam kubur tenang dan diampuni segala dosa-dosanya, ditempatkan di tempat yang layak dan khusnul khotimah,” doa Shahlan.

Senada, salah satu budayawan, Ace Sumanta pun menceritakan bahwa Aki Pochman adalah sosok yang tegas namun mengayomi. Ia sangat militan dalam ide dan gagasan untuk kembali pada Sunda yang hakiki.

“Artinya ngajati diri orang Sunda. Urang Bogor ulah elehan, maksudnya jangan suka rendah diri, namun harus punya harga diri. Ucapan itu yang sering ia sampaikan pada saya dan teman yang lain jika bertemu di rumahnya maupun dalam suatu acara,” ungkap Ace.

Katanya, almarhum sangat rajin hadir selagi sehat kalau diundang kegiatan seni budaya dan silaturahmi.

Pernah di suatu waktu, lanjutnya, masih ada Ma Ageng (Tien Rostini Asikin, red) penekanan pada ngamumule budaya Sunda yang sudah mulai pudar. “Semoga wafat dalam khusnul khotimah juga diterima iman Islamnya. Amin,” tutup Ace.


Sumber : radarbogor.id

Terapkan Spirit Kartini Zaman Now


April identik dengan bulan perempuan, karena di bulan ini tepatnya 21 April dirayakan Hari Kartini. Banyak kegiatan dilakukan, tanpa kecuali oleh Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Kota Bogor yang merayakan Hari Kartini di lantai 2 Mal Botani Square.

Berbagai lomba dan talk show diadakan, agar wanita Indonesia dapat lebih maju dan memiliki pandangan jauh ke depan tanpa meninggalkan peran sebagai ibu dan istri. Khusus bagi yang tergabung dalam IWAPI atau tidak, Hari Kartini tahun ini dapat menjadi pengusaha yang ulet, kreatif dan tetap peduli.

Ketua pelaksana acara, Diantini Dwiastuti mengatakan, wanita Indonesia khususnya yang ada di IWAPI dapat menerapkan semangat dari Raden Ajeng Kartini, baik itu sebagai ibu dan istri juga sebagai pengusaha yang maju dan berkembang.

Wanita pengusaha itu harus memiliki semangat pantang menyerah, berjuang, selalu memiliki inovasi baru untuk meningkatkan dan memajukan usaha yang dijalankan.

“Tidak hanya modal uang yang harus ada, anggota IWAPI itu bisa berkembang dan maju. Tentunya bisa menerapkan tiga teladan dari Ibu RA Kartini, ulet, gak mudah nyerah. Selalu gak puas untuk hasil dan kreatif, ciptakan yang baru dan baru lagi. Pastinya harus peduli apa pun yang terjadi di sekitarnya,” terang owner Kandis Bakery and Pastry ini.

Wanita Indonesia harus percaya diri dan tidak merasa di bawah pria dalam menjalankan usaha atau bisnis. Tambah wanita yang juga Ketua IWAPI Ranting Bogor Tengah ini, tidak hanya hal-hal itu yang harus dimiliki anggota IWAPI, masih banyak hal positif yang bisa diambil dan diterapkan dari RA Kartini.

Hal senada juga diungkapkan Ketua IWAPI Kota Bogor, Dewi Miftah. Menurut Dewi, dengan perayaan Hari Kartini, anggota IWAPI khususnya Kota Bogor bisa lebih maju dan meningkat. “Meningkat tanpa meninggalkan keluarga. Bisa terapkan spirit dari ibu Kartini di zaman sekarang ini,” ucap Dewi.

Karena dari Kartini, tidak hanya dapat diterapkan untuk keluarga, tapi juga dalam menjalankan usaha. Yakni, memiliki semangat pantang menyerah, inovatif, dan dipastikan tetap peduli dengan sesama maupun lingkungan. Dewi juga menambahkan, kegiatan IWAPI tersebut didukung dari berbagai hal. Satu di antaranya, Batik Handayani Geulis yang juga dimiliki salah satu anggota IWAPI Kota Bogor, Ratna Handayani.

