Banner 1

Parah! Pedestrian Belum Bersih dari PKL

BOGOR – Pemkot Bogor terus berbenah menjelang akan diresmikannya fasilitas pedestrian (pejalan kaki) Kebun Raya Bogor (KRB). Sejumlah SKPD dikumpulkan dalam rapat di Paseban Surawisesa Balaikota, Kamis (05/01/2017). Salah satu masalah yang menjadi sorotan Walikota Bogor Bima Arya adalah jalur pedestrian yang belum steril......

Menang di #WeLoveCities, Bogor Dinobatkan Sebagai Kota Paling Dicintai di Seluruh Dunia

BOGOR- BOGOR - Setelah melewati proses panjang, akhirnya Kota Bogor meraih kemenangan di ajang #WeLoveCities dan dinobatkan sebagai kota paling dicintai di seluruh dunia dalam ajang yang digelar World Wide Fund for Nature....

PSB Bogor Sukses Gulung Persima Majalengka

BOGOR - PSB Bogor berhasil meraih poin penuh dalam lanjutan Liga Nusantara 2016. Tidak tanggung-tanggung anak-anak Laskar Pakuan menggulung tim asal Jawa Barat lainnya, Persima Majalengka enam gol tanpa balas....

Hadapi Liga Nusantara, PSB Matangkan Persiapan

BOGOR–Skuat PSB terus mengasah kemampuannya dalam rangka persiapan menghadapi Liga Nusantara (Linus) di Depok pada 8-11 Agustus nanti. Bertempat di Stadion Padjajaran, kemarin tim kebanggaan warga Kota Bogor ini melakoni uji tanding melawan kesebelasan Ciomas....

Mantap! Atasi Pemotor Nekat, Walikota Instruksikan Patroli di Jalur Sepeda Otista

BOGOR – Aksi Mahesa Jenar (13) dan Wildan Pratama Putra (13) yang nekat memalang sepedanya di jalur sepeda Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista) yang dilewati pengguna sepeda motor jelas menampar telak Pemkot Bogor.Walikota Bima Arya bahkan mengaku greget jika melewati Jalan Otista. Jalur yang dibangun khusus untuk sepeda seringkali dikuasai sepeda motor, berbeda dengan.......

Wednesday, 2 March 2016

Kasihannya Siswa SD di Bogor Ini, Belajar tanpa Bangku dan Meja


BOGOR – Puluhan pelajar SDN Kertajaya 03, Desa Mekarsari, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, hampir tiga bulan belajar di lantai.

Pelajar terpaksa belajar di lantai karena tidak memiliki meubeler.

“ Siswa juga sering ngeluh sakit pinggang karena harus membungkuk saat menulis,” kata Indra, salah satu guru SDN Kertajaya 03, Senin (29/02/2016).

Terpisah, Kepala SDN Kertajaya 03, Edi Tarnadi menuturkan jika pihaknya tidak bisa membeli mebeleur karena tidak ada anggaran.

Selama ini, kata dia, anggaran yang dialokasikan dari Pemerintah Kabupaten Bogor hanya diperuntukan untuk pembangunan gedung.

“Saya belum tahu ada bantuan dari disdik atau tidak. Belum ada kabar dari dinas. Kuta butuh 100 set meja dan bangku,”terangnya. (ent)

Ini Sosok Roger Pedagang Pulsa yang Diumrohkan Hasil ‘Keroyokan’Alumni IPB



BOGOR – Cecep Hidayatullah (47) alias Roger belasan tahu bekerja sebagai pedagang asongan di kampus Institut Pertanian Bogor, Dramaga Kabupaten Bogor. Profesi sebagai pedagang asongan dengan kalimat khas yang kerap beliau lontarkan kepada siapa pun yang ditemuinya, “eh pulsa dong…” 
sambil mengalungkan ponsel yang biasa digunakan untuk menjual pulsa elektronik telah menjadi ciri khas Pak Roger. 

Tak aneh jika pria yang berdagang di sekitar kampus IPB sejak tahun 2003 banyak dikenal mahasiswa IPB. Awalnya, Roger hanya menjual rokok sambil berkeliling ke pangkalan ojek yang ada di daerah Dramaga. Uniknya, nama Pak Roger sebenarnya berawal karena dulu beliau selalu menawarkan rokok dengan mengganti kata “rokok” yang notabene kurang pantas dijual di area kampus, diplesetkan menjadi “roger” agar tersamarkan.

Pada tahun 2008, atas saran seorang guru ngajinya, Roger mengganti barang dagangannya menjadi pulsa, permen, hingga pulpen ketika musim ujian semester tiba. Ia berjualan dari kelas ke kelas, dari fakultas ke fakultas lainnya tak heran kalau ia hafal banyak nama mahasiswa. Sosoknya yang ramah seringkali menyelipkan nasihat kebaikan pada orang yang ditemuinya.


