Banner 1

Thursday, 22 February 2018

Beras Hasil Panen Belum Beredar


JAKARTA–Harga beras perlahan mulai menunjukkan tren penurunan. Harga rata-rata di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), beras medium berada di kisaran Rp11.188 per kilogram (kg).

Banderol harga itu berarti turun 1,8 persen dari bulan lalu. Hanya saja, harga tersebut masih berada di atas harga eceran tertinggi (HET) di level Rp9.450 per kg. ”Kami melihat secara tren mulai perlahan turun,” tutur Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita di Jakarta, kemarin (20/2).

Enggar memaklumi harga beras masih belum sesuai HET. Itu karena harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani masih tinggi. Pasalnya, meski panen telah dilakukan tetapi belum bisa mencukupi kebutuhan secara nasional.

Berdasar data Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi), harga GKP bervariasi, mulai dari Rp4.200 per kg di Blora, Jawa Tengah, dan Rp5.100 pada sejumlah wilayah di Jawa Barat.

Menurut Enggar, kalau harga GKP berada di kisaran Rp4.400 per kg, maka harga beras akan berada di level Rp8.800 per kg. Dengan begitu, tinggal menyisakan sedikit margin kalau dipaksa dan ditekan sesuai HET di posisi Rp9.450 per kg.

Pemerintah telah menaikkan fleksibilitas harga pembelian pemerintah (HPP) bagi Perum Bulog. HPP Bulog akan ditambah dengan fleksibilitas 20 persen. Meski begitu, fleksibilitas dinilai belum efektif mengerek penyerapan Bulog. ”Penyerapan Bulog tergantung suplai,” terang Enggar.

Sementara itu, Ketua Umum Perpadi Soetarto Alimoeso menyebut harga gabah masih tinggi. Itu karena panen belum maksimal. Kondisi itu diperparah dengan curah hujan masih terus mengguyur sentra-sentra padi. ”Jadi, beras beredar hasil produksi tahun lalu. Dengan begitu, hasil panen saat ini butuh proses untuk bisa dipasarkan,” urai Soetarto.

Ia juga mengatakan jika harga GKP di Jawa Barat mencapai Rp5.100-5.200 per kg. Tingginya harga GKP juga karena gabah yang dijual saat ini merupakan gabah hasil panen pada 2017. Pasalnya, saat ini musim penghujan, petani masih mengeringkan hasil panennya. ”Jadi, harus bertahap,” imbuhnya.

Direktur Utama Food Stastion Tjipinang Arief Prasetyo Adi menambahkan, pihaknya mendapat jaminan dari Kemendag. Artinya, sebagai pelaku pasar, akan selalu mendapat pasokan secara berkala dari berbagai daerah. ”Pasokan tidak akan terhenti. Minggu ini 7 ribu ton,” ucapnya.(far)

sumber :Radar Bogor

Related Posts:

  • KRB Bersolek, Butuh 200 Personel Baru BOGOR–RADAR BOGOR, Menjadikan Kebun Raya Bogor (KRB) lebih kekinian, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) selaku pengelola KRB akan meningkatkan daya tarik sebagai lokasi berfoto bagi pengunjung.Permintaan tersebut bu… Read More
  • 80 Siswa Datang Terlambat BOGOR–RADAR BOGOR, Tak hanya terlambat, kemacetan di jalur proyek tol BORR juga kerap membuat siswa memilih bolos sekolah. Keterlambatan dan ketidakhadiran ini tercatat meningkat 8 hingga 10 persen.Seperti pengakuan dari K… Read More
  • Simpang Cileungsi Makin Krodit Berkendara di Jalan Raya Transyogi harus ekstrasabar. Terlebih saat melintasi simpang Cileungsi. Tepatnya di bawah flyover Cileungsi, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor. Ya, kemacetan krodit kini menjadi makanan sehari-h… Read More
  • Masih Sering Tidur Satu Kasur Segudang agenda sebagai kepala daerah cukup banyak menyita waktu Bima Arya. Karena itu, Bima benar-benar memanfaatkan waktu berkumpul bersama keluarga. Entah itu sekadar jalan-jalan, wisata kuliner atau ngobrol kecil di ha… Read More
  • JLD Bakal Dibangun Lagi Tak lama lagi kelanjutan proyek Jalan Lingkar Dramaga (JLD) akan terlihat jelas. Musababnya, Dinas PUPR Kabupaten Bogor meng­gulirkan dana sebesar Rp36,2 miliar.Pembangunan jalan terbagi ke dalam dua tahap. Untuk Seksi I m… Read More

0 komentar:

Post a Comment