Kegiatan yang digelar di Botani Square tersebut merupakan kerja tim dari IWAPI Bogor Tengah serta seluruh pengurus ranting yang ada di Kota Bogor. Tak hanya itu, pada Minggu (22/5) akan digelar expo Batik Handayani Geulis. Berbagai produk batik dari Handayani Geulis dipamerkan.


Sumber : radarbogor.id

Gandeng IPB, STIE Kesatuan Jadi IBIK


Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Kesatuan berencana mengubah statusnya menjadi Institut Bisnis dan Informatika Kesatuan (IBIK). Untuk merealisasikan itu, STIE Kesatuan menggandeng Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk bekerja sama meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya di Kota Bogor.

Beralihnya STIE Kesatuan menjadi IBIK dibenarkan Pembantu Ketua 1, Jan Horas V Purba. Kepada Radar Bogor, ia mengatakan bahwa dalam waktu dekat, STIE Kesatuan akan berganti nama menjadi IBIK, juga menambah empat prodi baru sesuai perkem­bangan minat masyarakat saat ini.

“Seiring dengan berkem­bangnya pendidikan dan keinginan masyarakat, kami juga terus mengembangkan diri, dan akan membesar lagi menjadi institusi dengan program studi lama tetap ada, ditambah empat prodi tambahan,” bebernya setelah kegiatan kerja sama antara STIE Kesatuan dan IPB, Kamis (19/4) lalu.

Keempat prodi baru itu, antara lain Sistem Informatika, Teknik Informatika, Bio Kewirausahaaan, dan Bio Pariwisata. Sehingga ke depan, IBIK miliki sembilan prodi yang tergabung dalam tiga fakultas.

Jan menambahkan, proses tersebut masih tahap pengurusan perizinan yang akan diberikan nantinya ke pusat pada akhir April. “Nah, kerja sama ini juga bertujuan untuk meminta IPB membantu Kesatuan mengembangkan IBIK ke depannya,” ungkap Jan.

Ketua Pembina Yayasan Kesatuan, Bungaran Saragih mengatakan, IPB dengan Kesatuan sama-sama bergerak di bidang pendidikan untuk mencerdaskan bangsa yang menjadi amanah konstitusi.

“IPB sudah menjadi institut terkemuka di Indonesia dalam hidang pendidikan, sedang­kan Kesatuan belum seketer­muka IPB. Makanya, Kesatuan ingin bekerja sama dan bertukar pengalaman saling membantu memperbaiki kualitas pendidikan di Kesatuan,” ujarnya.

Mantan menteri pertanian itu juga mengatakan bahwa IPB pun harus merasa bertanggung jawab untuk membantu pendidikan tinggi lainnya, salah satunya Kesatuan. “Intinya, kami ke depan akan bekerja sama dalam pendidikan dan penelitian. Bertukar dosen, mahasiswa, sharing pengalaman juga fasilitas untuk sama-sama mencerdaskan bangsa,” tu`tupnya.

Sementara di tempat yang sama, Rektor IPB, Arif Satria pun mengakui jika sebenarnya sudah banyak dosen IPB yang mengajar di STIE Kesatuan. IPB memiliki tanggung jawab moral untuk terus membantu perkembangan pendidikan di Kesatuan.

“Kerja sama dalam bentuk pendidikan sebenarnya sudah dilakukan sejak lama, seperti mengajar atau sharing ilmu, tapi ini lebih diresmikan lagi dan untuk masuk ke penelitiannya juga,” kata Arif.

Apalagi, lanjutnya, berhu­bungan dengan akan diubahnya STIE Kesatuan menjadi IBIK.

“Tentu peran IPB dalam hal ini sangat dibutuhkan, kami juga sangat ingin membantu dalam menunjang kemajuan pendidikan sekitar IPB,” tandas Arif.


Sumber : radarbogor.id

Friday, 20 April 2018

DPRD Minta PDPPJ dan Pedagang Duduk Bersama


Perseteruan antara Pedagang Pasar Bogor dengan Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya (PDPPJ) seolah tak berujung. Menanggapi hal itu, DPRD Kota Bogor angkat bicara. Ketua Komisi II DPRD Kota Bogor, Anita Primasari Mongan menganggap langkah penca­butan hak dagang yang dilakukan PDPPJ belum bisa dibenarkan.