Selain untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Roger memilih berdagang asongan karena ingin bertemu dengan banyak orang dan berbagi ilmu agama yang ia ketahui. Lewat berdagang pulsa lah Roger bisa bertemu banyak orang dan menyampaikan pengetahuan agama yang ia ketahui.

“Semakin banyak orang yang ditemui, maka Inshaa Allah semakin banyak yang dihitung jadi amal sama Allah”, jelasnya.

Beliau bercerita bahwa, cita-cita hidupnya adalah ingin berangkat umrah dan tujuan hidupnya hanya ingin menjadi orang yang bermanfaat.  Ribuan mahasiswa IPB yang pernah bertemu dengannya terinspirasi oleh kebaikannya. Semua tergerak untuk berpatungan memberi hadiah umrah melalui kitabisa.com/umrahroger. Hasilnya dalam 2 hari, terkumpul 100 juta dan masih terus bertambah. Roger akan berangkat umrah April nanti.

“Semoga Allah membalas kebaikan semuanya. Inshaa Allah, sekecil apapun, kebaikan yang kita lakukan akan selalu kembali kepada kita semua”
Bisa dibilang, Roger merupakan legenda, kebaikannya melegenda, terpatri di dalam hati ribuan mahasiswa IPB yang setiap hari disapanya.Roger menjadi bukti bahwa kebaikan itu menyebar, dan kebaikan yang kita tanamkan suatu saat nanti akan kita tuai. (ent)

Dipecat, Eks Dirut PDAM Pilih Liburan



BOGOR - Setelah diberhentikan oleh walikota secara resmi. Mantan Dirut PDAM Tirta Pakuan, Untung Kurniadi mengatakan menerima semua keputusan yang diambil Walikota Bogor, Bima Arya. Menurutnya, sebagai anak buah dirinya harus mematuhi keputusan yang diambil walikota. “Saya ini bagaimanapun anak buah walikota, jadi harus loyal dan fatsun terhadap atasan saya,” ujarnya.
           

Saat ditanya tujuan setelah berhenti menjabat sebagai dirut PDAM Tirta Pakuan? dia hanya tertawa dan mengaku akan berlibur. “Saya mau liburan, sudah tiga tahun saya belum pernah libur,” kilahnya.
           

Walikota kata dia, memiliki hak untuk bertindak, membuat kebijakan maupun memutuskan sesuatu hal, jika langkah walikota bertindak sesuai etika maka sah-sah saja, dan sampai saat ini, Untung mengaku belum berpikir akan mengajukan langkah hukum maupun menggugat SK Walikota . “Saya akan pelajari dulu SK dari Walikota, jadi belum kepikiran akan mengambil langkah hukum kedepannya,” ucapnya.
            

Terkait lanjutan pelaporan yang akan diajukan dia terkait dugaan penyebar luasan fitnah, dan kejahatan dalam jabatan pihaknya masih mengkonsultasikan ke Polda Jabar. “Saya masih konsultasikan,” tukasnya. (ent)


Polwan Bogor Ini Tidur Diatas Motor Berjalan




ENTER BOGOR – Aksi free style biasanya dilakukan kaum lelaki diatas motor gede, namun ternyata aksi ini juga bisa dilakukan kaum perempuan. Satu regu brigade motor Polwan Polda Metro Jaya mampu membuat decak kagum penonton dengan aksi berbahaya diatas motor gede yang tengah melaju. 

Lihat saja aksi Iptu Christin ini, dengan berani Christin tiduran diatas motor besar yang tengah melaju kencang. Bahkan tak hanya tiduran, Christin juga mengangkat kakinya tegak lurus beberapa saat sebelum kembali mengemudikan kendaraanya.

Aksi lain, para polwan ini juga melakukan adegan bebas dengan bersilang kaki diatas motor. Tak hanya itu mereka juga mengemudikan motor dari samping dalam kecepatan lambat, aksi yang cukup berbahaya karena bisa membuat jatuh. 

Hebatnya lagi, satuan Brigade Motor Polwan Polda Metro Jaya ini ternyata merupakan satu satunya kesatuan kepolisian wanita di dunia yang mampu melakukan aksi bebas diatas motor sehingga menyabet rekor MURI.Para wanita berani ini rutin berlatih setiap minggu, disela-sela aktivitas kedinasan sehari-hari. (ent)

Jelang MEA, Bogor Harus Jadi Daerah Pelajar



ENTER BOGOR – Bogor merupakan daerah sejuk, damai dan tenang sangat tepat menjadi daerah pelajar. Hal ini disampaikan Dekan FKIP Universtas Muhammadiyah (Uhamka) Jakarta, Edy Supardy pada seminar nasional pendidikan di GOR Muhammadiyah Leuwiliang, Selasa (1/3/2016).

