Banner 1

Parah! Pedestrian Belum Bersih dari PKL

BOGOR – Pemkot Bogor terus berbenah menjelang akan diresmikannya fasilitas pedestrian (pejalan kaki) Kebun Raya Bogor (KRB). Sejumlah SKPD dikumpulkan dalam rapat di Paseban Surawisesa Balaikota, Kamis (05/01/2017). Salah satu masalah yang menjadi sorotan Walikota Bogor Bima Arya adalah jalur pedestrian yang belum steril......

Menang di #WeLoveCities, Bogor Dinobatkan Sebagai Kota Paling Dicintai di Seluruh Dunia

BOGOR- BOGOR - Setelah melewati proses panjang, akhirnya Kota Bogor meraih kemenangan di ajang #WeLoveCities dan dinobatkan sebagai kota paling dicintai di seluruh dunia dalam ajang yang digelar World Wide Fund for Nature....

PSB Bogor Sukses Gulung Persima Majalengka

BOGOR - PSB Bogor berhasil meraih poin penuh dalam lanjutan Liga Nusantara 2016. Tidak tanggung-tanggung anak-anak Laskar Pakuan menggulung tim asal Jawa Barat lainnya, Persima Majalengka enam gol tanpa balas....

Hadapi Liga Nusantara, PSB Matangkan Persiapan

BOGOR–Skuat PSB terus mengasah kemampuannya dalam rangka persiapan menghadapi Liga Nusantara (Linus) di Depok pada 8-11 Agustus nanti. Bertempat di Stadion Padjajaran, kemarin tim kebanggaan warga Kota Bogor ini melakoni uji tanding melawan kesebelasan Ciomas....

Mantap! Atasi Pemotor Nekat, Walikota Instruksikan Patroli di Jalur Sepeda Otista

BOGOR – Aksi Mahesa Jenar (13) dan Wildan Pratama Putra (13) yang nekat memalang sepedanya di jalur sepeda Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista) yang dilewati pengguna sepeda motor jelas menampar telak Pemkot Bogor.Walikota Bima Arya bahkan mengaku greget jika melewati Jalan Otista. Jalur yang dibangun khusus untuk sepeda seringkali dikuasai sepeda motor, berbeda dengan.......

Showing posts with label sukabumi. Show all posts
Showing posts with label sukabumi. Show all posts

Thursday, 6 April 2017

Astagfirullah… Cuma karena Hal Ini, Warga Sukabumi Pasung Kaki Kakek Malang Ini Hingga Membusuk




SUKABUMI – Nasib miris dialami Bibin (56) warga Kampung Cijambe RT 1/4, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikembar Kabupaten Sukabumi.

Soalnya, kakek rentan tua dipasung warga menggunakan kayu di gubuk kandang ayam yang berukuran 2 kali 3 meter yang beralaskan tikar kecil berwarna merah dan bantal.

Bahkan akibat perlakuannya itu, kaki Bibin terluka cukup parah  di bagian pergelangan kaki hingga membusuk dan di gerogoti belatung.

Salah seorang keluarga korban Oping (77) menjelaskan, korban di pasung warga karena telah merusak jaringan listrik KWh dan bangunan rumah pada Rabu 29 Maret 2017 lalu.

“Pak Bibin ini telah di pasung oleh warga karena sering mengamuk. Waktu itu, sekira pukul 23.30 WIB, saya melihat warga datang berbondong-bondong membawa korban kerumah dan kemudian di pasung kedua kakinya di gubuk kandang ayam,” jelas Oping saat di sambangi Radar Sukabumi sambil menunjukan tempat korban di pasung, Rabu (5/4/2017).

Di tempat sempit itu, ia berlindung dari dinginnya udara malam, hujan, dan teriknya sengatan matahari. Kakek Bibin yang mengalami gangguan jiwa ini, di pasung oleh warga selama satu minggu karena sering mengganggu ketertiban umum. Seperti merusak bangunan rumah hingga memutuskan jaringan listrik.

“Karena sakitnya Pak Bibin tidak kunjung sembuh, maka terpaksa korban di pasung oleh warga menggunakan kayu. Saya sangat sedih melihat keluarga seperti ini,” lirih Oping.

Alasan kemiskinan membuat Oping beserta keluarganya tak bisa berbuat banyak. Setiap hari, ia hanya bisa menyaksikan tubuh kurus dan kulit pucat Kakek Bibin yang merupakan kakak ipar kesayangannya.

Meski begitu, sesekali Oping mengajak korban berkomunikasi, berharap ingatan korban bisa kembali pulih seperti sedia kala.

“Sakit jiwa Pak Bibin sudah berlangsung bertahun-tahun. Sejak Pak Bibin di ceraikan oleh istrinya dan ditinggalkan kedua anaknya bekerja di Aceh dan Kalimantan, sakit jiwa Pak Bibin mulai kambuh. Bahkan pada 2014 lalu, kami sudah bawa korban ke Rumah Sakit Cilandak Bogor. Waktu itu, ada tiga tahun lamanya korban sembuh. Namun terkadang korban kerap berbincang-bincang sendirian,” imbuh Oping.

Saat itu, kian hari korban malah bertambah parah hingga warga terpaksa memasung di gubuk kandang ayam.

“Sebenarnya kami tidak tega melihat kondisi Pak Bibin seperti ini. Apalagi barusan waktu di evakuasi oleh para muspika, kami melihat kedua pergelangan kakinya membusuk hingga keliatan tulangnya. Dalam hati saya tak tega, tapi bagaimana lagi mau berobat tidak punya uang,” ujarnya.

Sementara itu, Camat Cikembar, Lina Evelin Mariana menjelaskan, pihaknya telah menerima laporan bahwa ada warganya yang mengalami gangguan jiwa hingga di lakukan pemasungan pada Jum’at 31 Maret 2017 lalu.