Ia menjelaskan bahwa sengketa ini merupakan persoalan ‘perut’ orang banyak. Artinya, setiap kebijakan yang dike­lu­arkan perlu terlebih dahulu dibicarakan dengan cara duduk bersa­ma.

“Ini berarti sudah menjadi masalah sosial, masalah ‘perut’, jadi harus duduk sama-sama, bermusya­warah untuk mencapai mufakat.

Sama-sama saling mau memahami itu semua, jangan pakeukeuh-keukeuh,” jelasnya kepada Radar Bogor, kemarin (18/4).

Anita meminta masing-masing pihak yang berseteru untuk saling memenuhi hak dan kewajiban. Sehingga, perseteruan kedua belah pihak itu tidak berdampak pada masyarakat luas.

“Tentu saja harus memahami bahwa jika menya­ngkut masalah pasar, pastinya menya­ngkut masyarakat dengan penghasilan dari situ,” terangnya.

Menurutnya, hak guna bangunan (HGB) para pedagang Pasar Bogor sudah ber­akhir sejak 2017 lalu. Sehingga, kini pe­dagang berjualan di tempat yang su­dah menjadi hak Pemkot Bogor.

“Se­benarnya peme­rintah punya hak penuh mau memberikan izin mereka untuk berdagang atau enggak. Tapi, ini semua bisa dimusyawarahkan lagi, supaya ada jalan keluarnya,” kata Anita.


Sumber : radarbogor.id

Yoga Supriyatna, Penderita Penyakit Langka Osteogenesis Imperfecta


Nasib kurang beruntung dialami pemuda 22 tahun, yang selama empat tahun belakangan ini hanya bisa terbaring di kasur sederhana milik ibunya. Dia adalah Yoga Supriyatna. Yoga mengidap penyakit Osteogenesis Imperfecta, yaitu bentuk kelainan genetik pada tulang yang memengaruhi proses produksi kolagen.

Laporan: Nova dan Rany Puspitasari

Semua berawal ketika Yoga berenang bersama teman-temannya. Tak disangka, ia terjatuh dan menyebabkannya tidak bisa berjalan sampai saat ini, dikarenakan pinggul dan sendi di lututnya terasa sakit.

“Sebelumnya, Yoga juga sudah pernah jatuh, tujuh kali dan jatuh di kolam renang itu yang terparah. Pas jatuh itu, saya lagi di Kalimantan, dan baru bisa pulang ketemu Yoga empat bulan kemudian, kondisinya sudah parah,” ungkap Nina (38), ibunda Yoga.

Setelah kejadian itu, Yoga kemudian di­bawa ke RSUD Kota Bogor dan diperiksa dokter ahli tulang. Hasil diagnosa, ia meng­idap Oseteogenesis Imperfecta. Penyakit itu menyebabkan tulang Yoga begitu rapuh. Bahkan tulang rusuknya naik ke atas dan badannya pun semakin meng­ecil. Sangat terlihat hanya tulang yang dilapisi kulit.

Di rumahnya yang seder­hana, di daerah Pancasan RT 04 RW 12 Kelurahan Pasirjaya, Keca­ma­tan Bogor Barat, Nina mengurus sendiri anak semata wayangnya tersebut. Yoga sebelumnya diurus sang ayah, Yudi Supriyadi, sebelum akhirnya pindah ke Kali­mantan. Setelah kejadian Yoga terjatuh dan sakit seperti sekarang ini, Nina memu­tus­kan pindah lagi dari Kalimantan ke Bogor, bertukar dengan suaminya.

“Saya sama bapaknya Yoga kan udah gak sama-sama, jadi kami tukeran. Sekarang saya yang urus Yoga,” cerita Nina.

Sebelum dibawa ke rumah sakit, Yoga hanya dipijat. Ketika sudah mau sembuh, ia terjatuh lagi yang menyebabkan sakit pada tulang ekornya, dan akhirnya dibawa ke RSUD Kota Bogor. Pada awal pemeriksaan, Yoga rutin dibawa ke rumah sakit sebanyak dua kali dalam seminggu. Namun, sekarang hanya dua kali dalam satu bulan.

“Yoga gak bisa makan banyak, karena kata dokter takut kena tulangnya.