“Muhammadiyah Bogor sudah bagus sekali dalam menata pendidikan. Saya kira kalau dikelola dengan sistim dan kebijakan pemerintah yang baik saya kira Bogor cepat akan jadi daerah pendidikan,”kata Edy yang juga Wakil ketua Pimpinan Muhammadiyah DKI Jakarta.

Apalagi jelang Masyarakat Ekonomi ASEAM (MEA) jika Kabupaten Bogor tidak mempersiapkan tenaga didik dengan baik dari sekarang makaakan tersingkir oleh yang lain. Edy menegaskan perlunya semua pihak bergandengan tangan, jangan membiarkan berjalan sendirian masing masing. (ent)

Steak 21 Hadir di Cibinong City Mall




 BOGOR – Steak 21 membuka 2 cabang di Bogor. Satu  yang baru beroperasi akhir pekan lalu adalah di Cibinong City Mall (CCM).

Manager Operasional Steak 21 CCM, Rahayu mengatakan, ini merupakan cabang ke 35 di seluruh Indonesia dan ke 2 di Bogor setelah Botani Square.
“Tak berbeda dengan cabang lain. Menu utama tetap steak ditambah menu lain, ada burger, nasi goreng, masih banyak menu lain,” ungkap Rahayu kepada Radar Bogor, Senin (29/02/2016).

Ada 200 menu baik makanan maupun minuman yang tersedia. Walaupun banyak resto yang menyediakan menu utama steak, khusus di steak 21 berbeda dengan steak di resto lain. Ada 4 saos, yakni creamy atau mayonise, black paper, mushroom, BBQ, dan brown saos.

“Kalau di tempat lain itu pilih saos apa yang disukai, tapi kami sajikan semua, pembeli bisa menikmati semua saos,” terang Ayu, sapaan Rahayu.

Pemakaian saos sebanyaknya mungkin tidak dikenakan biaya. Disiapkan juga beberapa jenis paket dengan harga terjangkau. Paket combo 1-6 dan supreme 1- 5. Tiap pilihan paket menu akan diberikan free nasi, salad, kentang goreng.

“Pilihan steak daging, ikan atau ayam,” terangnya. Sejauh ini yang favorite dan spesial, selain tendorloin steak tanpa lemak, juga rib eye kualitas impor dengan daging lembut. Harga menu bervariasi dan Ayu memastikan terjangkau untuk semua kalangan.

Varian steak dibanderol mulai Rp43.000 dengan pilihan ukuran berat 150 gram dan 200 gram. Tiga bulan pertama ini, pihaknya tahap perkenalan.
“Target omset belum ada. Pengunjung tiap hari sebanyaknya,” ungkap Ayu.
Menurutnya, tiga hari pertama buka, traffik pengunjung cukup baik dan diatas target yang ditetapkan perusahaan. Diharapkan jumlah pengunjung naik 10 persen dari total seluruh pengunjung mal.

Steak 21 tak hanya terhenti di CCM saja, direncanakan ada penambahan beberapa cabang baru di seluruh Indonesia. Di Bogor dalam waktu dekat ini kembali dibuka cabang baru di Lippo Plaza Mall, Sukasari. (ent)

Bangunan Rawan Longsor di Kabupaten Bogor Belum Didata





BOGOR – Cuaca ektrim hujan deras di Kabupaten Bogor yang telah beberapa hari ini juga melanda kawasan wisata Puncak, dikhawatirkan masyarakat akan berdampak terjadinya bencana alam longsor. Mengingat tak sedikit bangunan liar yang berdiri di lahan resapan air.
 
“Sekarang semakin banyak bangunan di lahan resapan air dan di tebingan. Maka air hujan yang mengguyur Puncak langsung turun ke sungai, sangat dikhawatirkan terjadi musibah tanah longsor,” ujar Ketua LSM Rumpun Hijau Cisarua, Sunyoto kepada Radar Bogor, Senin (29/02/2016).

Dengan fenomena tersebut, Sunyoto sebagai warga asli Desa Batulayang itu mengharapkan pemerintah Kabupaten Bogor untuk dapat mengambil tindakan, untuk pencegahan terjadinya peristiwa bencana tersebut.

“Sampai saat ini belum pendataan bangunan rawan longsor. Harusnya Pemkab Bogor sudah mendata seluruh rumah atau bangunan yang rawan longsor itu. Dan bisa mengambil tindakan tegas kepada bangunan – bangunan yang melanggar seperti berdiri di kawasan resapan air,” harap Sunyoto.

Pasalnya belakang ini diakuinya, cuaca hujan di kawasan Puncak Cisarua cukup mengerikan bagi masyarakat yang tinggal di daerah tebingan.

“Mereka tidak bisa berbuat apa-apa tanpa adanya perhatian serta tindakan dari pemerintah. Jadi jangan sampai tunggu ada korban,” pungkas Sunyoto.