Mendengar peristiwa ini, para muspika Kecamatan Cikembar langsung bergegas untuk melihat secara langsung kondisi kakek renta tersebut.

“Setelah mendapatkan laporan, kami langusng mengurus dokumen kependudukannya, karena yang bersangkutan tidak memiliki KTP. Apalagi yang bersangkuatan ini merupakan warga miskin yang terdaftar, sehingga Pak Bibin mendapatkan Jamkesda. Ternyata baru hari ini, kami bisa evakuasi Pak Bibin dengan menggunakan kendaraan Polsek Cikembar untuk mendapatkan penanganan tim medis dari Puskesmas Cikembar,” jelas Lina.

Setalah di evakuasi sambung Lina, pemerintah Kecamatan Cikembar langsung mengupayakan untuk mengobati kakek renta tersebut ke Puskesmas Cikembar.

Sebab, kedua kaki di bagian pergelangannya mengalami luka yang cukup serius.

“Untuk itu, kami bawa korban ke Puskesmas dulu untuk di obati sementara. Setelah ditangani pihak Puskesmas, Pak Bibin ini langsung di rujuk menggunakan kartu Jamkesda ke Rumah Sakit Marzoeki Mahdi yang berada di Bogor,” pungkasnya.

Sumber:(pojokjabar)

Jalan Alternatif Nagrak Sukabumi Sering Dijadikan Arena Balap Liar



SUKABUMI – Kondisi jalan mulus di Jalan Alternatif Nagrak Desa Balekembang Kecamatan Nagrak ternyata kerap disalah gunakan oleh para bikers Anak Baru Gede (ABG).

Bahkan berdasarkan pantauan koran ini, dijalan tersebut, setiap sore sering terlihat pengendara yang melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi secara gerombolan.

Selain kerap melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, juga para pengendara ini tidak dilengkapi dengan alat keamanan seperti helm.

Tak heran, jika jalan yang sering digunakan untuk menghindari kemacetan ini rawan terjadi kecelakaan.

“Risih juga kalau lihat yang balapan. Apalagi dengan suara motornya yang gak karuan,” ujar salah satu pedagang kelapa muda, Jejen Jaelani (33) kepada koran ini, Rabu (5/4/2017).

Menurut Jejen, arus kendaraan di sepanjang jalan itu biasa ramai pada sore hari. Pengendara yang didominasi anak muda itu kerap hilir-mudik.

Entah dengan tujuan, atau hanya sebatas melintas. Hanya saja, warga resah bila pengendara melintas dengan kecepatan tinggi dan suara motor yang tidak sesuai spesfikasi kendaraan.

“Mohon kepada pihak kepolisian supaya intensif melakukan patroli. Suara bising kendaraan membuat kami risih,” singkatnya.

Sementara itu, Kapolsek Nagrak, AKP Parlan tidak menampik beberapa bulan lalu di kawasan itu sering terjadi balapan liar.

Namun, karena pihaknya sering melakukan patroli, dapat dipastikan untuk sekarang ini tidak ada lagi balapan liar.

“Kami pastikan sekarang itu tidak ada (balapan liar, red). Karena kami sering melakukan operasi dan patroli di situ,” timpalnya.

Selain pernah ada balapan liar lanjut Parlan, di kawasan itu juga pada enam bulan lalu pernah terjadi tindakan kriminal, pencurian kendaraan bermotor dan pembacokan.

Tapi, saat ini karena terus melakukan patroli, sehingga insiden yang tidak diinginkan itu tidak lagi terjadi sampai sekarang.

“Alhamdulillah sekarang kondusif, tidak ada lagi hal demikian. Kami, sampai saat ini terus menggelar operasi dan patroli,” singkatnya.

Sumber:(pojokjabar)

Friday, 31 March 2017

Cegah Rabies, Ratusan Anjing di Kabupaten Sukabumi Divaksin


SUKABUMI – Mencegah menyebarnya virus rabies pasca penyerangan anjing liar di Desa Kertaraharja dan Desa Parakanlima, Kecamatan Cikembar.

Puluhan petugas Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi, langsung terjun ke lapangan untuk memberikan vaksin rabies terhadap anjing peliharaan di dua desa tersebut, Kamis (30/3/2017).

Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Sukabumi, sekitar 100 ekor anjing peliharaan milik warga telah disuntik vaksin untuk memberikan kekebalan terhadap anjing.

Hal ini, dilakukan sebagai salah satu bentuk upaya pemerintah dalam mencegah penularan dan bahaya penyakit rabies.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi, drh Winda Sri Rahayu menjelaskan, virus rabies merupakan salah satu penyakit hewan menular yang disebabkan oleh virus dan dapat menyerang susunan syaraf pusat hewan.


“Rabies ini adalah penyakit akut yang bersifat zoonosis serta dapat menular dari hewan melalui gigitan taringnya ke manusia. Jika terjadi klinis dan cara pengobatannya tidak sempurna dapat menyebabkan kematian,” jelas Winda kepada Radar Sukabumi saat melakukan koordinasi untuk vaksinasi anjing rabies di Desa Parakanlima, Kamis (30/3/2017).

Selain memberikan vaksin antirabies kepada anjing, Dinas Peternakan juga melakukan pemeriksaan ke sejumlah rumah warga yang memiliki hewan peliharaan seperti kucing.

“Kami menargetkan vaksinasi di dua desa ini sekitar 70 persen harus tercapai. Berdasarkan data yang kami himpun jumlah populasi anjing di wilayah Kecamatan Cikembar ini 400 ekor dari seluruh desa. Insya Allah seluruh kedusunan yang ada di dua desa ini akan kami vaksin,” sahutnya.

