Banner 1

Thursday, 6 October 2016

Dapat Salawat Tuyul, Santri Dimas Kanjeng Asa Tegalgubug Cirebon Ini Setia pada Junjungannya


POJOKJABAR.id, CIREBON – Adalah Makhdzlor (62), warga Blok Kapling, Desa Tegalgubug, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat yang menjadi salah seorang pengikut ajaran Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Probolinggo, Jawa Timur. Hingga saat ini, “santri” Dimas Kanjeng itu meyakini bahwa junjungannya itu sakti dan bisa melipat gandakan uang yang telah dia setorkan.

Meskipun tidak melihat secara langsung proses penarikan uang gaib, namun Makhdzlor percaya bahwa proses itu benar-benar terjadi. Dikatakan, uang yang ditarik oleh gurunya tersebut tidak bisa langsung dipakai karena harus menunggu rentang waktu tertentu yang tidak bisa dipastikan.
 
“Jadi uang yang ditarik itu asli, cuma masih proses, belum sempurna. Nah untuk sempurna itu butuh waktu. Jadi uangnya harus disimpan, menunggu kehendak Allah. Kalau kata Allah besok, ya besok. Tapi  kalau kata Allah 10 tahun lagi, ya 10 tahun lagi. Tinggal kita nunggunya ikhlas atau enggak, begitu saja,” jelas Makhdzlor saat diwawancarai Radar Cirebon (Pojokjabar.id grup), Minggu (2/10/2016).

Makhdzlor mengaku tidak pernah membeli ataupun mengetahui barang-barang yang konon dijual oleh Dimas Kanjeng, salah satunya pulpen laduni. Dia mengaku hanya diberi amalan dan bacaan doa yang nantinya diamalkan. Salah satunya salawat tuyul. Dikatakan, salawat tuyul hanyalah istilah.

Amalan atau bacaannya sedikit, tapi manfaat atau hasilnya banyak. “Ada juga yang disebut salawat fulus. Ini hanya istilah, bacaannya pun sama,” tuturnya.

Dia juga mengklarifikasi bahwa jumlah santri dari Dimas Kanjeng di wilayahnya tidak lebih dari 20 orang. Para santri itu aktif di pengajian rutin malam minggu yang digagas sang koordinator pada tahun 2011 silam.

“Kita ada pengajian rutin setiap malam minggu. Kalau kumpul paling banyak ya tidak lebih dari 20 orang. Itu pun mayoritas keluarga semua,” ujarnya.

Ia dan sejumlah santri pun tak setiap waktu ke Probolinggo. Hanya saat-saat tertentu saja, terutama saat ada istigosah di Padepokan Dimas Kanjeng. “Ke sana kan perjalannya jauh, butuh biaya dan waktu. Tentunya tidak setiap saat. Hanya kalau lagi ada uang lebih, baru ke sana,” imbuhnya.
(RC/izo/pojokjabar).

sumber: pojok jabar

0 komentar:

Post a Comment