Sementara penjaga pintu Bendungan Cibalok Gadog, Nazar mengakui bahwa ketinggian muka air yang melintas saat ini semakin meningkat. Hingga terkadang membanjiri bantaran sungai.

“Sekarang ketinggian mencapai 20 sentimeter, dan sempat air sungai meluap jika hujan turun terus menerus,” kata Nazar.(ent)

Guru Harus Paham 4 Pilar Kebangsaan



BOGOR – Guru sangat penting memahami 4 pilar kebangsaan karena guru
adalah pendidik utama di sekolah.
 
“Guru kan yang mengajarkan semua generasi mulai dari anak hinga remaja, jadi dia harus
tahu duluan, kalau guru tidak tahu 4 pilar, berarti permasalahan idiologi kita terus
berlajut,”kata Wakil Ketua Badan Pengkajian MPR RI , Tb. Soenmandjaja saat sosialisasi4
pilar kebangsaan bersama Kesbangpol Kabupaten Bogor di aula serbaguna 1, Kantor Bupati
Bogor, Sening (292/2016).

Pada sosialisasi yang dihadiri oleh guru, OKP, Ormas, LSM dan beberapa SKPD di lingkungan
Pemerintan Kabupaten (Pemkab) Bogor itu, Soemandjaja mengaku sewaktu pemerintahan
Presiden SBY, ia sudah pernah berbicara dengan menteri pendidikan, untuk melanjutkan
pendidikan P4 yang membahas 4 pilar kebangsaan. Dan setelah pergantian Presiden Jokowi
masih mempertahangkan 4 pilar jadi guru wajib tahu.(ent)

Tuesday, 1 March 2016

Dirtek PDAM Tirta Pakuan Bogor Jadi PJS Dirut Oleh Bima Arya



BOGOR – Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto secara resmi telah memberhentikan secara permanent Dirut PDAM Tirta Pakuan kota Bogor, Untung Kurniadi melalui SK Walikota Bogor No. 880.45-20 tahun 2016 tentang Pemberhentian Dengan Hormat Saudara Untung Kurniadi.

Walikota lalu  menunjuk Deni Surya Senjaya yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Teknik (Dirtek) PDAM Tirta Pakuan menjadi Pejabat Sementara (PJS). Penunjukan Deni sebagai PJS Dirut PDAM Ini tertuang dalam SK No.821.45-21 Tahun 2016 tentang Penunjukan Saudara H.Deni Surya Senjaya, ST., MM jabatan Direktur Teknik PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor sebagai pejabat sementara Direktur Utama PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor

“Saya harap, kepada PJS Dirut PDAM, Bapak Deni dapat membangun suasana kerja yang kondusif, dan semua bisa fokus kembali pada kerjaannya masing-masing,” katanya Bima Arya

Sementara itu, PJS Dirut PDAM, Deni Surya Senjaya mengatakan, penunjukan dirinya sebagai pejabat sementara adalah amanah.

“Bagi saya jabatan adalah suatu amanah, kita tidak bisa eforia dengan suatu jabatan, bahwa jabatan adalah tanggung jawab yang berat,” ujar Deni.

Deni pun akan fokus kepada pembenahan suasana yang sejak 3 pekan lalu tidak kondusif.

“Jangka pendek saya adalah soal gaji karyawan yang belum dibayarkan,"tandasnya. (ent)

Warga di Kabupaten Bogor Terus Perangi DBD




BOGOR – Asap putih mengepul di Mapolsek Cileungsi, Minggu (28/2/2016). Namun, asap ini bukan berasal dari kebakaran, melainkan hasil pembakaran insektisida, malathion dan solar dari moncong alat pengasapan alias fogging.
 
“Ini sedang dilakukan fogging. Selain rumah warga, polsek sendiri tak luput dari foging karena berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes Aegepty,” ujar Ketua Pelaksana Fogging Federasi Serikat Pekerja Indonesia (FSPIN), Edy Purwanto, kepada enter bogor,, Minggu (28/02/2016).

Selain Mapolsek Cileungsi, sejumlah tempat yang menjadi sarang nyamuk aedes aegepty pun diasapi. Seperti Pondek Pesantren dan pemukiman warga di Kecamatan Cileungsi.

“Pondok pesantren yang memiliki banyak santri menjadi sasaran fogging, karena rentan terhadap penyakit DBD,” ujar Edy.

Sementara itu, Kepala Medis RSUD Cileungsi, dr Afrizal menuturkan, fogging salah satu pencegahan yang familiar di masyarakat. Namun, agar fogging efektif, dosis malathion dan solar yang mngeluarkan asap  harus tepat sasaran.
Jika dosisya tepat, akan mampu membunuh nyamuk.