Menurutnya, di wilayah Kecamatan Cikembar, sejak 2011 belum ditemukan kasus virus rabies. Namun pada 2017, penyakit rabies ini muncul kembali.

Hal ini terjadi karena banyaknya anjing yang berkeliaran keluar masuk ke wilayah tersebut.

“Karena di Kecamatan Cikembar ini merupakan wilayah yang berbatasan dengan kecamatan lain. Seperti Jampangtengah dan Purabaya. Dimana kecamatan ini populasi anjing sangat banyak dan bisa keluar masuk ke kecamatan lain,” imbuhnya.
Anjing-anjing milik warga yang sudah divaksin oleh petugas Dinas Peternakan Kabupaten Sukanumi, sambung Winda, akan ditandai dengan kalung anjing secara khusus, sehingga mereka dapat diidentifikasi sebagai anjing yang telah divaksin dan terlindungi dari penyebaran virus rabies.

“Sebanyak 21 petugas dari Dinas Peternakan telah kami terjunkan ke lapangan untuk melakukan vaksinasi terhadap hewan peliharaan. Tim ini, kami bagi tugas di dua desa untuk menyisir ke setiap kedusunan,” paparnya.

Ia menambahkan, vaksinasi rabies ini diharapkan dapat segera menurunkan kasus rabies pada hewan dan manusia.

“Semua logistik untuk vaksinasi sudah siap dan dengan pencanangan hari ini, kami harapkan masyarakat bertambah sadar untuk mendukung program pemberantasan rabies di Kabupaten Sukabumi,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Desa Kertaraharja, Dadan, mengucapkan banyak terima kasih kepada para muspika dan Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi yang telah melakukan penyuntikan pada hewan peliharaan milik warga di wilayahnya tersebut.

“Sebab, hewan peliharaan yang berada di permukiman warga rentan terjangkit virus rabies jika tidak ditanggulangi melalui vaksinasi,” ucap Dadan.


Ia berharap, agar penyuntikan vaksin antirabies tersebut dapat dilakukan berkelanjutan supaya warga tidak terus dihantui rasa waswas, terkena rabies yang disebabkan oleh hewan peliharaannya.

“Pada Minggu (26/3/2017) lalu, sebanyak delapan warga Kecamatan Cikembar yang menjadi korban gigitan anjing rabies. Enam warga di antaranya Desa Kertaraharja dan dua warga Desa Parakanlima. Semoga dengan adanya suntik vaksin ini, jumlah korban tidak bertambah banyak akibat penularan gigitan anjing rabies,” pungkasnya.
(cr13/rdrsmi)

sumber:POJOKJABAR.com,

Rawan Macet, Trotoar Cibadak Sukabumi Harus Bebas PKL



SUKABUMI – Para pedagang kaki lima (PKL) yang berada di wilayah Cibadak, akan ditertibkan pasca selesainya pembangunan Pasar Cibadak.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kabupaten Sukabumi, Dedi Chardiman mengaku pihaknya akan mewujudkan Cibadak aman dari PKL seperti yang sudah dilakukan di Kecamatan Cicurug yang trotoarnya bebas dari PKL.

“Bila Pasar Cibadak sudah selesai pembangunannya, kami akan action,” ujar Dedi Chardiman kepada Radar Sukabumi.

Menurut Dedi, pihaknya telah membuat perencanaan untuk menertibkan para PKL yang berada di sepanjang Pasar Cibadak.

Pasalnya, bagaimanapun keberadaan para PKL ikut memengaruhi tingkat kemacetan di sepanjang jalur Cibadak.

“Kami tidak mungkin serta merta melakukan penertiban, perlu perencanaan supaya tidak menimbulkan persoalan. Sesuai dengan perencanaan itu, penertiban akan dilakukan pada saat proses pembangunan Pasar Cibadak selesai,” imbuhnya.

Pertimbangan itu, lanjut Dedi, mengingat para PKL yang harus direlokasi. Sehingga, setelah dilakukan penertiban nanti, mereka tidak kehilangan area untuk menjajakan barang dagangannya.

Karena bagaimanapun, usaha para PKL ini untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Kami tidak ingin menyelesaikan masalah dengan menimbulkan masalah. Mereka (PKL, red) perlu direlokasi dan itu menjadi kewenangan instansi lain dalam hal ini adalah Dinas Pasar,” terangnya.

Berdasarkan catatannya, masih kata Dedi, di sepanjang jalur Cibadak, terdapat 184 PKL. Mereka menjajakan barang dagangannya di atas trotoar.

Dampaknya, pejalan kaki meluber ke bahu jalan dan gangguan arus lalu lintas pun tak bisa dihindari.

Dengan perencanaan penertiban itu, diharapkan para PKL bisa mengerti bahwa hal itu demi kenyamanan dan ketertiban umum.

“Harus dipahami oleh semua pihak, bahwa ini demi kelancaran dan kenyamanan semua,” singkatnya.

Salah seorang pedagang Pasar Cibadak, Suhendi (45) menyatakan, sebelum dilakukan penertiban, para PKL ini harus benar-benar dipastikan punya lahan untuk berjualan.

Pasalnya, usaha yang mereka lakukan demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Intinya kami berharap, jangan sampai setelah penertiban muncul persoalan baru. Bagaimanapun, PKL harus diperhatikan karena mereka juga punya kebutuhan yang harus dipenuhi,” akunya.

POJOKJABAR.com,

Jelang HUT Kota Sukabumi ke 103, Helaran Seni Sunda Meriah


SUKABUMI – Jelang Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Sukabumi ke-103, sebanyak 18 kelompok perwakilan seniman se-Jawa Barat dan tujuh kelompok dari perwakilan kecamatan se-Kota Sukabumi memeriahkan acara helaran seni budaya di Jalan R Syamsudin SH, depan Balai Kota Sukabumi, Kamis (30/3/2017).

