BALI-RADAR BOGOR, Walikota Bogor Bima Arya menjadi
pembicara di salah satu sesi dalam forum pertemuan tahunan yang digagas
International Monetary Fund (IMF) dan World Bank di Westin Hotel Nusa
Dua, Bali, Sabtu (13/10/2018).
Selain memaparkan mengenai konsep Kota Bogor, Bima Arya juga membuka
peluang bagi pihak swasta untuk ikut ambil bagian dalam pembangunan di
kota hujan.
Dalam forum internasional yang diikuti delegasi dari berbagai negara
itu, Bima Arya berbicara dalam sesi bertajuk Inclusive Urbanization Amid
Global Change. Selain Bima, tampak pembicara lain dalam forum tersebut
Vice President and Chief Operating Officer International Finance
Corporation Stephanie von Friedeburg, Managing Director Grab Indonesia
Ridzki Kramadibrata dan McKinsey Global Institute Director Jonathan
Woetzel.
Menurut Bima, Kota Bogor saat ini tengah menghadapi dua tantangan
arus simultan. Pertama, soal pertumbuhan penduduk dan kedua terkait Kota
Bogor yang menjadi bagian dalam megapolitan Jabodetabek.
“Kota Bogor sebagai bagian dari megacity atau megapolitan Jakarta dan
sekitarnya. Sekarang posisinya kedua di dunia setelah Tokyo dalam hal
jumlah penduduk, yakni 32 juta jiwa. Belum lagi arus urbanisasi setiap
tahun terus naik, komuter setiap hari 800 ribu orang per hari pulang
pergi Jakarta-Bogor. Dan jumlah pengunjung Bogor setiap weekend terus
meningkat sekitar 300 ribu – 400 ribu orang,” ungkap Bima.
Karena itu, lanjut Bima, tantangan bagi Pemkot Bogor dan wilayah
megapolitan lainnya adalah bagaimana memastikan arus urbanisasi itu
diiringi dengan peningkatan infrastruktur dan peningkatan layanan publik
yang efektif dan efisien.
“Kata kuncinya adalah kolaborasi. Sejak 2014 Kota Bogor membuka diri
untuk berkolaborasi baik di skala lokal, nasional, maupun internasional.
Bermitra dengan sektor swasta, kampus untuk menyusun konsep dan
bermitra juga dengan komunitas karena tantangan urbanisasi tidak hanya
bisa dihadapi sendirian oleh pemkot tetapi juga dengan pihak lain,”
jelasnya.
Dengan ritme pemerintahan saat ini yang serba cepat, menurut Bima,
penting untuk melibatkan pihak swasta dalam kontribusi pembangunan.
Karena, lanjut dia, negara berkembang tengah menghadapi kebutuhan
pembiayaan pembangunan infrastruktur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi
yang berkelanjutan.
“Kita tidak bisa terus mengandalkan APBD yang terbatas untuk
mewujudkan akselerasi pembangunan. Peran serta pihak swasta untuk
mendukung pembiayaan pembangunan infrastruktur menjadi salah satu kunci
sukses. Seperti arahan Pak Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil agar daerah
bisa mencari sumber pembiayaan lain, salah satu opsinya adalah lewat
skema KPBU (Kerjasama Pemerintah Badan Usaha), tapi ini sedang
dimatangkan format yang pas agar sesuai aturan,” beber Bima.
Momentum di kegiatan bersama IMF-World Bank itu dimanfaatkan Bima
Arya untuk membuka jalan kerjasama dan menjaring minat pihak swasta agar
tertarik ikut terlibat dalam pembangunan daerah.
“Paling tidak dalam pertemuan tadi, bahwa Kota Bogor ini sudah masuk
radar dari world bank dan IMF untuk menjadi salah satu wilayah yang
menjadi perhatian. Saya bertemu dengan banyak pembuat kebijakan, saya
bertemu dengan banyak investor, dan akan diatur waktu beberapa investor
terkemuka dunia untuk berkunjung ke Kota Bogor juga. Segera dalam waktu
dekat,” pungkasnya. (gal/c)
Monday, 15 October 2018
Home »
» Jadi Pembicara IMF-World Bank, Bima Arya Jaring Investor Bangun Kota Bogor







0 komentar:
Post a Comment