“Dosisnya harus tepat. Jika tidak, nyamuk hanya pingsan kemudian hidup lagi dan bisa kebal terhadap racun serangga sejenis,” tandas Afrizal.(ent)

Jaga Kualitas Internal, Kemenpar Gelar Rakor



BOGOR,Menpar Arief Yahya sudah menetapkan WIN-Way atau spirit Wonderful Indonesia Way, yang meliputi 3S. Yakni Speed, Solid, dan Smart. Nilai-nilai itulah yang menjadi salah satu materi dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Kepegawaian di Hotel Royal Bogor, 23-24 Februari 2015. ”Kami ingin meningkatkan koordinasi dan sinkronisasi di bidang kepegawaian, agar ada pemahaman yang sama soal aturan kepegawaian dan penyelesaian permasalahan seputar kepegawaian,”ujar Ahman Sya, Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan Kemenpar.
 
Menurut Ahman, peserta Rakor adalah pengelola kepegawaian, tata usaha yang menangani kepegawaian di lingkungan Kemenpar. Lebih lanjut pria yang pernah menempuh pindidikan S2 di Belgia itu dengan adanya perubahan nomenklatur dari Kemenpar dan Ekonomi Kreatif menjadi Kemenpar, perlu ada penyesuaian tugas dan fungsi terutama dalam hal penyusunan analisis beban kerja.

Adapun nara sumber yang hadir adalah Tripriyo Sudarmanto, yang berbicara tentang analisis beban kerja. Lalu Adam Syafruddin bicara terkait Disiplin PNS. “Tentunya yang paling utama adalah bagaimana pegawai kami harus siap menjadi SDM Kemenpar yang siap menyambut wisatawan dengan target kunjungan 12 juta tahun 2016 wisatawan mancanegara dan 260 juta wisatawan nusantara, dan harus siap juga di tahun 2019, 20 juta Wisman dan 275 juta Wisnus,” tandas Ahman.

Karena spirit kerja yang sudah disampaikan Menteri Pariwisata Arief Yahya itu harus segera dijalankan. Bekerja harus cepat, atau mengandalkan speed. “Karena di era cultural industry saat ini, bukan yang besar mengalahkan yang kecil, tetapi yang cepat memakan yang lambat,” kata Ahman Sya, yang menyebut saat ini ada semangat baru di Kemenpar. Yakni bekerja tuntas dengan cepat, sebagaimana perusahaan multinasional, tetapi system administrasi tetap tertib.

Dia juga menyebut bekerja sebagai PNS itu juga harus solid, kompak, membangun Indonesia Incorporated. Tidak ego sektoral, tidak mau menonjol sendiri sehingga mengorbankan kepentingan negara yang lebih luas.
“Dan harus smart, harus pintar di tengah persaingan global,” kata Ahman Sya.(ent)

Yuhu… Para Pemain Comic 8: Casino Kings Part 2 Bakal Sambangi Bogor




BOGOR – Pecinta film komedi action, akan dimanjakan dengan film Comic 8: Casino Kings Part 2. Penonton akan dibuat terkagum, dengan efek visualnya.
 
Film ini menampilkan 50 artis kenamaan Indonesia. Mereka benar-benar menunjukkan kebolehan aktingnya. Meskipun para artis ini kadang hanya jadi figuran semata. Kolaborasi artis lintas usia membuat film tersebut hidup.
“Rencananya, tanyang Kamis (3/3/2016),” ujar Marketing Platinum Cineplex Cibinong Square, Gloria Kamiharja kepada Radar Bogor.

Bahkan, untuk memuaskan para penggemar pihaknya akan dilakukan meet and greet, Senin (7/3) dengan para pemain Comic 8: Casino Kings Part 2.
“Belum tayang saja, sudah banyak yang menanyakan,” ujarnya.(ent)

Awas Ibu, Ada 'Katak' di Susu Kotak!



BANDUNG-Bersikap selektif memilih produk penganan, tak menjamin si buah hati terbebas dari bahan berbahaya. Seperti yang dirasakan Rini Tresna Sari (46), pelanggan setia sebuah produk susu ultra-high tem­per­ature processing (UHT) ke­masan. Putri kesayangan Rini yang berusia 7 tahun, harus dila­rikan ke RS Advent Bandung karena keracunan usai mengon­sumsi susu UHT kemasan.

Pada screenshot percakapan WhatsApp yang beredar di ber­bagai di media sosial, akun 'Mom Arin' menjelaskan awal keja­dian yang menimpa putrinya itu. Disebutkan, sang putri pada Rabu 27 Januari 2016, sekitar pukul 12.00 WIB, meminum susu ultra rasa cokelat kemasan 200 ml.

"Arrien mengeluh susunya habis, padahal dalam kemasan masih banyak isinya. Segera saya perhatikan, saya ambil kemasan, saya teteskan ke mulut saya, hanya keluar setetes. Namun saya shake (goyang) kemasan, terasa betul masih berisi dan berat," papar tulisan tersebut.