Ribuan warga pun tumpah ruah menyaksikan acara tersebut. Semuanya asyik menyaksikan berbagai sajian atraksi kesenian tradisional.

Heleran seni budaya itu tentu dilombakan dan diberikan penghargaan bagi penampilan terbaik.

Untuk tingkat Jawa Barat,  juara pertama diraih Kabupaten Ciamis, kedua diraih Kabupaten Purwakarta dan juara ketiga diraih Kota Cimahi.

Sedangkan untuk tingkat Kota Sukabumi, penampilan seniman dari Kecamatan Cikole memboyong juara pertama, sedangkan juara kedua disabet seniman asal Citamiang dan ketiga dari Warudoyong.

Walikota Sukabumi, M Muraz menjelaskan, acara helaran Sunda ini bertujuan tak lain untuk meningkatkan persaudaraan, dan juga sebagai wujud Pemerintahan Kota Sukabumi yang rahmatan lilalamin.

Disebutkannya, persaudaaran itu tidak hanya tercipta dalam wilayah kota saja, tetapi semuanya harus bersaudara khususnya dengan seluruh penduduk Jawa Barat dan Indonesia.

“Hari ini masyarakat dihadapkan dengan era globalisasi, sehingga budaya lokal harus dipertunjukkan,”.

Orang luar tentunya ingin melihat pagelaran seni yang ada di daerah yang dikunjunginya.

“Jika orang luar datang ke Sukabumi, suguhkanlah budaya Sukabumi, itu akan jauh lebih menarik,” sarannya.

Kepala Desa Sukawangi, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Asep Suhendi menyebutkan, dirinya bersama rombongan menjadi salah satu komunitas yang menjadi peserta helaran.

Ia bersama rekan-rekannya sudah hadir sejak Rabu (29/3/2017) malam, untuk melakukan persiapan sebelum acara dimulai sekitar pukul 13.00 WIB.

“Sebanyak 50 personel dan beberapa seni budaya dilibatkan dalam helaran ini, kami menampilkan kesenian ‘reak medal kawangi’ yang diiringi angklung, barong, kuda lumping dan dog-dog atau gendang,” jelas Asep kepada Radar Sukabumi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Sukabumi, Adang Taufik berharap, dengan ditampilkannya berbagai seni dari setiap daerah se-Jawa Barat ini, ke depan minat warga kepada seni budaya Sunda semakin tinggi.

Dirinya juga sangat puas dengan helaran seni budaya tahun ini. Lantaran, dilihat dari antusisme masyarakat sangat tinggi, dan acaranya pun jauh lebih meriah daripada tahun sebelumnya.

“Mudah-mudahan kebudayaan seni Sunda akan semakin dicintai khususnya Jawa Barat,” harapnya.

Dirinya juga menyebutkan, semua peserta akan dinilai dan diberikan penghargaan. Disebutkannya, kriteria penilaian dilihat dari kreativitas, penampilan, lokalistik, artistik, bentuk serta keutuhan.
(cr11/rdrsmi)

sumber:POJOKJABAR.com,

Friday, 24 March 2017

Karyawati PT Monami Sukabumi Tewas Bersimbah Darah, Simak Kronologisnya Disini



SUKABUMI – Salah seorang buruh PT Monami di Desa Cibolang Kabupaten Sukabumi, meregang nyawa setelah mengeluarkan banyak darah dari hidung dan mulutnya.

Korban yang diketahui bernama Susilawati (35), warga Kampung Cijambu RT 6/3 Desa Sukasari Kecamatan Cisaat ini, meninggal di tempat kerjanya, saat jam istirahat makan siang sekira pukul 12.00 WIB.

Kepala Produksi PT Monami, Sri Susanti (40)  menjelaskan, saat itu ia sedang makan siang bersama teman-temannya.

Namun, saat membawa tas untuk mengambil makanan, Sri dikagetkan dengan melihat darah yang keluar dari hidung dan mulut korban.

“Saya sempat menegur korban karena melihat darah keluar dari hidung. Namun tidak lama kemudian, tiba-tiba korban muntah darah dan langsung tidak sadarkan diri,” jelas Sri saat di lokasi kejadian, Kamis (23/3/2017).

Seluruh karyawan yang berada di dalam garmen tersebut, merasa panik melihat Sri yang muntah darah hingga berceceran di lantai.

“Saat itu, saya langsung melaporkan peristiwa ini kepada pihak HRD PT Monami,” imbuhya.

Kapolsek Gunungguruh, AKP Yudi Wahyudi menjelaskan, pihaknya telah mendapatkan laporan dari karyawan PT Monami, bahwa ada salah satu karyawati yang muntah darah.

“Saat itu, saya langsung mendatangi tempat kejadian perkara (TKP), ternyata benar, saya melihat korban tergeletak di kawasan perusahaan tersebut dengan penuh darah,” jelas Yudi.

Guna kepentingan olah TKP, pihaknya menutup lokasi kejadian dengan cara memasang police line untuk kebutuhan penyelidikan dan mencari keterangan identitas saksi.

“Korban meninggal dunia dalam perjalanan ke Rumah Sakit Betha Medika Cisaat,” terangnya.

Setelah sampai ke Rumah Sakit Betha Medika Cisaat, tutur Yudi, keluarga korban menolak untuk dilakukan otopsi.

“Menurut pengakuan ayahnya, korban ini, sudah hampir satu tahun menderita penyakit paru-paru kronis. Saat ini pun masih dalam masa pengobatan. Untuk itu, kami langsung serahkan jenazah korban pada keluarganya untuk dikebumikan,” ujarnya.

