Banner 1

Friday, 2 March 2018

Saudara Saya Robert Lai: Si Cantik Lincah dari Harbin


Dari Robert Lai pula saya kenal Meiling. Nama lengkapnya Chang Meiling. Gadis (waktu itu) Tiong­kok yang belum la­ma tinggal di Singapura.

Waktu itu saya ingin mene­rus­kan pelajaran bahasa Mandarin saya. Sudah kepalang tanggung. Saya sudah kursus di Surabaya selama tiga bulan.

Saya sudah kursus di Jiangxi Chifan Daxue (semacam IKIP) selama sebulan penuh di kota Nanchang, Tiongkok. Di sini saya masuk asrama mahasiswa. Hidup bersama

mahasiswa lokal. Saya belajar 16 jam sehari.

Di luar mata pelajaran di kampus saya menambah pelajaran sendiri dengan cara mendatangkan guru ke kamar saya. Mereka tidak tahu siapa saya karena makan pun
saya ikut tarif mahasiswa (waktu itu) Rp3.000/makan.

Mereka baru heran ketika saya membeli selimut yang menurut mereka mahal. Waktu itu udara kian dingin. Saya terpaksa membeli selimut.

Tahun berikutnya saya kursus lagi sebulan. Dengan cara yang sama. Hanya saja kali ini di Beijing. Di Beijing Ren Ming Daxue.
Nah, tahun berikutnya lagi saya ingin kursus dengan cara lain: Home stay. Tinggal di dalam satu rumah tangga orang Tiongkok yang di rumah itu tidak ada yang

bisa berbahasa Inggris. Biar saya, mau tidak mau, terpaksa berbicara bahasa Mandarin.
Sepanjang hari. Selama sebulan.

Saya kemukakan keinginan itu ke Robert. Dia menghubungi Meiling. Gadis cantik ini menyarankan saya home stay di kota kelahirannya: Harbin.

Dua alasan dikemukakannya. Pertama, dia kenal keluarga yang mungkin siap untuk menerima saya. Kedua, katanya, bahasa Mandarin yang paling asli itu berasal dari
wilayah itu.

Robert setuju atas usul Meiling. Saya terserah saja.

Kota Harbin adalah ibukota propinsi Heilongjiang. Provinsi yang berbatasan dengan Rusia.

Tentu di musim dingin luar biasa dinginnya. Bisa minus 30 derajat. Dan amat tebal saljunya.

Provinsi ini termasuk empat provinsi yang disebut kawasan Manchuria. Suku bangsanya Manchu. Pernah menguasai seluruh Tiongkok selama 300 tahun.
Kini suku Manchu itu sudah tidak pernah disebut lagi. Sudah melebur ke dalam suku Han. Suku Hanlah yang kini merupakan 90 persen penduduk Tiongkok.

Manchuria atau suku Manchu tidak pernah lagi disebut sebagai mantan penjajah Tiongkok.

Saya diantar Robert dan Meiling ke Harbin. Langsung diperkenalkan dengan satu keluarga polisi berpangkat rendah. Istrinya mantan perawat. Satu anaknya sudah

remaja putri dan satu anak laki-lakinya lagi masih anak-anak.

Keluarga polisi tersebut memang dari generasi yang belum terkena peraturan hanya boleh punya satu anak.

Berkat Meiling-lah saya bisa langsung masuk dalam keluarga itu. Tidak ada prosedur apa pun.
Sebagai orang asing yang akan tinggal di sebuah negara komunis mestinya banyak prosedur yang harus dilewati. Waktunya pun bisa sangat panjang.

Rumah itu seperti apartemen dua lantai di satu blok kira-kira 100 rumah. Satu blok itu hanya punya satu gerbang. Ada taman kecil di tengah blok tersebut.

Sebenarnya ada satu ponakan yang tinggal di rumah itu tapi diungsikan entah ke mana. Kamar­nya disediakan untuk saya.

