Tuesday, 10 April 2018
Home »
bogor raya
» Stop Jual-Beli Tanah Negara, Air Telaga Saat pun Menyusut
Stop Jual-Beli Tanah Negara, Air Telaga Saat pun Menyusut
Daerah tangkapan air (DTA) merupakan wilayah yang berfungsi sebagai penangkap air sementara pada wilayah Puncak dan punggungan suatu daratan.
Wilayah ini dicirikan dengan kemampuannya untuk menahan air dan menyalurkannya ke dalam tanah sebelum dialirkan lagi ke permukaan.
Seperti yang diketahui bersama, di kawasan Puncak, Kecamatan Cisarua terdapat Telaga Saat dan Telaga Warna yang menjadi hulu Sungai Ciliwung. Namun saat ini, penyusutan air di telaga akibat berdirinya bangunan-bangunan membuat sirkulasi menjadi tak teratur.
“Pembongkaran vila di kawasan Puncak nampaknya akan menjadi persoalan yang menyisakan persoalan baru, jika tidak disertai aksi yang menyeluruh,” tegas Dekan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Ernan Rustiadi.
Pasalnya, kata Ernan yang juga tergabung dalam konsorsium penyelamatan kawasan Puncak ini, bahwa pendapatan masyarakat yang tinggal di beberapa kampung di Desa Tugu Utara dan Tugu Selatan Kecamatan Cisarua, hampir sepenuhnya tergantung dari kegiatan menunggu vila.
Tak hanya itu, banyak dari masyarakat yang membuka sambilan sebagai jasa ojek bagi pengunjung vila.Termasuk jual-beli tanah-tanah negara yang melibatkan oknum-oknum yang memiliki kewenangan.
“Solusi pelanggaran tata ruang dan penertiban bangunan liar harus bergerak ke arah hulu atau akar masalah. Seperti menertibkan praktik jual-beli tanah negara. Masyarakat setempat memerlukan informasi yang transparan dan jelas mengenai tanah negara yang ada di kawasannya,” serunya.
Selain itu, harus adanya kejelasan batas-batas tanah berstatus kawasan hutan negara, tanah perkebunan serta peruntukan rinci menurut ketentuan tata ruang. Hal itu dinilai bakal menjadi pijakan para pihak di dalam mengelola kawasan Puncak.
“Yang lainnya adalah menumbuhkan alternatif lapangan pekerjaan yang produktif dan bermartabat bagi masyarakat lokal.
Mereka perlu didukung agar memiliki akses dan kapasitas dalam mengelola begitu besarnya potensi sektor wisata dan pertanian di kawasan Puncak,” tukasnya.
Sumber : radarbogor.id
Related Posts:
Guru Bogor Bisa Ngajar di Thailand Dua siswi menampilkan kebolehan tarian adat Sunda di hadapan orang-orang asing yang baru saja turun dari minibus. Melalui tarian itu, ia mengangsurkan kedua tangannya, seraya memberikan salam ucapan selamat datang.Para t… Read More
Kecamatan Tunggu Mediasi Warga Polemik warga Kampung Anyar, Desa Cisarua, Kecamatan Cisarua, yang memprotes berdirinya tower di lingkungan mereka, masih terus berlanjut. Warga yang kesal karena keluhannya seolah dibiarkan, akhirnya mengambil tindakan de… Read More
Pelebaran Puncak Siap Dilelang Perbaikan di jalur Puncak terus digeber. Mulai dari pelebaran jalan hingga relokasi pedagang kaki lima (PKL), semua terus dipercepat. Setelah mengekspose Anjungan Cerdas untuk para pedagang, Kementerian PUPR siap melelang … Read More
Bangun Pintu Perlintasan Liar Dipidana Menjamurnya pintu perlintasan kereta api liar di Kecamatan Parungpanjang mendapat tanggapan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Melalui Humas Daops I Jakarta, Edi Kuswoyo, PT KAI menegaskan akan membongkar pintu-pintu … Read More
PPE Merugi, Bupati Pikir-pikir Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor dibuat pusing dengan nasib salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Bogor, PT. Prayoga Pertambangan Energi (PPE) yang terus merugi.Untuk menyelamatkan perusahaan yang berge… Read More
0 komentar:
Post a Comment