Sementara itu, HRD PT Monami, Amir menjelaskan, saat kejadian ia tengah berada di PT Monami yang berada di Kecamatan Kadudampit.

Namun, saat itu, ia dikagetkan dengan laporan karyawannya bahwa ada salah satu pekerjanya yang pingsan dan mengeluarkan darah dari hidung dan mulut.

“Saat itu, saya langsung bergegas dan langsung mendatangi pabrik. Namun, sayang korban meninggal dunia,” jelas Amir.

Pihak perusahaan, tambah Amir, akan memberikan santunan untuk keluarga korban dengan cara memberikan uang bagi keperluan pemulasaraan korban.

“Saya sudah bawa korban ke rumah sakit, tapi Alhamdulillah keluarga korban telah menyadarinya hingga menolak untuk dilakukan otopsi. Katanya korban ini penderita penyakit TBC akut, untuk itu saya langsung bawa jenazah korban ke rumah keluarganya. Saya sudah melakukan santunan sebesar Rp1 juta kepada keluarga korban. Rencananya besok kami akan kunjungi kembali keluarga korban untuk memberikan santunan sebagai salah satu bentuk manusiawi,” pungkasnya.
(cr13/rdrsmi)

sumber:POJOKJABAR.com,

Wednesday, 22 March 2017

Industri Hasilkan Polusi Udara, Pemda Kabupaten Sukabumi Harus Bergerak



SUKABUMI – Kegiatan pembakaran bahan batu kapur di kawasan kars Desa Padabeunghar, Kabupaten Sukabumi, mendapatkan sorotan dari sejumlah kalangan.

Kali ini, komunitas yang mengatasnamakan Pemuda Peduli Lingkungan Sukabumi (PPLS) Sukabumi menyayangkan sikap pemerintah yang dinilai membiarkan industri tersebut hingga berlarut-larut beroperasi dengan menimbulkan pencemaran udara akibat pembakaran batu kapur.

Selain berdampak terhadap kesehatan warga, asap hitam yang tebal tersebut juga dikhawatirkan dapat merusak lingkungan hidup serta fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan masyarakat sekitar.

Untuk itu, PPLS Sukabumi meminta perlu adanya regulasi dari pemerintah daerah (pemda) agar kegiatan pembakaran batu kapur sesuai dengan standar baku mutu udara.

Terlebih, izin pabrik batu kapur yang ada di Desa Padabeunghar harus dikaji ulang oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi.

“Karena jelas hal ini sudah mengganggu dan merugikan masyarakat sekitar,” jelas Ketua PPLS Sukabumi Taufik, Selasa (21/3/2017).

Akibat dari pembakaran batu kapur ini, sambung Taufik, asap tebal yang keluar dari cerobong pabrik telah mengubah keindahan alam serta kesegaran udara yang asri dapat teracuni.

“Dalam proses kegiatan pembakaran batu kapur ini, akan menghasilkan carbondioksida (co2). Sementara, untuk kapur yang beterbangan di udara akan menghasilkan (caoH2) yang dapat menimbulkan sesak seperti, penyakit paru-paru, mata dan penyakit kulit bagi masyarakat sekitar,” paparnya.

Untuk itu, pemerintah daerah harus segera dan serius menangani pembakaran batu kapur yang berada di Desa Padabeunghar tersebut.

Terlebih lagi, maraknya kegiatan penambang yang dilakukan tanpa memiliki izin usaha pertambangan (IUP).

“Pemerintah daerah harus segera menegakkan Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengolahan Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah (PP) No 41 Tahun 99 tentang Pengendalian Pencemaran Udara,” tandasnya.

Apabila pemerintah tidak serius dalam menangani persoalan ini, maka bencana akan mengancam masyarakat sekitar.

Sebab itu, perlu adanya regulasi baik dari pemerintah daerah maupun dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat agar pembakaran batu kapur sesuai dengan standar baku mutu udara.

“Apabila ini dibiarkan begitu saja, besar kemungkinan bencana akan menyertai masyarakat,” pungkasnya.
(cr13/rdrsmi)

sumber:POJOKJABAR.com

Thursday, 1 December 2016

Alhamdulillah… Sekeluarga Mantan Ahmadiyah di Sukabumi Bersyahadat




 
POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Pasangan suami istri (pasutri) warga Kampung Parakansalak RT 03/02 Desa/Kecamatan Parakansalak Kabupaten Sukabumi mantan jemaah Ahmadiyah kembali masuk Islam dan bersyahadat kembali di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi, Rabu (30/11/2016).

Pasutri yang sudah dikaruniai tiga orang ini, Irwan Noviandri (32) dan Siska Aryani (34) mengucapkan kembali kalimah syahadat.

Pengucapan syahadat itu disaksikan pengurus MUI Kota Sukabumi. Prosesi pengucapan kalimah syahadat tersebut dilakukan di tempat berbeda.


Pasalnya, suami dari Siska Aryani tidak dapat berjalan dan pengucapan kalimah syahadat terpaksa dilakukan di dalam mobil sedan berwarna hitam.

Pantauan Radar Sukabumi, satu keluraga tersebut tiba di Kantor MUI Kota Sukabumi sekitar pukul 13.00 WIB dan disambut oleh pengurus MUI Kota Sukabumi.

sumber:  pojok jabar

Monday, 28 November 2016

Dewan Minta BLH Turun Tangan Terkait Dugaan Pencemaran Lingkungan oleh PT TSS Sukabumi



POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Dugaan pencemaran lingkungan oleh PT Tambang Semen Sukabumi (TSS) di Kampung Cijambe Desa Tanjung Sari, Kecamatan Jampang Tengah, membuat Wakil Ketua DPRD Kota Sukabumi, M Jaenudin angkat bicara.