Tulangnya kan rapuh. Tapi untuk makan sih gak ada pantangan, seperti biasa aja,” tambahnya.

Dokter ahli tulang menyaran­kan Yoga dan ibunya untuk membeli alat uap, supaya bisa melakukan uap sendiri di rumah secara rutin. Dengan harga yang tak murah, akhirnya Nina membelikan alat uap seharga 700 ribu rupiah demi membantu anaknya.

“Setiap hari itu harus diuap, sehari dua kali, pagi dan sore, untuk bantu pernapasannya juga. Tulang rusuknya itu kan naik, nekan paru-parunya karena tiduran terus. Tapi alhamdulillah paru-parunya gak bermasalah,” beber Nina.

Saat ini, Yoga masih terus rutin mengonsumsi obat yang diberikan dokter dibantu juga BPJS. Pria kelahiran Bogor, 11 November 1995, tersebut hanya bisa berbaring lemas dan diurus sendiri sang ibu.

“Udah gak bisa ngapa-ngapain, cuma bisa tiduran, duduk juga gak bisa. Hiburannya ya nonton tv aja,” ungkap Yoga.

Karena keterbatasan ekonomi, Yoga hanya bisa tidur di kasur kapuk lusuh yang diletakkan di lantai rumah. Sang ibu tidak bekerja dan hanya fokus untuk mengurus putra kesayangannya tersebut. Nina tidak tega meninggalkan putranya sendiri dengan keadaan yang sudah tidak bisa apa-apa.

Dengan mata berkaca-kaca, Yoga dan ibunya mengung­kapkan ingin sekali membeli tempat tidur dan kasur layaknya di rumah sakit. Supaya Yoga juga bisa santai dan tidak melulu berbaring.

“Saya sih pengennya beli tempat tidur, tapi uangnya gak ada. Kasihan Yoga kalau harus tiduran terus. Kan kalau pake tempat tidur itu bisa diatur gitu biar Yoga bisa bangun, tanpa harus keluar dari tempat tidur,” kata Nina dengan air mata mengalir.


Sumber : radarbogor.id

Unitex Digugat ke PN Bogor


Niat ingin memiliki rumah, warga Kelurahan Sindangrasa Kecamatan Bogor Timur, Suryadi, malah beperkara di Pengadilan Negeri (PN) Bogor. Pasalnya, harapan membeli rumah dari Koperasi Karyawan PT Unitex Bogor tak kunjung terealisasi. Sehingga, ia terpaksa membawanya ke meja hijau.

Melalui kuasa hukumnya, Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Justisia Kepati­han, Nusyirwan menjelaskan bahwa kliennya memesan rumah di Perumahan Unitex Tajur sejak 2015 lalu. Saat itu Suryadi sudah membayar DP sebesar Rp50 juta untuk harga rumah sebesar Rp270 juta dengan total kredit sebesar Rp223 juta. Namun, pada saat akad 2017 lalu, menurutnya total kredit menjadi Rp255 juta.

Hal itu membuat kliennya merasa keberatan. Untuk itu, Suryadi meminta DP sebesar Rp50 juta yang sudah dibayarkan itu dikembalikan dengan alasan batal membeli rumah.

“Klien kami intinya meminta uang DP dikembalikan, karena tidak sesuai dengan pesanannya. Sebelumnya klien kami sudah mencoba bermusyawarah,” jelasnya kepada Radar Bogor di halaman PN Bogor, kemarin (18/4).

Merasa tidak mendapatkan respons, ia bersama kuasa hukumnya mengajukan gugatan ke PN Bogor. Lantas, kedua belah pihak dihadirkan dalam persidangan perdana kemarin. Tapi, masih ada beberapa pihak yang belum hadir sehingga persidangan ditunda hingga 9 Mei mendatang.

“Sidang berikutnya tanggal 9, karena dari pihak BTN tidak hadir, kemudian dari developer tidak hadir,” terangnya.

Di tempat yang sama, eks Ketua Koperasi Karyawan PT Unitex Bogor yang sekarang menjabat sebagai Wakil Penga­was Produksi, Irfan Ahmad Solihin, hadir dalam persida­ngan.

