Banner 1

Thursday, 8 August 2019

Angkot Sepi Penumpang, Supir Geram Ulah Pembunuh Alumni IPB


CIANJUR-RADAR BOGOR,Kasus pembunuhan Amelia Ulfa Supandi yang merupakan alumni D3 Institut Pertanian Bogor (IPB) memberi dampak cukup besar bagi supir angkot Jurusan Cianjur-Bogor.
Musababnya, pasca terungkapnya kasus yang cukup menghebohkan itu, sejumlah sopir mengeluh penumpang enggan naik angkutan colt berwarna putih itu.
Bahkan, sejumlah masyarakat masih merasa trauma. Sebab kejadian tersebut menyangkut angkutan yang biasa digunakan oleh masyarakat Cianjur yang akan menuju Bogor maupun sebaliknya.
Ditemui Radar Cianjur (Radar Bogor Grup), sejumlah sopir angkutan Cianjur-Bogor mengaku sangat geram dengan ulah RH yang juga menjadi sopir pengantar gas elpiji 3 kilogram itu. Seperti yang diungkap Aman (70). Ia mengaku merasakan dampak dari pembunuhan keji yang dilakukan RH itu.
Bahkan kemarin, ia terpaksa menunggu penumpang sejak pukul 9.00 WIB hingga 11.00 WIB, namun tak satupun kursi angkutannya terisi penumpang.
“Sekarang penumpang jadi enggan naik kendaraan Bogoran. Ya semenjak kasus pembunuhan (Amelia) kemarin. Padahal pelaku kan bukan supir asli atau biasa kita sebut supir tembak,” ungkapnya.
Dari sekian jam menunggu, lanjutnya, hanya beberapa penumpang saja yang mau menaiki mobil angkutannya. Itupun adalah penumpang yang memang sudah kerap menggunakan angkutan tersebut dan kenal serta kerap mengobrol dengan sopir.
Padahal, di hari biasa, dalam waktu satu jam saja sudah ada penumpang yang menaiki angkotnya.
Kini, para penumpang malah terkesan lebih selektif dengan lebih dulu melihat sopir angkutan Bogoran itu.
“Kalau penumpang biasanya melihat dulu supirnya, tapi disini semua supir bukan supir tembak, jadi jelas dan memang sudah biasa,” papar pria yang sudah menjadi supir angkutan sejak 1954 ini.
Bahkan, lanjutnya, ada juga penumpang jika malam hari melihat dulu kondisi mobil, apakah sepi atau ada penumpang. Jika sepi atau kosong, penumpang enggan untuk naik.
Pelaku RH baru setahun kurang menjadi supir tembak mobil Bogoran. Dari informasi beberapa sopir, RH bahkan tidak pernah mangkal di Panembong yang biasa menjadi ‘termninal’ mobil Bogoran, tapi lebih banyak di Pasir Hayam. Mobil yang digunakan pelaku pun bukan biasa yang ada di Panembong, melainkan milik supir yang ada Cipanas.
“Kita disini tidak kenal sama sekali dengan pelaku, hanya tau saja,” ungkap pria yang akrab Abah Aman biasa dipanggil.
Seperti halnya Abah Aman, Mamat (36) salah satu supir colt pun mengaku geram dan kesal atas dampak dari kasus pembunuhan tersebut. Masyarakat jadi lebih memilih bus sebagai angkutan menuju Bogor.
“Tentunya kami merasa dirugikan, karena masyarakat malah menyama ratakan semua supir dan seakan-akan menakutkan,” jelasnya.
Biasanya, dalam waktu satu jam sekali mobil bisa terisi penuh. Namun seperti sekarang, kondisinya hanya beberapa penumpang saja yang mau menumpang angkotanya.
Dirinya bersama supir lainnya mengimbau kepada semua penumpang agar melihat kondisi mobil dan mengingat maupun memfoto jika memang kondisi yang dapat membayakan diri sendiri. Bahkan, jika memang kosong dan merasa kurang aman, penumpang lebih baik tidak naik agar hal serupa tidak terulang.
“Kita berikan imbauan kepada penumpang langganan kita agar lebih hati-hati dan waspada, bila perlu difoto saja supirnya atau jangan naik kalau kosong,” paparnya.
Meski demikian, ada pula penumpang yang memang masih tetap memilih transportasi yang menyambungkan dua kota ini. Anisa (44), sudah terbiasa dan sangat mengenal beberapa supir colt putih di Panembong, dirinya tidak mengetahui kasus pembunuhan yang terjadi. (radarcianjur/kim/ysp)

Related Posts:

0 komentar:

Post a Comment