Ia pun meminta agar Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Sukabumi segera turun ke lokasi untuk memastikan kondisi lingkungan yang dialami masyarakat. Ia mengaku, tak ingin keberadaan perusahaan di Sukabumi merugikan masyarakat.

“”Perusahaan yang masuk ke Kabupaten Sukabumi harus membawa manfaat untuk masyarakat, bukan justru membawa persoalan. Saya minta kepada BLH, segera gerak cepat untuk memastikan kondisi ini.  Jika terbukti merugikan masyarakat, kita warning mereka (perusahaan),” tegasnya.


Terpisah, BLH Kabupaten Sukabumi memastikan hari ini (28/11), akan turun langsung ke lokasi yang diduga terdampak akibat eksploitasi alam oleh PT TSS.
Mereka akan langsung melakukan pengujian terkait air yang dikeluhkan warga di dua ke-RT-an itu. 
 
“Kami sudah rencanakan Senin besok turun ke sana (lokasi) untuk melakukan pengujian air yang dikeluhkan warga,” ujar Kabid Amdal pada BLH Kabupaten Sukabumi, Denis Eriska.

sumber: pojok jabar

Walikota Sukabumi Minta Guru Perhatikan Keselamatan Siswa



POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Ratusan guru di Kota Sukabumi mengikuti upacara peringatan Hari Guru Nasional (HGN) dan Hari Ulang Tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke-71, di Gor Merdeka Kota Sukabumi, Sabtu (26/11/2016).

HGN dan Hari PGRI ini mengangkat tema ‘Membangkitkan Kesadaran Kolektif Guru dalam Membangkitkan Mutu Pendidikan’.

Kegiatan tersebut dihadiri Wali Kota Sukabumi, M Muraz, Wakil Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi, Ketua PGRI Provinsi Jawa Barat Edi Permadi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kota Sukabumi, Dudi Fathul Jawad serta tamu undangan lainnya.


Wali Kota Sukabumi, M Muraz mengungkapkan, tugas dan tanggung jawab guru kian hari semakin berat.

Hal ini menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi dan tetap profesional. Saat ini guru tidak hanya mendidik, tapi melindungi keselamatan siswa karena maraknya kasus penculikan yang korbannya siswa.

“Kami meminta kepada para guru dan orang tua untuk lebih mengawasi, memantau dan menyarankan agar tidak melakukan perjalanan sendirian ke luar rumah,” ujar Muraz.

sumber: pojok jabar

Sebanyak 386 Mahasiswa STAI Sukabumi Diwisuda



POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Sebanyak 386 mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sukabumi tahun akademik 2015-2016 resmi diwisuda di Gedung Anton Soedjarwo, Kompleks Setukpa Lemdikpol Jalan Bhayangkara Kota Sukabumi, Sabtu (26/11).

Wisuda ini merupakan angkatan ke-36 sejak berdirinya STAI Sukabumi tersebut. Ketua STAI Sukabumi, Endin Nasrudin mengungkapan, di usia yang sudah matang ini, tentunya STAI Sukabumi bisa semakin berkontribusi positif bagi perkembangan Sukabumi, khususnya dalam mencetak generasi pendidik.

“Seperti sambutan Wali Kota Sukabumi, M Muraz STAI sudah terbilang dewasa dan wajar jika harus membuka prodi baru dan melakukan perkembangan lebih jauh,” ujar Endin.


Ia menyebutkan, untuk menyambut pernyataan wali kota itu, pihaknya sudah jauh-jauh hari menyiapkan berbagai terobosan, salah satunya membuka pascasarjana (S-2) untuk jurusan Pendidikan Agama Islam.

“SK-nya sudah turun dan Insya Allah Desember ini bisa diberlakukan,” ujarnya.

sumber: pojok jabar

Laka Lantas di Sukabumi Memakan Korban, Bocah 8 Tahun Asal Sukabumi Tewas Terlindas Bus



POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Nahas dialami keluarga AS (40). Pengendara Mio warna biru bernomor polisi F 3011 VH itu harus kehilangan buah hatinya MN (8) setelah menjadi korban kecelakaan lalu lintas di Jalan Raya Palabuhanratu, Minggu (27/11/2016).

Dari data yang dihimpun, sekitar pukul 14.30 WIB, AS bersama istrinya WK (37) dan kedua anaknya MN (8) dan AR (1) mengendarai motor Mio dari arah Palabuhanratu menuju arah Sukabumi.
 
Namun, pada saat melintas Jalan Palabuhanratu tepatnya Kampung Sirnagalih RT 02/05 Desa Citarik Kecamatan Palabuhanratu, AS berniat menyalip kendaraan bak terbuka yang ada di depannya. Namun lantaran jalanan licin dan menurun, membuat AS lepas kendali dan terjatuh.
 


AS beserta istrinya WK yang saat itu menggendong AR terjatuh ke arah kiri, sementara MN terjatuh ke arah kanan. Tak diduga, muncul bus MGI bernopol F 7599 UB yang dikendarai Irman (45) dari arah Sukabumi menuju Palabuhanratu, sehingga melindas kepala MN.

“Diperkirakan MN terjatuh dan bagian kepalanya tepat di bagian ban kanan bus, sehingga meninggal di tempat,” jelas Kanit Laka Ipda Hermansyah, kepada Radar Sukabumi.

sumber: pojok jabar

Friday, 25 November 2016

Tawuran Pelajar Antar SMP di Sukabumi Memakan Korban



POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Sebanyak 32 pelajar dari dua sekolah yakni SMPN 1 Sukaraja dan MTs Ar-Rahmah Sukaraja berhasil diamankan Koramil 0701/Sukaraja, saat hendak tawuran di Kampung Pasarrebo RT02/06 Desa Salaawi Kecamatan Sukaraja, Kamis (24/11/2016).

