Banner 1

Thursday, 23 March 2017

Gelar ”Kota Hujan” untuk Bogor Kini Malah Defisit Air

 

 BOGOR – Gelar Kota Hujan kini menjadi ironi. Daerah yang mendapat limpahan dari langit nyaris setiap hari ini justru defisit air.

Kondisi ini sangat dirasakan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan yang menggantungkan pasokan dari sungai Cisadane di kota hujan.

Sebentar saja hujan di hulu, mereka kesulitan memproduksi air bersih karena tercampur limbah dan lumpur.

Minggu malam, biasanya Popi Amalia (40), sudah menimbun air dalam tandon besar yang ia siapkan di belakang rumah.

Warga Cimanggu II, Tanahsareal, Kota Bogor, ini rupanya belajar dari pengalaman yang sudah-sudah.

Senin pagi, dimana aktivitas seluruh keluarga sangat padat, pasokan air PDAM justru tersendat-sendat.

“Pernah lagi sibuk, terburu-buru, airnya kecil sekali. Padahal lagi hujan. Kan aneh,” tutur pekerja perbankan swasta di Jakarta ini.

Kondisi tersebut adalah fakta yang sudah pasti terjadi di Kota Bogor. Apa musababnya? Ketika debit air Sungai Cisadane meluap, air yang masuk ke sodetan atau titik pengambilan air bercampur dengan sampah dan lumpur.

“Sodetan itu berada di Desa Ciherang Pondok, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor,” kata Direktur Teknik PDAM Tirta Pakuan, Ade Syaban Maulana.


Menurutnya, dalam kondisi debit sungai yang normal, rata-rata air bersih yang dihasilkan sebesar 1.500 liter per detik, dengan kadar kekeruhan antara 50-70 Nephelometric Turbidity Unit (NTU).

“Itu ketika sedang normal, tapi kalau sedang meluap kekeruhannya bisa meningkat puluhan kali lipat,” jelasnya kepada Radar Bogor.

Menurut Syaban, ketika debit Sungai Cisadane sedang tinggi, kadar kekeruhannya bisa mencapai 2.000 NTU, bahkan 5.000 NTU. Sehingga membuat proses penjernihan yang dilakukan PDAM kian berat.

Nah, ketika kadar kekeruhan sungai cisadane mencapai 1.000 NTU, maka debit air bersih yang dihasilkan akan menurun. Yakni sekitar 1.200 liter perdetik.

“Karena PDAM wajib menjernihkan air sungai menjadi 1 NTU. Air minum yang aman untuk dikonsumsi tingkat kekeruhannya minimal 5 NTU, ambang batas yang ditatapkan Departemen Kesehatan (Depkes) segitu.

Jadi kalau di atas segitu maka tidak layak minum,” terangnya.

Selain kadar kekeruhan, ada juga kadar keasaman yang perlu diperhatikan. Air bersih yang layak diminum memiliki kadar kasaman di atas 6,5 ph.

Sehingga jika air tersebut kadar keasamannya di bawah 6,5 ph, maka tidak layak diminum. Syaban menyebutkan bahwa rata-rata kadar keasaman air yang disalurkan PDAM berkisar 7 ph sampai dengan 8 ph


“Kita juga sedang kejar target 2019 nanti bisa melayani 100 persen masyarakat Kota Bogor, atau 180.000 rumah.

Hingga kini PDAM baru bisa menjangkau 85 persen dari total keseluruhan, yakni sekitar 148.000 rumah. Sehingga masih butuh mengalirkan sekitar 32.000 rumah,” bebernya.

Untuk bisa mencapai target itu, PDAM masih kurang pasokan air sekitar 500 liter per detik. Karenanya PDAM akan menambah pasokan air dari Sungai Ciliwung.

Lokasi pengambilannya berada di Desa Pasir Angin Kecamatan Megamendung Kabupaten Bogor. Sodetan yang bakal mengalirkan air bersih sekitar 300 liter per detik itu akan bisa dimanfaatkan pada 2018 mendatang.

“Tahun ini pembangunannya. Andai saja alirannya mencapai 600 liter per detik, maka akan memenuhi kebutuhan air bersih untuk seluruh warga Kota Hujan,” tukasnya.
(radar bogor/ric/cr3/ded/)
 
sumber:POJOKJABAR.com,

0 komentar:

Post a Comment