Penasaran, Rini kemudian berlari ke dapur dan mengambil pisau, lantas membelah kemasan susu. Betapa terkejutnya Rini ketika melihat isi di dalam kemasan dengan tanggal kedalu­warsa 23 Agustus 2016 itu.

"Benda berwarna pucat berbentuk simetris menyerupai organ katak/kodok dari pinggang ke bawah. Panjang sekitar 8-10 sentimeter, lebar 6-8 sentimeter," ungkapnya.

Tak berapa lama, putri Rini mengalami gejala gatal hebat di bibir, gusi bengkak, mual, demam, pusing, dan lemas hingga susah untuk berjalan. Bergegas Rini membawa sang putri ke rumah sakit untuk mendapat perawatan intensif.

Kasus ini pun rupanya telah ditangani Himpunan Lembaga Konsumen Indonesia (HLKI) Jawa Barat-Banten-DKI. HLKI menerima aduan dari Rini, melaporkan adanya benda diduga mirip kaki kodok dalam susu kemasan yang diminum anaknya. "Yang bersangkutan sudah melapor ke kami dan sekarang sedang ditangani. Laporan ke kami itu masuk pada 11 Februari," kata Ketua Umum HLKI Jawa Barat Banten DKI, Firman Turmantara, kepada pewarta.

Menurutnya, Rini sudah melaporkan kejadian itu pada perusahaan tersebut pada 27 Januari atau di hari yang sama saat anaknya meminum susu tersebut. Benda yang diduga kaki kodok itu pun sudah dibawa oleh perwakilan perusahaan untuk diteliti.

Rini menginginkan adanya penjelasan dari pihak perusahaan. Sebab, ada benda ganjil dalam kemasan susu tersebut. Apalagi, anaknya kemudian keracunan hingga susah untuk berjalan.Tapi, tidak ada jawaban me­muaskan dari pihak perusahaan. Rasa penasaran pun makin besar.

Pihak perusahaan pun sempat menawarkan kompensasi. Tapi, Rini menolak. Sebab, Rini ingin mengetahui pasti benda apa yang ada dalam susu tersebut, termasuk apakah sakitnya sang anak karena ada hubungannya dengan benda itu atau tidak."Konsumen (Rini) bukan menuntut ganti rugi. Tapi, beliau penasaran kenapa anaknya bisa dirawat sampai lima hari di rumah sakit. Beliau enggak berpikir soal uang," jelas Firman.

Kasus itu pun kini terus bergulir dan diteruskan ke Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) untuk diproses hingga persidangan, Senin (29/2) kemarin. Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung telah melakukan pemeriksaan ke produsen susu kemasan yang ditemukan benda menyerupai kaki katak. Sengketa kasus ini akan diselesaikan secara arbritase. 

Kepala BBPOM Bandung, Abdul Rahim mengatakan, pengecekan terhadap pengolahan susu kemasan itu dilakukan pada 9 Februari 2016 setelah pihaknya mendapatkan pengaduan dari suami yang bersangkutan. Hasil dari pemeriksaan, BBPOM tidak menemukan ada kejanggalan dari produsen. 

"Kami langsung melihat ke sana dan proses pengolahan susunya berjalan dengan baik. Tidak ada masalah," kata Abdul kepada wartawan.

Abdul menyebutkan, pihaknya tidak menemukan sesuatu yang menyebabkan terkontaminasinya susu kemasan tersebut. BBPOM juga mengecek produk susu kemasan dengan kode batch (produksi) yang sama. 

Menurut dia, pihaknya tak menemukan benda aneh di dalam bungkus susu kemasan dengan kode batch yang sama dengan milik Rini. Semuanya masih sesuai dengan standar produksi pangan yang baik.

Alhasil, ujar dia, pihaknya belum bisa memastikan jenis benda yang ditemukan Rini di dalam bungkus susu kemasan miliknya. Untuk memastikannya, perlu ada sampel dari susu yang menyebabkan anak Rini keracunan. "Kami tidak lihat langsung sampelnya, kalau lihat langsung bisa saja kami melakukan pengujian terhadap benda tersebut," ujarnya.

Terpisah, pihak PT Ultrajaya Milk Industry and Trading Company (ULTJ) mengaku sudah melakukan penelitian spesimen menyerupai kaki katak yang berada di dalam susu cair kemasan kotak yang diminum bocah 7 tahun asal Bandung tersebut. Hasilnya, spesimen itu merupakan endapan lemak susu. "Spesimen itu merupakan endapan dari lemak susu. Jadi, bukan kategori hewan," kata Sonny Lunardi selaku kuasa hukum PT ULTJ usai menghadiri prasidang sengketa konsumen berkaitan persoalan tersebut, di kantor BPSK Kota Bandung, Jalan Matraman, Senin (29/2).

Dia menegaskan, selama ini produk susu Ultra cair kemasan yang diproduksi PT ULTJ ini tidak menggunakan bahan pengawet. "Jadi, sangat sensitif," ucap Sonny.