Aksi puluhan pelajar tersebut diketahui petugas setelah salah seorang warga berteriak dan petugas yang hendak melakukan apel langsung turun untuk mengamankannya.

“Mereka menggunakan angkot. Dari satu angkot berjumlah 16 orang,” ujar Danramil 0701/Sukaraja Kapten Akhmad Samas kepada Radar Sukabumi, Kamis (24/11/2016).


Diterangkan Samas, awal kejadian itu adanya provokasi dari salah satu sekolah yang meludahi angkot sekolah lainnya dan melayang-layangkan gir, sehingga keduanya terlibat baku hantam dan memakan korban satu orang korban bernama Riqi Maulana (7) warga Kampung Salaeurih Desa Asih Kecamatan Sukalarang.

“Korban dibawa ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan lantaran mengalami luka di pipi akibat pukulan sabuk,” terangnya.

sumber: pojok jabar

Thursday, 24 November 2016

BRI Cabang Sukabumi Siap 24 Jam, Transaksi Aman Via Internet Banking


POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Bertransaksi keuangan saat ini makin mudah saja, sejak perbankan nasional menyediakan layanan Internet Banking bagi nasabah mereka. Itu pula yang ditawarkan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Dengan layanan tersebut, nasabah bank pelat merah yang sudah berdiri sebelum Indonesia merdeka itu dapat melakukan transaksi perbankan kapan saja dan di mana saja, baik menggunakan komputer, maupun smartphone.

“Dengan Internet Banking BRI, nasabah dapat berinteraksi dengan BRI selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, 365 hari setahun, di manapun mereka berada,” tutur Pemimpin Cabang (Pinca) BRI Sukabumi, S.M Linton Hutapea yang ditemui Radar Sukabumi di ruang kerjanya, baru-baru ini.


Internet Banking dari BRI ini, masih kata pria yang punya lesung pipit di pipi sebelah kirinya itu, cukup memudahkan beragam kebutuhan transaksi perbankan yang harus diselesaikan secara cepat.

Seperti transfer antarbank, dimana BRI telah bekerja sama dengan 84 bank, bayar kartu kredit BRI maupun bank lain juga bisa menggunakan Internet Banking.

sumber: pojok jabar

Tuesday, 15 November 2016

Pasok Pasar Mebel Jakarta, Aneka Fornitur Sukabumi Produksi 20 Unit dalam Sehari



POJOKJABAR.com, SUKABUMI  – Berbagai model lemari yang berjejer rapi di sejumlah toko, rupanya berasal dari tangan kreatif para pengrajin lokal Sukabumi.

Di Kampung Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, banyak warganya yang turun temurun menjadi pengrajin mebel, salah satunya pembuatan lemari. Ingin tahu lebih jelas produknya? berikut laporannya. 

Subhan – SUKABUMI

Di ruangan yang memiliki luas 300 meter, nampak penuh dengan beragam kayu yang rapi, mulai dari kayu mahoni, jenjeng dan puluhan lembaran triplek.

Usut punya usut, ternyata kayu-kayu tersebut akan diolah menjadi lemari yang memiliki tampilan khas, elegan dan mewah.

Untuk mengolah bahan kayu, nantinya para pegawai dengan tangan terampilnya akan mengawali proses pembuatan lemari.

Mulai dari merapikan bahan kayu menggunakan mesin penghalus, agar kayu lembut dan mengkilat, hingga membuat kerangka lemari.

sumber: pojok jabar

Waduh… Ternyata Ini Sebabnya, Harga Bawang di Sukabumi Terus Meroket


POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Harga bawang merah di pasar tradisional Kota Sukabumi, terus mengalami kenaikan sekitar 14,2 persen.

Pasalnya, harga bawang merah yang sebelumnya di kisaran Rp42 ribu per kilogram, sekarang menjadi Rp48 ribu per kilogram.

Peningkatan harga komoditas bawang tersebut disusul dengan kenaikan harga cabai rawit merah yang naiknya sekitar Rp10 ribu dari sebelumnya Rp50 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram.

“Kenaikan ini disebabkan pasokan kedua komoditas ini mengalami penurunan.

Sedangkan permintaan tetap dari konsumen,” ungkap Kabid Perdagangan Dinas Koperasi Perindustrian Perdagangan (Diskoperindag) Kota Sukabumi, Wahyu Setiawan kepada Radar Sukabumi, Selasa (14/11/2016).

Menurut Wahyu, kenaikan tersebut disebabkan cuaca ekstrem selama beberapa pekan terakhir. Sehingga, hasil panen tak menguntungkan para petani bawang dan cabai merah.

“Hujan juga salah satu penyebabnya. Karena, akibat hujan hasil pertanian banyak yang rusak maupun busuk akibat terendam,” terangnya.

sumber: pojok jabar

Monday, 14 November 2016

Pasca Terjadinya Longsor, Camat Cibadak Sukabumi Surati Pemilik Gedung


POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Pasca terjadinya longsor yang menutup sebagian Sungai Leuwipanjang Kelurahan/Kecamatan Cibadak belum lama ini, Pemerintah Kecamatan Cibadak langsung melayangkan surat teguran kepada pemilik bangunan supaya disesuaikan dengan surat rekomendasi yang dikeluarkan.
 
“Hari ini (Jumat, 11/11/2016) kami layangkan surat teguran supaya bangunan ini sesuai dengan izin yang dikeluarkan,” ujar Camat Cibadak, Abdul Rivai kepada Radar Sukabumi, Jumat (11/11/2016).