Menurutnya, berdasarkan hasil persidangan kemarin, gugatan yang dilaya­ngkan salah sasaran. Seharusnya yang menjadi tergugat adalah dirinya, bukan Pjs Ketua Koperasi Kar­ya­wan PT Unitex yang sekarang men­jabat.

“Yang digugat seha­rusnya penanggung jawab koperasi. Waktu itu penanggung jawab koperasi saya pribadi, dari 2011 sampai 2016. Maka­nya, tadi ada proses klarifikasi,” ujarnya.

Irfan mengatakan bahwa perka­ranya masih ada kemu­ngkinan diselesaikan secara mediasi sebelum jatuh pada 9 Mei, yakni jadwal persi­dangan selanjutnya.

“Sebetulnya kalau pihak Koperasi Unitex mau menyelesaikan persoalan Pak Suryadi sebelum 9 Mei, bisa dicabut gugatannya,” tukasnya.


Sumber : radarbogor.id

Thursday, 19 April 2018

Infak via Kasir Dibuka Lagi


PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), peritel multi-format modern terkemuka di Indonesia, dan Dompet Dhuafa (DD) kembali menggelar program Infak via Kasir untuk periode Ramadan 2018 bertepatan dengan closing program renovasi dan pendampingan sekolah, yang terwujud atas hasil donasi pelanggan melalui kerja sama Infak via Kasir selama periode Ramadan sebelumnya.

Program donasi Infak via Kasir merupakan salah satu program yang sepenuhnya dimiliki dan dijalankan DD, di mana para pelanggan diberikan kemudahan untuk berdonasi via kasir pada saat berbelanja di gerai-gerai yang dimiliki MPPA.

Direktur Program Dompet Dhuafa Sabeth Abilawa mengatakan, program ini merupakan langkah sosial DD yang bekerja sama dengan MPPA untuk mengajak masyarakat publik untuk berdonasi, di mana hasil donasi tersebut disalurkan ke berbagai program pemberdayaan masyarakat yang dikelola DD.

“Selain itu, program Infak via Kasir juga merupakan media untuk menyebarkan value berbagi kebaikan kepada masyarakat,” tambahnya.

Program Infak via Kasir bersama MPPA telah berjalan dengan baik selama 11 tahun dan saat ini memasuki tahun ke-12.

“Sejak bergulir tahun 2006 lalu, program Infak via Kasir memudahkan masyarakat dalam beramal sambil berbelanja, yang dapat dilakukan dengan mendonasikan kembalian belanja, pembulatan kembalian, atau berdonasi via kasir saat berbelanja,” tegasnya.

Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, dana infak disalurkan melalui program renovasi dan pendampingan sekolah yang tersebar di 14 sekolah di wilayah Jabodetabek, Jogjakarta, Riau, Pontianak, Mataram, Samarinda, Padang, Kendari, dll.

Salah satunya adalah di MI Al-Ithisam yang terletak di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, di mana acara closing program renovasi dan pendampingan sekolah untuk periode Ramadan 2017 dilangsungkan pekan lalu.

“Program ini banyak membuahkan manfaat untuk masyarakat luas. Dari Infak via Kasir ini, para donatur dapat membantu banyak sekolah yang direnovasi agar kegiatan belajar-mengajar semakin baik di pelosok negeri ini,” tukasnya.

Director–Corporate Secretary and Public Affairs MPPA Danny Kojongian mengatakan, memasuki tahun ke-12 untuk program Infak via Kasir yang sepenuhnya dimiliki dan dikelola DD, pihaknya menyambut dengan baik atas hasil yang diperoleh dari periode sebelumnya.

“Di mana sejumlah sekolah yang tidak mampu di berbagai daerah memperoleh bantuan renovasi dan pendampingan pengajar, sehingga anak-anak di sekolah tersebut juga memperoleh fasilitas belajar yang baik,” jelasnya.

Sebagai fasilitator untuk program Infak via Kasir 2018, yang akan segera dilaksanakan DD pada periode Ramadan mendatang ini, MPPA akan memastikan setiap lini kasir di gerai-gerainya akan siap membantu para pelanggan untuk melakukan donasi tersebut.


Sumber : radarbogor.id