Banner 1

Tuesday, 4 October 2016

Rayakan HUT TNI ke-71, Panglima Tonton Seni Budaya Wayang di TIM


Jakarta - Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan merayakan hari jadinya yang ke-71 pada 5 Oktober 2016. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo merayakannya dengan menggelar pagelaran budaya wayang orang di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat.

Usai acara tersebut, Gatot menyebut bahwa kegiatan itu dilakukan di semua komando utama (kotama). Namun kegiatannya beragam dan melibatkan masyarakat disesuaikan dengan tema TNI yaitu 'Bersama Rakyat, TNI Kuat, Hebat, dan Profesional'.

"Ini di antara lain, TNI melakukan kegiatan dan ini dilakukan di semua kotama, bentuknya bukan wayang, ada yang kulit, ada yang tarian, ada drama kolosal. Di tiap-tiap kotama dan dilakukan bersama-sama dengan masyarakat," kata Gatot di TIM, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (2/10/2016).

Gatot mengatakan saat ulang tahun TNI di tahun 2015, suguhan alat utama sistem pertahanan (alutsista) dipertontonkan. Sedangkan, untuk ulang tahun TNI tahun ini Gatot menyebut kegiatan yang melibatkan masyarakat lebih diutamakan.

"Dan selanjutnya sesuai dengan visi presiden yaitu kita lanjutkan bangsa yang berkepribadian berkebudayaan maka TNI beserta masyarakat, ada budayawan, ada artis, ada anak-anak, ada pemuda. Bersama TNI melaksanakan wayang orang dengan judul Sata Kurawa," kata Gatot.

Gatot menyebut pagelaran wayang orang bertajuk Sata Kurawa dimaksudkan agar kehidupan gotong royong terus menjadi budaya Indonesia.

"Tujuannya adalah bangsa ini bangsa yang hidup dengan cara gotong royong, silakan cari bahasa gotong royong di bahasa lain, tidak ada. Karena bangsa ini adalah bangsa yang mempunyai aliran darah gen patriot. Karena kita dari Sabang sampai Merauke mempunyai tarian perang khas tiap suku dan mempunyai senjata. Maka harus kita kembalikan lagi budaya gotong royong ini untuk mengembalikan bangsa ini," ucapnya.

Tentang cerita Sata Kurawa, Gatot menyebut pemilihan cerita itu menarik dari sisi perdamaian yang harus diwujudkan untuk menghindari peperangan.

"Sata Kurawa ini ceritanya menarik berawal dari karena sakit hati serorang wanita menimbulkan dendam, kemudian bertekad untuk membunuh semua keturunan dari orang yang dia dicintai tapi tidak bisa dia miliki. Dan kemudian dari itu penuh dengan tipu daya. Perang memang penuh dengan siasat tapi yang jelas menyebabkan dendam ini perang Baratayuda, perang yang besar-besaran antara Kurawa dengan Pandawa. Dan akhirnya yang hidup hanya sedikit. Yang akhirnya perang yang menang maupun kalah pasti menderita, dan mengalami kerugian yang berkepanjangan. Untuk itu kita perlu mewujudkan perdamaian agar tidak terjadi perang dan prajurit berperang hanya untuk negara," jelas Gatot.
(dhn/dhn).

sumber: jakarta 

Related Posts:

0 komentar:

Post a Comment