Apa penyebab terjadinya endapan lemak susu yang bentuknya mirip gumpalan daging itu? "Kemungkinan, kami menduga ada kebocoran (kemasan) di tingkat distribusinya. Bukan kebocoran dari pabrik. Itu pun kan sudah dicek langsung oleh BPOM," ujarnya.

Sonny mengatakan, endapan lemak susu itu bisa saja berbahaya dikonsumsi karena mengandung bakteri. Namun, sambung dia, kondisi tersebut sulit dibuktikan karena endapan sudah terbuka dari kema­sannya.

"Pada saat anak itu mengon­sumsi, berdasarkan keterangan ibunya ke customer PT ULTJ, itu sedang dalam keadaan sakit radang. Jadi, sakit radang ini sudah pasti secara kedokteran, mungkin, ada bakteri atau virus," katanya.

Sonny mengklaim, pengujian spesimen oleh PT ULTJ waktu itu tidak melihat adanya bakteri karena pada saat dibawa ke kantor sudah mengering atau mengeras. "Pihak kami hanya memastikan apa sih gumpalan itu. Ternyata itu gumpalan lemak dan protein susu," ucap Sonny.

Dia menjelaskan, satu produk susu cair kemasan kotak atau dus berisi gumpalan yang diminum seorang anak perempuan itu kedaluwarsanya pada 23 Agustus 2016. "Jadi, kemasan itu rusak atau bocor, tapi memang (isi cairan susu) tidak keluar. Sepanjang tidak ada kebocoran, enggak ada masalah. Sekecil apa pun lubang bocornya, produk Ultra ini sensitif," tutur Sonny.

"Kalau menemukan kemasan berkondisi rusak, penyok atau bocor, kami imbau konsumen untuk tidak membeli," kata Sonny.BANDUNG-Bersikap selektif memilih produk penganan, tak menjamin si buah hati terbebas dari bahan berbahaya. Seperti yang dirasakan Rini Tresna Sari (46), pelanggan setia sebuah produk susu ultra-high tem­per­ature processing (UHT) ke­masan. Putri kesayangan Rini yang berusia 7 tahun, harus dila­rikan ke RS Advent Bandung karena keracunan usai mengon­sumsi susu UHT kemasan.


Pada screenshot percakapan WhatsApp yang beredar di ber­bagai di media sosial, akun 'Mom Arin' menjelaskan awal keja­dian yang menimpa putrinya itu. Disebutkan, sang putri pada Rabu 27 Januari 2016, sekitar pukul 12.00 WIB, meminum susu ultra rasa cokelat kemasan 200 ml.


"Arrien mengeluh susunya habis, padahal dalam kemasan masih banyak isinya. Segera saya perhatikan, saya ambil kemasan, saya teteskan ke mulut saya, hanya keluar setetes. Namun saya shake (goyang) kemasan, terasa betul masih berisi dan berat," papar tulisan tersebut.


Penasaran, Rini kemudian berlari ke dapur dan mengambil pisau, lantas membelah kemasan susu. Betapa terkejutnya Rini ketika melihat isi di dalam kemasan dengan tanggal kedalu­warsa 23 Agustus 2016 itu.

"Benda berwarna pucat berbentuk simetris menyerupai organ katak/kodok dari pinggang ke bawah. Panjang sekitar 8-10 sentimeter, lebar 6-8 sentimeter," ungkapnya.

Tak berapa lama, putri Rini mengalami gejala gatal hebat di bibir, gusi bengkak, mual, demam, pusing, dan lemas hingga susah untuk berjalan. Bergegas Rini membawa sang putri ke rumah sakit untuk mendapat perawatan intensif.

Kasus ini pun rupanya telah ditangani Himpunan Lembaga Konsumen Indonesia (HLKI) Jawa Barat-Banten-DKI. HLKI menerima aduan dari Rini, melaporkan adanya benda diduga mirip kaki kodok dalam susu kemasan yang diminum anaknya. "Yang bersangkutan sudah melapor ke kami dan sekarang sedang ditangani. Laporan ke kami itu masuk pada 11 Februari," kata Ketua Umum HLKI Jawa Barat Banten DKI, Firman Turmantara, kepada pewarta.

Menurutnya, Rini sudah melaporkan kejadian itu pada perusahaan tersebut pada 27 Januari atau di hari yang sama saat anaknya meminum susu tersebut. Benda yang diduga kaki kodok itu pun sudah dibawa oleh perwakilan perusahaan untuk diteliti.

Rini menginginkan adanya penjelasan dari pihak perusahaan. Sebab, ada benda ganjil dalam kemasan susu tersebut. Apalagi, anaknya kemudian keracunan hingga susah untuk berjalan.Tapi, tidak ada jawaban me­muaskan dari pihak perusahaan. Rasa penasaran pun makin besar.

