BOGOR-RADAR BOGOR, Demi menjawab misteri kematian
Indriyani, Siswa Kelas 6 SDN Cipetir 1, Desa Tugu Jaya, Kecamatan
Cigombong, setelah disuntik tetanus difteri, Jajaran Dinas Kesehatan
Kabupaten Bogor menerjunkan tim investigasi. Seperti apa hasilnya?
Ya, simpang siur informasi kematian Indriyani sudah terjawab.
Sejumlah pihak terkait merespon positif berita duka yang sebelumnya
dirilis media ini. Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor yang menerjunkan tim
khususnya telah mendapatkan hasil.
Seperti yang disampaikan Intan Widayati, Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular, selaku ketua tim investigasi.
“Kami mengumpulkan semua petugas yang terkait, mulai dari yang
menyuntik, yang memeriksa di Puskesmas yang membawa dan keluarga yang
bersangkutan,” ujar Intan kepada radarbogor.id, Selasa (28/8/2018).
Dalam catatan pihak Puskesmas, Indriyani wafat pada 20 Agustus 2018.
Saat ditelusuri ke pihak sekolah, kegiatan penyuntikan digelar pada
Jumat hingga Senin.
“Nah Jumatnya ini Jumat minggu lalu, bukan Jumat empat hari
kebelakang itu. Mungkin miss persepsi penyampaian informasi dari pihak
keluarga yang menyatakan disuntik hari Jumat,” jelas Intan yang ditemui
di ruang kerja Sekretaris Dinas Kesehatan, Erwin Suriana.
Pihak Dinkes juga memaklumi sisi awam keluarga Indriyani dari cara menyampaikan informasi.
“Soal tanggal mereka tidak menyampaikan, hanya bilang Jumat dan
ditangkap para pewarta yakni Jumat empat hari setelah disuntik itu. Yang
benar, penyuntikan dilakukan tanggal 10 Agustus 2018 yang memang juga
hari Jumat. Ini hanya miss persepsi saja dari yang menyampaikan
informasi awal,” lanjut Intan.
Dari pihak keluarga, Omah ibunda Indriyani menyampaikan bahwa
Indriyani memang sakit. Indriyani sempat diberikan obat warung dan
dianggapnya sembuh.
“Kami juga bertemu dengan guru yang bersangkutan, Indriyani sempat
pulang terlebih dahulu untuk meminta izin disuntik kepada orangtuanya.
Ibunya sendiri membenarkan kalau Indri pulang minta izin disuntik,
ibunya mempersilahkan demi kesehatan anaknya,” jelasnya.
Kepada tim, Omah juga menyampaikan jika setelah disuntik, Indriyani
tidak mengeluh sakit. Ia bahkan tetap berangkat sekolah, bahkan mengaji.
Begitupun keesokan harinya, ia masih berangkat ke sekolah dalam
kondisi sehat. Hingga empat hari sebelum wafatnya, Indriyani baru
mengeluh sakit. Keluarganya yang juga pengurus RT setempat menyarankan
ia untuk dibawa ke rumah sakit.
“Ibunya selalu menolak, karena menganggapnya Indriyani sakit biasa
saja. Saat didesak sekalipun, ibunda Indriyani mengaku telah berobat ke
dokter di kawasan Cicurug. Namun tim tidak menemukan bekas bungkusan
obat dokter seperti yang biasanya didapatkan para pasien selepas
berobat. Kartu berobat andai kata itu klinik juga tidak ada. Kami tidak
bisa menemukan sebenarnya dimana dokternya itu,” paparnya.
Tanggal 20 Agustus 2018, keterangan Ketua RT setempat yang juga
kerabat dekat keluarga Indriyani mendapati ia mengeluh sakit pada bagian
perutnya. Ia juga sempat pingsan di rumahnya. Saat itu, pihak keluarga
langsung mencari bantuan ambulan desa dan membawanya ke puskesmas.
“Pak RT sebelumnya sudah menyarankan Indri segera dibawa ke Puskesmas, tetapi ibunya tidak mau,” jelasnya.
Menurut keterangan petugas puskesmas, ambulan desa yang datang
membawa Indriyani langsung menangani di UGD. Petugas memeriksa tanda
vital, memeriksa tensi dan suhu. Saat itu, nafas Indriyani sudah tidak
ada. Dokter yang menangani saat itu memastikan jika Indriyani telah
wafat.
Setelah itu, pihak keluarga tidak menyampaikan informasi apapun kepada para petugas dan langsung membawanya pulang.
“Informasi yang diterima puskesmas, anak tersebut sakit, panas
tinggi, tiba-tiba tidak sadar. Hal ini diasumsikan sebagai hal biasa
dalam ritme sakit kemudian wafat. Tidak sampai ada informasi habis
disuntik lalu sakit, namun kemudian ramai di pemberitaan online wafat
setelah empat hari disuntik DPT,” jelasnya.
Bicara soal vaksin yang disuntikan kepada 35 orang dari 52 orang
siswa kelas 6. Empat di antaranya tidak disuntik karena dalam keadaan
tidak masuk sekolah karena sakit. 13 orang siswa lainnya juga tidak
disuntik karena sedang sibuk latihan upacara bendera. 35 orang pelajar
termasuk Indriyani setelah disuntik tidak ada keluhan apapun.
“Suntikan kepada Indriyani merupakan kegiatan yang kedua, tahap
pertama juga ia disuntik dan tidak ada keluhan. Kami hanya bisa
menjabarkan kronologisnya. Kesimpulan dari rangkaian investigasi ini
adalah kewenangan Komda,” pungkasnya.
(bil)