Menurut Abdul Rivai, berdasarkan surat rekomendasi yang dikeluarkan oleh Dinas PSDA Provinsi Jawa Barat, jarak bangunan dari sempadan sungai paling sedikit 10 meter.
Namun faktanya, bangunan yang kini tengah dalam proses itu tepat berada di bibir sungai.

“Kan ini sudah tidak sesuai. Makanya, kami tegur mereka supaya memerhatikan acuan perizinan yang dikeluarkan,” imbuhnya.

Disinggung apakah akan dilakukan pembongkaran terhadap bangunan di sepanjang sempadan sungai, orang nomor satu di Kecamatan Cibadak ini mengaku belum melangkah ke arah sana.

Kalau pun harus melakukan tindakan represif, maka pihaknya akan koordinasi dengan instansi pemerintah lainnya.

“Kita lihat saja hasil evaluasi dari PSDA Provinsi Jawa Barat. Kalau pun harus dibongkar, nanti akan ada tahapan yang harus ditempuh,” singkatnya.

Tokoh masyarakat setempat, Yusep Muharram menambahkan, dengan adanya kejadian longsor ini, seharusnya dijadikan sebagai awal oleh Pemerintah Kabupaten Sukabumi untuk melakukan inventarisir bangunan yang berada di sepanjang aliran sungai.

“Ini menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Sukabumi untuk inventarisir bangunan yang berada di sepanjang aliran sungai. Regulasi, harus benar-benar dikawal dan ditegakkan,” timpalnya.

Seperti di daerah lain, lanjut Yusep, pemda dengan kewenangannya bisa melakukan upaya penertiban bangunan yang berdiri di sepanjang aliran sungai.

Selain melanggar aturan, juga keberadaan bangunan di sepanjang aliran sungai ini akan membahayakan warga yang menempatinya.

“Kasihan masyarakat kalau ini dibiarkan. Karena bagaimana pun, mereka harus diingatkan,” singkatnya.

sumber : jabar.pojoksatu.id

Thursday, 3 November 2016

Desa Sukajaya Sukabumi Galakkan Program ‘Tikukur’

Ilustrasi
POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Sejak menjabat Agustus 2013 lalu, Kepala Desa Sukajaya Kecamatan Sukabumi, Deden Gunaefi terus berinovasi di desanya.

Dengan semangat kepemudaan yang diusung, pria yang akrab disapa Kades Aleng ini kerap memberikan sentuhan berbeda dalam menjalankan roda pemerintahannya.

Tak ayal, beberapa program yang digulirkan baik dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat dan pemerintah pusat pun berjalan dengan baik.

Bahkan, ayah dua orang anak itu pun selalu menggandeng masyarakat dalam berbagai bentuk penyelesaian persoalan desa.

“Kita pun punya slogan yaitu Tikukur, ti urang ku urang keur urang (dari kita, oleh kita, untuk kita, red),” ujar Deden kepada Radar Sukabumi, Selasa (1/11/2016).

Diungkapkannya, program Tikukur ini merupakan gagasan dari ke RW 06 Kampung Selatamiang, yang mana keberadaan desa harus beriringan dengan masyarakat sekitar, sehingga transparansi anggaran dan kegotongroyongan dalam membangun desa lebih mudah.

Sumber : pojok jabar

Uploader : Ariesta.S.S

Waduh… Guru Bahasa Sunda di Sukabumi ‘Lenyap’

Ilustrasi

POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Sunda SMA Kota Sukabumi, Yayan Ridwan meminta bahasa Sunda diajarkan di luar lingkungan sekolah seperti keluarga.

Menurutnya, saat ini pelajaran bahasa Sunda hanya diajarkan di sekolah hanya sepintas. Dirinya berpendapat anak lebih banyak waktunya bersama keluarga dan anak pun bisa lebih memahami dan menyerap dengan baik.
“Kami berharap metode pembelajaran bahasa Sunda perlu ditanamkan pula di jenjang TK hingga perguruan tinggi dan salah satu TK di Kota Sukabumi yang mempelajari bahasa Sunda adalah TK PGRI Citamiang,” kata dia.
Untuk guru mata pelajaran bahasa Sunda tingkat SMA negeri di Kota Sukabumi sebanyak 11 guru, dan untuk tingkat SMA swasta 16 guru.
Hal ini pun masih kekurangan, terutama di sekolah swasta rata-rata satu sekolah satu guru, apalagi di SMA Nurul Karomah Kota Sukabumi, kepala sekolah sekaligus mengajar bahasa Sunda.

Sumber:pojok jabar

Uploader: M Ikhsan Ramdani

Waduh… Guru Bahasa Sunda di Sukabumi ‘Lenyap’


POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Sunda SMA Kota Sukabumi, Yayan Ridwan meminta bahasa Sunda diajarkan di luar lingkungan sekolah seperti keluarga.

Menurutnya, saat ini pelajaran bahasa Sunda hanya diajarkan di sekolah hanya sepintas. Dirinya berpendapat anak lebih banyak waktunya bersama keluarga dan anak pun bisa lebih memahami dan menyerap dengan baik.

“Kami berharap metode pembelajaran bahasa Sunda perlu ditanamkan pula di jenjang TK hingga perguruan tinggi dan salah satu TK di Kota Sukabumi yang mempelajari bahasa Sunda adalah TK PGRI Citamiang,” kata dia.

Untuk guru mata pelajaran bahasa Sunda tingkat SMA negeri di Kota Sukabumi sebanyak 11 guru, dan untuk tingkat SMA swasta 16 guru.

Hal ini pun masih kekurangan, terutama di sekolah swasta rata-rata satu sekolah satu guru, apalagi di SMA Nurul Karomah Kota Sukabumi, kepala sekolah sekaligus mengajar bahasa Sunda.

sumber: pojok jabar