Pihak perusahaan pun sempat menawarkan kompensasi. Tapi, Rini menolak. Sebab, Rini ingin mengetahui pasti benda apa yang ada dalam susu tersebut, termasuk apakah sakitnya sang anak karena ada hubungannya dengan benda itu atau tidak."Konsumen (Rini) bukan menuntut ganti rugi. Tapi, beliau penasaran kenapa anaknya bisa dirawat sampai lima hari di rumah sakit. Beliau enggak berpikir soal uang," jelas Firman.

Kasus itu pun kini terus bergulir dan diteruskan ke Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) untuk diproses hingga persidangan, Senin (29/2) kemarin. Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung telah melakukan pemeriksaan ke produsen susu kemasan yang ditemukan benda menyerupai kaki katak. Sengketa kasus ini akan diselesaikan secara arbritase. 

Kepala BBPOM Bandung, Abdul Rahim mengatakan, pengecekan terhadap pengolahan susu kemasan itu dilakukan pada 9 Februari 2016 setelah pihaknya mendapatkan pengaduan dari suami yang bersangkutan. Hasil dari pemeriksaan, BBPOM tidak menemukan ada kejanggalan dari produsen. 

"Kami langsung melihat ke sana dan proses pengolahan susunya berjalan dengan baik. Tidak ada masalah," kata Abdul kepada wartawan.

Abdul menyebutkan, pihaknya tidak menemukan sesuatu yang menyebabkan terkontaminasinya susu kemasan tersebut. BBPOM juga mengecek produk susu kemasan dengan kode batch (produksi) yang sama. 

Menurut dia, pihaknya tak menemukan benda aneh di dalam bungkus susu kemasan dengan kode batchyang sama dengan milik Rini. Semuanya masih sesuai dengan standar produksi pangan yang baik.

Alhasil, ujar dia, pihaknya belum bisa memastikan jenis benda yang ditemukan Rini di dalam bungkus susu kemasan miliknya. Untuk memastikannya, perlu ada sampel dari susu yang menyebabkan anak Rini keracunan. "Kami tidak lihat langsung sampelnya, kalau lihat langsung bisa saja kami melakukan pengujian terhadap benda tersebut," ujarnya.

Terpisah, pihak PT Ultrajaya Milk Industry and Trading Company (ULTJ) mengaku sudah melakukan penelitian spesimen menyerupai kaki katak yang berada di dalam susu cair kemasan kotak yang diminum bocah 7 tahun asal Bandung tersebut. Hasilnya, spesimen itu merupakan endapan lemak susu. "Spesimen itu merupakan endapan dari lemak susu. Jadi, bukan kategori hewan," kata Sonny Lunardi selaku kuasa hukum PT ULTJ usai menghadiri prasidang sengketa konsumen berkaitan persoalan tersebut, di kantor BPSK Kota Bandung, Jalan Matraman, Senin (29/2).

Dia menegaskan, selama ini produk susu Ultra cair kemasan yang diproduksi PT ULTJ ini tidak menggunakan bahan pengawet. "Jadi, sangat sensitif," ucap Sonny.

Apa penyebab terjadinya endapan lemak susu yang bentuknya mirip gumpalan daging itu? "Kemungkinan, kami menduga ada kebocoran (kemasan) di tingkat distribusinya. Bukan kebocoran dari pabrik. Itu pun kansudah dicek langsung oleh BPOM," ujarnya.

Sonny mengatakan, endapan lemak susu itu bisa saja berbahaya dikonsumsi karena mengandung bakteri. Namun, sambung dia, kondisi tersebut sulit dibuktikan karena endapan sudah terbuka dari kema­sannya.

"Pada saat anak itu mengon­sumsi, berdasarkan keterangan ibunya ke customer PT ULTJ, itu sedang dalam keadaan sakit radang. Jadi, sakit radang ini sudah pasti secara kedokteran, mungkin, ada bakteri atau virus," katanya.

Sonny mengklaim, pengujian spesimen oleh PT ULTJ waktu itu tidak melihat adanya bakteri karena pada saat dibawa ke kantor sudah mengering atau mengeras. "Pihak kami hanya memastikan apa sih gumpalan itu. Ternyata itu gumpalan lemak dan protein susu," ucap Sonny.

Dia menjelaskan, satu produk susu cair kemasan kotak atau dus berisi gumpalan yang diminum seorang anak perempuan itu kedaluwarsanya pada 23 Agustus 2016. "Jadi, kemasan itu rusak atau bocor, tapi memang (isi cairan susu) tidak keluar. Sepanjang tidak ada kebocoran, enggak ada masalah. Sekecil apa pun lubang bocornya, produk Ultra ini sensitif," tutur Sonny.

"Kalau menemukan kemasan berkondisi rusak, penyok atau bocor, kami imbau konsumen untuk tidak membeli," kata Sonny.(ric/net)