Selama berada di Harbin saya sempat mengajak pak Polisi itu jalan-jalan. Naik pesawat. Ke kota Heihe. Letaknya di perbatasan dengan Rusia. Yang hanya dibatasi
oleh sungai.

Di akhir home stay saya pak polisi itu memberikan kenangan yang menarik: seragam polisi Tiongkok. Lengkap dengan topi dan tanda pangkatnya.

Saya pernah berfoto dalam seragam itu dan sering menimbulkan pertanyaan yang aneh-aneh.

Tahun-tahun berikutnya Meiling banyak membantu saya. Misalnya kalau saya ingin mengajak beberapa bupati atau walikota ke Tiongkok. Agar bisa bertemu kepala
daerah di sana. Untuk mendapat inspirasi bagaimana bisa membangun kota begitu cepat di sana.

Meilinglah yang mengatur agendanya di sana. Yang menghubungi para kepala daerah yang dituju. Rasanya sudah lebih 30 bupati/wali kota/gubernur yang ikut program
seperti itu di awal tahun 2000-an.

Meiling sangat lincah. Berpikirnya juga cepat. Apalagi jalannya. Tindakannya pun sangat cekatan.

Beberapa tahun kemudian saya dengar Meiling mulai pacaran. Dengan pemuda Singapura yang mapan. Saya pun hadir di perkawinannya itu. Istri saya mengenakan
kebaya resmi ala Jawa. Dia sudah berpakaian seperti itu sejak dari Surabaya.

Ternyata pesta perkawinan di Singapura itu sangat simple. Yang hadir hanya sekitar 50 orang. Padahal pengantin prianya dari keluarga yang tergolong amat kaya.
Istri saya dengan pakaian Jawanya menjadi sangat menonjol di pesta itu.

Kini Meiling sudah punya dua anak. Laki dan perempuan. Saat saya opname di Singapura itu praktis tidak pernah makan makanan rumah sakit.

Dua kali sehari Meiling mengantari saya makanan dari rumahnya. Suaminya sendiri, Daniel, yang mengantar­kannya.

Saya berbahagia. Punya teman-teman baik di mana-mana.

Di Indonesia, di Singapura, di Tiongkok, di Amerika, di Italia dan di banyak belahan lain dunia. Hidup itu indah.


sumber: radarbogor.id

Related Posts:

  • Cerita Albert Gilbert Nanlohy Latih Tinju Presiden Sudah empat bulan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjalani privat tinju dengan Albert Gilbert Nanlohy. Di antara murid-murid yang lain, presiden termasuk yang mudah melahap menu latihan dengan cepat.Folly Akbar, Kota BogorN… Read More
  • Toko Roti ini Didenda karena Tidak Libur PRANCIS-RADAR BOGOR,Libur itu penting! Gara-gara buka seminggu penuh, sebuah toko roti kecil di Lusigny-sur-Barse, Prancis, didenda.Tidak main-main, dendanya mencapai 3.000 euro alias Rp50,7 juta! Cedric Vaivre, pemilik to… Read More
  • Terus Kumpulkan Tanda Tangan JAKARTA–RADAR BOGOR,Koalisi Masyarakat Sipil terus menolak Undang-Undang tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (UU MD3).Salah satu cara… Read More
  • Bank Enggan Perhatikan Sistem Keamanan JAKARTA–RADAR BOGOR,Rentetan kasus skimming ATM dan kartu kredit yang terjadi belakangan menandakan bahwa bank-bank di Indonesia masih abai terhadap sistem keamanan.Auditor Informasi dan Teknologi dari Badan Pengkajian dan… Read More
  • Ganjil Genap di Jagorawi segera Diberlakukan JAKARTA–RADAR BOGOR,Untuk mengurangi kemacetan di perkotaan, Kementerian Perhubungan akan memberlakukan aturan ganji genap di tol Jagorawi dan Tangerang. Sebelumnya, aturan diberlakukan di Bekasi mulai Senin lalu (12/3).Kh… Read More

0 komentar:

Post a Comment